Selasa, 04 Juni 2019

Pengalaman Manis Saat Menulis #30HRDC

"Pengalaman menjadikanmu lebih dewasa dalam menghadapi kehidupan"


Assalamualaikum...
Tibalah di penghujung Ramadhan, perasaan haru dan senang menyeruak begitu saja, pun perasaan sedih saat bulan suci ini bergegas pergi. Betapa seperti kedipan mata, sekejap langsung menghilang, padahal diri ini masih rindu, masih ingin menepi menikmati hirup pikuk Ramadhan yang dirasa semarak dengan segala hal berbau ibadah. Hanya bisa titipkan doa, semoga Ramadhan selanjutnya bisa bersua lagi, Aamiin ya Allah...

Ramadhan kali ini jauh lebih menyenangkan bagiku, ada banyak nikmat yang telah Allah berikan selama ini, salah satunya adalah hadirnya Baby Hilma yang menjadi pelengkap keluarga kecilku. Jadi Ramadhan kali ini ditemani dia. Selain itu, yang lebih membuatku bersemangat dalam menghadapi hari adalah adanya "Writing Challenge 30HariRamadhanDalamCerita". Masyaa Allah... Aku jadi lebih tak sabar ingin menuangkan segala hal yang mengganjal di pikiran dalam bentuk tulisan. Bersyukur dengan adanya Writing Challenge yang diadakan oleh PJ Bianglala Hijrah, aku lebih bisa mengekspresikan diri dalam dunia aksara. Sungguh menyenangkan.

Terlebih, ada banyak pengalaman yang kudapat selama mengikuti Challenge ini, tentu saja dalam masa penulisannya tak bisa dipungkiri, banyak hal yang menghambat dalam proses istiqamah dalam menulis, namun, Allah sertai kemudahan disela kesulitan yang melintang. Inilah tantangan sebenarnya yang kujadikan pengalaman sebagai pembelajaran tentang keistiqomahan dalam segala hal, khususnya kegiatan tulis menulis.

Baiklah, pengalaman apa saja yang kurasa selama proses menaklukkan challenge bergengsi ini? Check this out:

1. Saat Asyik Menulis tetiba Baby Hilma Menangis

Kalau yang ini sudah biasa dilakukan, saat sedang asyik menuangkan apa yang ada di pikiran, Baby Hilma yang sedang tidur pulas menggeliat pelan dan membuka mata, mungkin dikira tak ada orag disampingnya, Hingga dia menjerit ketakutan sambil mencengkram kain bajuku, jadilah aku menghentikan aktifitas menulisku lalu menenangkannya dan kembali menulis sambil menggendongnya, tentu saja dengan menggunakan jurus satu tangan alias hanya tangan kanan yang mengetik. :)

2. Menulis Dua Paragraf, Laptop Dimatikan Ibu

Kala itu, aku sudah susah payah mengetik dua paragraf, seolah berpacu dengan keadaan Baby Hilma yang tak begitu fit, sehingga dia lumayan rewel itu. Karena Baby Hilma menangis dan aku masih di depan laptop, ibu menyuruhku menghentikan aktifitas menulisku dan fokus terlebih dahulu ke Baby Hilma. Akupun manut saja apa yang diperintah ibu. Saat Baby Hilma mulai tidur kembali aku kembali ke depan laptop dan mendapati laptopku dalam keadaan mati. Kutanya ibu, dengan polosnya beliau menjawab "Tadi kasian laptopnya kedap-kedip terus, jadi ibu matikan saja biar ga cepat rusak.", Apaaa... Aku kaget campur kesal pastinya, tak tahan aku menangis saja sambil meratapi layar laptop yang sudah kuhidupkan kembali. Mirip anak kecil yang merengek minta dibelikan permen, seperti itulah kira-kira, lalu ibu datang dan meminta maaf dengan penuh penyesalan. Bahwa beliau benar-benar awam masalah laptop, jadi kumaafkan saja dan kurelakan dua paragraf yang sudah kubuat raib begitu saja.

