"Pengalaman menjadikanmu lebih dewasa dalam menghadapi kehidupan"
Assalamualaikum...
Tibalah di penghujung Ramadhan, perasaan haru dan senang menyeruak begitu saja, pun perasaan sedih saat bulan suci ini bergegas pergi. Betapa seperti kedipan mata, sekejap langsung menghilang, padahal diri ini masih rindu, masih ingin menepi menikmati hirup pikuk Ramadhan yang dirasa semarak dengan segala hal berbau ibadah. Hanya bisa titipkan doa, semoga Ramadhan selanjutnya bisa bersua lagi, Aamiin ya Allah...
Ramadhan kali ini jauh lebih menyenangkan bagiku, ada banyak nikmat yang telah Allah berikan selama ini, salah satunya adalah hadirnya Baby Hilma yang menjadi pelengkap keluarga kecilku. Jadi Ramadhan kali ini ditemani dia. Selain itu, yang lebih membuatku bersemangat dalam menghadapi hari adalah adanya "Writing Challenge 30HariRamadhanDalamCerita". Masyaa Allah... Aku jadi lebih tak sabar ingin menuangkan segala hal yang mengganjal di pikiran dalam bentuk tulisan. Bersyukur dengan adanya Writing Challenge yang diadakan oleh PJ Bianglala Hijrah, aku lebih bisa mengekspresikan diri dalam dunia aksara. Sungguh menyenangkan.
Terlebih, ada banyak pengalaman yang kudapat selama mengikuti Challenge ini, tentu saja dalam masa penulisannya tak bisa dipungkiri, banyak hal yang menghambat dalam proses istiqamah dalam menulis, namun, Allah sertai kemudahan disela kesulitan yang melintang. Inilah tantangan sebenarnya yang kujadikan pengalaman sebagai pembelajaran tentang keistiqomahan dalam segala hal, khususnya kegiatan tulis menulis.
Baiklah, pengalaman apa saja yang kurasa selama proses menaklukkan challenge bergengsi ini? Check this out:
1. Saat Asyik Menulis tetiba Baby Hilma Menangis
Kalau yang ini sudah biasa dilakukan, saat sedang asyik menuangkan apa yang ada di pikiran, Baby Hilma yang sedang tidur pulas menggeliat pelan dan membuka mata, mungkin dikira tak ada orag disampingnya, Hingga dia menjerit ketakutan sambil mencengkram kain bajuku, jadilah aku menghentikan aktifitas menulisku lalu menenangkannya dan kembali menulis sambil menggendongnya, tentu saja dengan menggunakan jurus satu tangan alias hanya tangan kanan yang mengetik. :)
2. Menulis Dua Paragraf, Laptop Dimatikan Ibu
Kala itu, aku sudah susah payah mengetik dua paragraf, seolah berpacu dengan keadaan Baby Hilma yang tak begitu fit, sehingga dia lumayan rewel itu. Karena Baby Hilma menangis dan aku masih di depan laptop, ibu menyuruhku menghentikan aktifitas menulisku dan fokus terlebih dahulu ke Baby Hilma. Akupun manut saja apa yang diperintah ibu. Saat Baby Hilma mulai tidur kembali aku kembali ke depan laptop dan mendapati laptopku dalam keadaan mati. Kutanya ibu, dengan polosnya beliau menjawab "Tadi kasian laptopnya kedap-kedip terus, jadi ibu matikan saja biar ga cepat rusak.", Apaaa... Aku kaget campur kesal pastinya, tak tahan aku menangis saja sambil meratapi layar laptop yang sudah kuhidupkan kembali. Mirip anak kecil yang merengek minta dibelikan permen, seperti itulah kira-kira, lalu ibu datang dan meminta maaf dengan penuh penyesalan. Bahwa beliau benar-benar awam masalah laptop, jadi kumaafkan saja dan kurelakan dua paragraf yang sudah kubuat raib begitu saja.
