My Mother, Her name is Nuraini :)
Biar kutegaskan lagi mengenai sosok ibu. Ibu adalah perempuan mulia yang telah melahirkan kita ke dunia. Selain itu, ada Hadits Nabi yang mengatakan bahwa seorang ibu layak untuk dihormati lebih dulu, baru setelah itu bapak.
Beliau adalah ibuku. Ibu tercinta yang telah menampung dan tetap mengopeniku walau aku sudah berkeluarga. Beliau begitu ikhlas mengurusku dan keluarga kecilku (Suami dan anakku) walau terkadang ada banyak pertentangan dan percekcokan di antara kami. Namun, fungsi sebagai ibu tetap beliau lakoni dengan baik.
Sebagai anak, terkadang aku merasa bersalah karena sampai sekarang aku masih bergantung padanya. Bergantung dalam artian segala sesuatu masih kukonsultasikan lebih dulu pada beliau. Untuk masalah finansial, Alhamdulillah, Aku sudah berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri.:) dan berniat tak ingin membebani beliau dengan masalah keuanganku. Kecuali aku benar-benar membutuhkannya. Dan begitupun sebaliknya.
Ibu, selain menanggungku, Ada adikku yang juga beliau tanggung. Adikku, Ahmad Royhan, masih berstatus santriwan di salah satu pondok yang ada di Kraksaan, Probolinggo.
Ada banyak hal yang telah dilakukan beliau kepadaku. salah satunya: Anjuran untuk segera menikah saat lulus kuliah, padahal kala itu, Aku ingin sekali melanjutkan proses belajarku ke jenjang S2, bukan apa-apa, Aku tak ada niatan untuk merepotkan beliau untuk yang kedua kalinya, aku ingin berusaha sendiri untuk kuliahku yang kedua ini. Namun, Takdir berpihak pada ibuku, dan akupun menikah dengan lelaki yang sekarang disebut Abuya oleh anakku.
Hal yang tak bisa kutafsiri sendiri adalah mengenai syurga yang berada di bawah telapak kakinya, tidak hanya pada sosok perempuan yang bergelar ibu, namun, untuk semua perempuan pilihan yang bergelar Muslimah, yang senantiasa mengabdikan diri pada Ilahi. Tentu saja, itu khusus yang shalehah, then, Shalehahkan dirimu dan raihlah Syurga-Nya.
Selobanteng, 27 April 2019
#BelajarMenulisdiBlog
#PreparingForwritingChallenge30hrdc