3. Berebut Laptop Dengan Suami

Saat akan menulis, ada saja tingkah suami yang jelas menjengkelkanku, sudah pasti itu. Saat sedang asyik menulis, suami biasanya datang untuk menguji kesabaranku, salah satunya ingin meminjam laptop dengan alasan tugas sekolahnya. Sungguh, rasanya ada tanduk tajam keluar dari kepalaku, suami sesekali cengengesan melihat ekspresiku yang sudah tak bersahabat lagi dengannya. Jurus andalannya untuk membuatku berubah kalem lagi adalah "Hayoo... Katanya istri shalehah, ditahan dulu marahnya." Lalu suami akan pergi meninggalkanku setelah puas membuatku jengkel padanya.

4. Menulis Saat Keluarga Berbuka Puasa

Hmmm... ini merupakan pengalaman menarik hatiku, dan tentu saja aku memberi 'applause' pada diriku sendiri. Saat seluruh keluarga berbuka puasa dengan yang manis-manis. Aku berbuka puasa dengan huruf-huruf yang tertempel di keyboard laptop. Rasanya Masyaa Allah... Seolah dikejar deadline, karena kala itu aku menggunakan aji mumupung, mumpung Baby Hilma tidur dan Mumpung ide untuk menulis datang tanpa di-brainstorming lebih dulu, jadilah agar ide tersebut tak menguap begitu saja, langsung saja kutulis tanpa mengenal waktu. Hehe.

Sebenarnya, ada beberapa pengalaman manis lainnya yang tak bisa kutuangkan di sini, hanya saja pengalaman itulah yang membekas di benakku dan terjadi secara continue selama proses penulisan ini berlangsung. Indah, sungguh indah.

Selain pengalaman manis yang kudapat, juga ada beberapa manfaat saat keistiqamahan menulis 30HRDC ini dilakukan, di antaranya:

1. Aku lebih teliti saat menulis, ditakutkan banyak typo atau salah mengetik hingga kata yang dimaksud berubah. Sungguh memalukan jika ada satu atau dua ketikan yang salah, dari itu aku membaca lebih dulu sebelum memposting tulisan. Dan Alhamdulillah, ini juga berlaku saat aku mengetik tugas kantor, meneliti betul setiap kata agar tak ada kesalahan fatal saat mengetik.

2. Bertemu dengan 'keluarga baru' di grup Whatsapp Writing Challenge 30 HRDC. Rasanya memiliki teman yang memiliki satu tujuan yaitu ingin bersama belajar mengelola blog dari nol, tentu ada dari mereka yang sudah mahir dalam dunia blogging, namun semangat dari merekalah yang membuatku untuk terus berusaha bisa dalam dunia blogging. Alhasil, sedikit demi sedikit akupun mulai paham walau tak sepenuhnya. Thanks all of you..

3. Berusaha memanage waktu. Ini jelas lumayan sulit, perlahan tapi pasti aku mulai menentukan kapan aku harus menulis dan kapan aku harus beraktifitas, walau terkadang terjadi benturan di antara keduanya dan harus ada yang mengalah salah satunya. Meskipun begitu, aku tetap bersemangat untuk membagi waktu. Prinsip per-hari saat Bulan Ramadhan ini One Day One Juz and One Posting. Masyaa Allah Tabarakallah...

4. Mendapat wawasan baru. Dengan membaca setiap blog yang sudah teman-teman posting, secara otomatis aku langsung menyempatkan diri untuk membuka link yang sudah tersedia, dari itu ide segar selalu kudapat setelah membaca postingan mereka, selain itu pengetahuan mengenai sesuatupun akan bertambah.

Ya... itulah yang kurasakan selama 30 hari menempa diri dengan menulis di blog, kenyataannya menulis bersama teman-teman yang lain seolah menjadi semangat baru dan semangat beda dari biasanya. Pengalaman yang didapat pun akan menjadi pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Akhirnya, di Bulan Ramadhan ini Allah pertemukanku dengan challenge ini, pun dengan orang-orang pejuang istiqamah di dalamnya, Semoga Allah perkenankan tuk bertemu dengan Ramadhan selanjutnya pun dengan orang-orang yang lebih bersemangat lagi dalam keistiqamahannya di setiap hal. Aamiin ya Rabbal 'Alaamiin..