3. Berebut Laptop Dengan Suami
Saat akan menulis, ada saja tingkah suami yang jelas menjengkelkanku, sudah pasti itu. Saat sedang asyik menulis, suami biasanya datang untuk menguji kesabaranku, salah satunya ingin meminjam laptop dengan alasan tugas sekolahnya. Sungguh, rasanya ada tanduk tajam keluar dari kepalaku, suami sesekali cengengesan melihat ekspresiku yang sudah tak bersahabat lagi dengannya. Jurus andalannya untuk membuatku berubah kalem lagi adalah "Hayoo... Katanya istri shalehah, ditahan dulu marahnya." Lalu suami akan pergi meninggalkanku setelah puas membuatku jengkel padanya.
4. Menulis Saat Keluarga Berbuka Puasa
Hmmm... ini merupakan pengalaman menarik hatiku, dan tentu saja aku memberi 'applause' pada diriku sendiri. Saat seluruh keluarga berbuka puasa dengan yang manis-manis. Aku berbuka puasa dengan huruf-huruf yang tertempel di keyboard laptop. Rasanya Masyaa Allah... Seolah dikejar deadline, karena kala itu aku menggunakan aji mumupung, mumpung Baby Hilma tidur dan Mumpung ide untuk menulis datang tanpa di-brainstorming lebih dulu, jadilah agar ide tersebut tak menguap begitu saja, langsung saja kutulis tanpa mengenal waktu. Hehe.
Sebenarnya, ada beberapa pengalaman manis lainnya yang tak bisa kutuangkan di sini, hanya saja pengalaman itulah yang membekas di benakku dan terjadi secara continue selama proses penulisan ini berlangsung. Indah, sungguh indah.
Selain pengalaman manis yang kudapat, juga ada beberapa manfaat saat keistiqamahan menulis 30HRDC ini dilakukan, di antaranya:
1. Aku lebih teliti saat menulis, ditakutkan banyak typo atau salah mengetik hingga kata yang dimaksud berubah. Sungguh memalukan jika ada satu atau dua ketikan yang salah, dari itu aku membaca lebih dulu sebelum memposting tulisan. Dan Alhamdulillah, ini juga berlaku saat aku mengetik tugas kantor, meneliti betul setiap kata agar tak ada kesalahan fatal saat mengetik.
2. Bertemu dengan 'keluarga baru' di grup Whatsapp Writing Challenge 30 HRDC. Rasanya memiliki teman yang memiliki satu tujuan yaitu ingin bersama belajar mengelola blog dari nol, tentu ada dari mereka yang sudah mahir dalam dunia blogging, namun semangat dari merekalah yang membuatku untuk terus berusaha bisa dalam dunia blogging. Alhasil, sedikit demi sedikit akupun mulai paham walau tak sepenuhnya. Thanks all of you..
3. Berusaha memanage waktu. Ini jelas lumayan sulit, perlahan tapi pasti aku mulai menentukan kapan aku harus menulis dan kapan aku harus beraktifitas, walau terkadang terjadi benturan di antara keduanya dan harus ada yang mengalah salah satunya. Meskipun begitu, aku tetap bersemangat untuk membagi waktu. Prinsip per-hari saat Bulan Ramadhan ini One Day One Juz and One Posting. Masyaa Allah Tabarakallah...
4. Mendapat wawasan baru. Dengan membaca setiap blog yang sudah teman-teman posting, secara otomatis aku langsung menyempatkan diri untuk membuka link yang sudah tersedia, dari itu ide segar selalu kudapat setelah membaca postingan mereka, selain itu pengetahuan mengenai sesuatupun akan bertambah.
Ya... itulah yang kurasakan selama 30 hari menempa diri dengan menulis di blog, kenyataannya menulis bersama teman-teman yang lain seolah menjadi semangat baru dan semangat beda dari biasanya. Pengalaman yang didapat pun akan menjadi pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Akhirnya, di Bulan Ramadhan ini Allah pertemukanku dengan challenge ini, pun dengan orang-orang pejuang istiqamah di dalamnya, Semoga Allah perkenankan tuk bertemu dengan Ramadhan selanjutnya pun dengan orang-orang yang lebih bersemangat lagi dalam keistiqamahannya di setiap hal. Aamiin ya Rabbal 'Alaamiin..
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Taqabbal ya Kareem... Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Mohon maaf atas segala khilaf, salah ucap, salah kekata, salah tafsir yang dapat menyinggung setiap pihak yang membaca postinganku. Se-fitrah hati yang senantiasa menderaskan diri dalam memohon ampunan pada-Nya.
