Hari ini adalah hari libur nasional, yang kutahu begitu, karena tanggal merah. Bagiku, tanggal merah atau tidak tetap tak ada libur. Karena aku adalah seorang ibu 24 jam nonstop tanpa tapi. Bismillah semoga kuat, sabar dan ikhlas dalam menjalankan amanah dahsyat ini. Begitupun dengan ibu-ibu di luar sana yang juga berprofesi sama denganku. Aamiin yaa Allah.
Alhamdulillah, selepas Shalat Maghrib, baru bisa menyentuh laptop. Entah mengapa jaringan juga kurang mendukung hari ini. Alhasil, aku tak bisa meluapkan apa yang ada di benak seharian. Ya, pada jam 05:54 ini, Allah berikan kesempatan untuk menulis. Masyaa Allah, terasa nikmatnya saat harus berjibaku dengan tugas ibu rumah tangga, juga menyelaraskan dengan tugas menulis. Ada greget-gregetnya gitu. Belum lagi jikalau Baby Hilma menangis seperti malam-malam biasanya, harus extra sabar dan ikhlas dengan segala yang terjadi. Tapi untuk malam ini, aku akan berterimakasih padanya karena bisa diajak untuk bekerja sama. Jazakillah Khairan ya Bintiy ....
Berterimakasih memang sangatlah sepele, bahkan terkadang sengaja lupa tuk mengucapkan terimakasih sebagai bentuk apresiasi terhadap kebaikan seseorang. Memang ada beberapa faktor yang membuat ucapan terima kasih tersendat untuk diucapkan. Salah satunya adalah merasa malu untuk mengucapkannya karena tak terbiasa.
Ucapan terimakasih sudah menjadi tradisi lumrah di kalangan masyarakat. Dan juga merupakan bentuk syukur atas pemberian Allah melalui tangan orang lain. Hal tersebut menjadi suatu keharusan agar tak disebut kufur atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Sesuai dengan sabda Rasul:
"Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tak akan bisa mensyukuri nikmat yang banyak."
(HR. Ahmad)
Aku jadi teringat diriku sendiri yang tak tahu berterima kasih terhadap kedua orang tua. Dulu, saat masih kuliah, orang tuaku rutin mengirimkan uang untuk bekal hidupku yang jauh dari jangkauan. Namun sungguh, lidahku kelu untuk mengucapkannya, padahal kata itu sangatlah berarti jika memang benar-benar diucapkan dengan ikhlas dan penuh kesungguhan. Bertanda bahwa aku sangatlah bersyukur atas pemberian Allah melalui orang tuaku, walau orang tuaku tak membutuhkan kata terima kasih dariku. Menyesal tentu saja, mengapa dulu aku begitu sulit mengucapkannya. Mungkinkah karena tak terbiasa mengucapkannya? Ah... Aku tak bisa mereka-reka mengapa kata itu sangat tak bersahabat dengan lidah dan hatiku.
Dari itu, aku belajar membiasakan diri dengan mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang senantiasa selalu menolong atau memberikan sesuatu padaku, khususnya kepada orang tuaku, walau saat pertama kali kuucapkan itu, orang tuaku sempat tertawa dan mengucapkan "tumben". Bagaimanapun malu itu sekatku, jadi aku harus bisa melampauinya untuk hal yang baik.
Berterimakasih merupakan kata sederhana yang bisa diucapkan sebagai balasan pada seseorang yang telah berbuat baik, namun ada frasa yang lebih bermakna dari sekadar kata "Terimakasih" yaitu "Jazakallah Khairan" yang memiliki arti "Semoga Allah membalasku dengan kebaikan". Hadits berikut ini mungkin bisa menjadi sedikit pencerahan mengapa harus mengucapkan "Jazakallahu/Jazakillah Khairan".
"Barang siapa diberikan suatu perbuatan kebaikan kepadanya, lalu ia membalasnya dengan mengucapkan "Jazakallahu Khairan" (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) maka hal itu sungguh telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya."
(HR. At-Tirmidzi: 2035)
Sebagai alarm pribadi, mengucapkan Jazakallahu Khairan atau Jazakillahu Khairan untuk membalas kebaikan seseorang, pun juga sebagai tabungan pahala bagi orang yang mengucapkannya. Tentu saja aku harus bisa mengucapkannya kepada tetangga-tetanggaku yang notabene-nya tak terlalu peduli dengan kata itu. Bismillah, semoga aku bisa pun juga kamu yang membaca semoga mempraktekkannya.
Wallahu A'lamu bis Shawab!
Selobanteng, 1 Juni 2019
#Day 27
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Image Source:Google Image

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kritik dan saran sangat berarti demi perbaikan isi blog ini...