Jumat, 09 Agustus 2019

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum...
Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didhalimi secara terang-terangan. Sakit memang, hanya saja menjaga diri untuk tetap tegar itu sangat diperlukan, karena buah hati yang sudah menginjak 7 bulan ini menemaniku.

Baiklah, mungkin sebagian orang ingin ceritanya didengar ataupun dibaca oleh orang yang bersangkutan, demi leganya hati dan pikiran. Jangan tanyakan masalah apa, karena masalah tak ubahnya sebuah kendaraan yang berlalu lalang dan itu selalu datang. Ingin rasanya mengeluh, dan menumpahkan segalanya kepada orang-orang yang dipercaya. Sayangnya tak ada satupun orang yang benar-benar mendengarkan. Mungkin mereka mendengar hanya untuk mengetahui tanpa memberi solusi. Ujung-ujungnya menyalahkan. Ingin rasanya mengadu kepada keluarga sendiri, Oh ayolah, yang kutulis ini adalah masalah dengan keluargaku sendiri. Keluargaku yang selalu memperkeruh keadaan keluarga kecilku, yang mengkerdilkan imam-ku atau selalu menyalahkannya. Hingga ingin kutanyakan apa salahku atau apa salah suamiku, menantu mereka hingga mereka sebenci itu terhadapku dan suamiku. Jelas saja beliau-beliau yang kuhormati itu berkoar-koar kepada tetangga bahwa akulah yang salah. Yang kuperbuat inilah-itulah hingga membuat mereka begitu hobby membicarakan kejelekan kami. Astaghfirullah. Bukan tak mungkin air mata sering merembes jatuh tanpa sengaja kuminta. Karena ketahanan hatiku yang rapuh dengan ucapan mereka. Lalu diteruskan oleh tetangga-tetangga yang menjelekkanku.

Kutulis ini hanya ingin memberikan gambaran betapa tak enaknya serumah dengan orang tua sendiri, sungguh. Aku merasakannya. Rasa ingin pergi saja dari rumah dan memulai segalanya dari awal bersama keluarga kecil namun banyak hal yang harus dipertimbangkan. Egoku mulai sedikit bermain peran jika saja suami tak melarangku melakukan segala hal yang aneh-aneh termasuk melabrak ibuku sendiri agar tak bersikap seperti bertemu musuh bila berhadapan denganku. Ada saja yang dibuat salah di mata beliau. Beliau ibuku. Orang pertama yang harus kuhormati dan sayangi melebihi segalanya, namun bila sikapnya selalu membuatku tak tenang apa aku harus tetap bersikap sedemikian rupawan di hadapannya yang selalu sakitiku? Beri aku saran bagaimana aku harus bersikap! Kumohon! Aku merasa lelah saja dengan semua ini, seolah masalah ini bukan orang lain yang membuatnya, melainkan dari keluargaku sendiri. Bicaraku memang tak didengar, sikapku dianggap membangkang apalagi suamiku yang dianggap beliau-beliau, tak ada.

Allah... kuatkan, kuatkan, kuatkan. Jangan sampai air mata ini tumpah ruah hanya untuk masalah yang Engkau anggap hamba ini mampu menjalaninya. Luka berasa diberi garam selagi ia menganga.

Allah... Suamiku seringkali menahan tangis karena sikap kedua orang tuaku, mertua yang sangat dihormatinya. Kuatkan dia, tabahkan hatinya satu hal yang tak pernah kuduga bahwa suami selalu doakan semoga hati kedua orang tuaku terbuka dan berbaik hati padanya.

Allah... jika perihal lidah yang kelu tuk berucap, ingin mewakili kata hati yang diam... mohon kuatkan hamba tuk jalani semua ini, taqdir-Mu. Sungguh hamba ingin semuanya berakhir baik dan tanpa masalah Ya Allah...

Perkenankan hamba memiliki rumah sendiri tanpa numpang ke orang tua ya Allah... Aamiin ya Ghaffar 😢

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum... Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didha...