Wallahu A'lamu bis Shawab
Selobanteng, 04 Juni 2019
#Day 30
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
4. Menulis Saat Keluarga Berbuka Puasa
Hmmm... ini merupakan pengalaman menarik hatiku, dan tentu saja aku memberi 'applause' pada diriku sendiri. Saat seluruh keluarga berbuka puasa dengan yang manis-manis. Aku berbuka puasa dengan huruf-huruf yang tertempel di keyboard laptop. Rasanya Masyaa Allah... Seolah dikejar deadline, karena kala itu aku menggunakan aji mumupung, mumpung Baby Hilma tidur dan Mumpung ide untuk menulis datang tanpa di-brainstorming lebih dulu, jadilah agar ide tersebut tak menguap begitu saja, langsung saja kutulis tanpa mengenal waktu. Hehe.
Sebenarnya, ada beberapa pengalaman manis lainnya yang tak bisa kutuangkan di sini, hanya saja pengalaman itulah yang membekas di benakku dan terjadi secara continue selama proses penulisan ini berlangsung. Indah, sungguh indah.
Selain pengalaman manis yang kudapat, juga ada beberapa manfaat saat keistiqamahan menulis 30HRDC ini dilakukan, di antaranya:
1. Aku lebih teliti saat menulis, ditakutkan banyak typo atau salah mengetik hingga kata yang dimaksud berubah. Sungguh memalukan jika ada satu atau dua ketikan yang salah, dari itu aku membaca lebih dulu sebelum memposting tulisan. Dan Alhamdulillah, ini juga berlaku saat aku mengetik tugas kantor, meneliti betul setiap kata agar tak ada kesalahan fatal saat mengetik.
2. Bertemu dengan 'keluarga baru' di grup Whatsapp Writing Challenge 30 HRDC. Rasanya memiliki teman yang memiliki satu tujuan yaitu ingin bersama belajar mengelola blog dari nol, tentu ada dari mereka yang sudah mahir dalam dunia blogging, namun semangat dari merekalah yang membuatku untuk terus berusaha bisa dalam dunia blogging. Alhasil, sedikit demi sedikit akupun mulai paham walau tak sepenuhnya. Thanks all of you..
3. Berusaha memanage waktu. Ini jelas lumayan sulit, perlahan tapi pasti aku mulai menentukan kapan aku harus menulis dan kapan aku harus beraktifitas, walau terkadang terjadi benturan di antara keduanya dan harus ada yang mengalah salah satunya. Meskipun begitu, aku tetap bersemangat untuk membagi waktu. Prinsip per-hari saat Bulan Ramadhan ini One Day One Juz and One Posting. Masyaa Allah Tabarakallah...
4. Mendapat wawasan baru. Dengan membaca setiap blog yang sudah teman-teman posting, secara otomatis aku langsung menyempatkan diri untuk membuka link yang sudah tersedia, dari itu ide segar selalu kudapat setelah membaca postingan mereka, selain itu pengetahuan mengenai sesuatupun akan bertambah.
Ya... itulah yang kurasakan selama 30 hari menempa diri dengan menulis di blog, kenyataannya menulis bersama teman-teman yang lain seolah menjadi semangat baru dan semangat beda dari biasanya. Pengalaman yang didapat pun akan menjadi pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Akhirnya, di Bulan Ramadhan ini Allah pertemukanku dengan challenge ini, pun dengan orang-orang pejuang istiqamah di dalamnya, Semoga Allah perkenankan tuk bertemu dengan Ramadhan selanjutnya pun dengan orang-orang yang lebih bersemangat lagi dalam keistiqamahannya di setiap hal. Aamiin ya Rabbal 'Alaamiin..
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Taqabbal ya Kareem... Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Mohon maaf atas segala khilaf, salah ucap, salah kekata, salah tafsir yang dapat menyinggung setiap pihak yang membaca postinganku. Se-fitrah hati yang senantiasa menderaskan diri dalam memohon ampunan pada-Nya.
Wallahu A'lamu bis Shawab
Selobanteng, 04 Juni 2019
#Day 30
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Image Source: Google Image