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Taqabbal ya Kareem... Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Mohon maaf atas segala khilaf, salah ucap, salah kekata, salah tafsir yang dapat menyinggung setiap pihak yang membaca postinganku. Se-fitrah hati yang senantiasa menderaskan diri dalam memohon ampunan pada-Nya.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 04 Juni 2019

#Day 30
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


Image Source: Google Image 

Senin, 03 Juni 2019

Zakat Pembersih Harta



Assalamualaikum...
Sepagi ini, aku sudah berdiskusi panjang dengan suami mengenai siapa yang kan menerima zakat fitrah. Karena merupakan kewajiban setiap muslim untuk melaksanakannya, sedang aku jelas panik tatkala hari kemenangan akan bersambut dan suami belum membeli sesuatu sebagai zakat, atau umumnya zakat fitrah berupa beras sebanyak 2,5 kg. Ujung-ujungnya suami jawab simpel bahwa nanti Ba'da Dhuhur insya Allah Zakat Fitrah kan ditunaikan. Alhamdulillah, lega rasanya.

Zakat fitrah merupakan suatu hal yang wajib yang harus dilakukan oleh setiap muslim, memberi zakat merupakan rukun islam yang keempat. Tujuannya sudah jelas, mengembalikan diri pada sesuatu yang fitrah, artinya mensucikan diri. Selain untuk mensucikan diri, zakat fitrah adalah sebagai pelengkap puasa serta sebagai pembersih harta, sesuai dengan sabda Rasul:

"Dari Ibnu Umar Radiyallahu Anhu sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan itu, darah dan harta mereka dilindungi dengan hak islam dan perhitungan mereka ada pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala." 
(HR. Bukhari no. 25)

Sebagai pembersih harta dan untuk mensucikan diri, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan sebelum menunaikan zakat fitrah:

1. Beragama Islam dan Merdeka
2. Menemui dua waktu yaitu di antara Bulan Ramadhan dan Syawal walaupun hanya sesaat.
3. Mempunyai harta yang lebih dari kebutuhannya.

Sudah pasti umat muslim mengetahui bahwa zakat fitrah harus ditunaikan sebelum Shalat Ied dilaksanakan. Zakat yang diberikan. Balita hingga orang dewasa wajib membayar zakat 2,5 kg beras, jika ingin berzakat menggunakan uang, seharusnya uang tersebut seharga beras 2,5 kg. Namun ada pendapat terkuat bahwa zakat tidak boleh dibayar menggunakan uang, karena pada zaman Rasulullah sudah ada uang dinar dan dirham. Solusi bagi mereka yang kan membayar zakat menggunakan uang adalah mewakilkan dengan akad 'wakalah', bahwa mengeluarkan zakat uang kepada pengurus masjid untuk dibelikan beras dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Baiklah, saat mengetahui bahwa zakat fitrah adalah wajib, tunaikanlah dengan niat yang ikhlas dan berikan pada mereka yang benar-benar membutuhkan juga, bisa diberikan kepada masjid terdekat, dan terserah masjid tersebut yang kan mengolahnya.
Dari itu, bersihkan diri tuk sambut hari yang fitri.

Wallahu A'lamu bis Shawab 

Selobanteng, 03 Juni 2019

#Day 29
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Minggu, 02 Juni 2019

Cara Untuk Memaafkan




Assalamualaikum...
Salam semangat untuk kita semua dalam menghadapi hari dan menyulam mimpi karena Allah, karena sejatinya kita hanyalah hamba yang melakoni seluruh skenario dari-Nya. 

Ramadhan hari keduapuluh delapan, hari kemenangan semakin di depan mata. Semua pernak-pernik lebaran sudah tersedia pun toples-toples berisi beberapa jajanan berjajar rapi memenuhi ruangan. Semuanya telah ada, hanya kata maaf yang masih kelu tuk diucapkan. Ya... Maaf selalu bersanding saat salah dilakukan, namun itu bagi orang yang sadar akan mengatakannya, bila tidak, ia takkan merasa apa yang telah diperbuatnya. Memang, manusia adalah tempat salah dan lupa, bila salah terus dilakukan, sisi manusianya di mana?

Meminta maaf dan memaafkan kesalahan terasa mudah diucap, sulit dilaksanakan. Masih terbesit rasa jengkel saat ingin memberi maaf, ikhlas kadang suka dipaksakan. Sesekali bayangan tentang dia yang menyakiti membayang begitu saja membentuk role film. Padahal memaafkan adalah sikap mulia dalam Islam. Seberapa berat kesalahan yang telah diperbuat, Allah telah menyuruh hamba-Nya untuk berlapang dada memaafkan kesalahan saudaranya, sesuai dengan firman-Nya:

"Dan janganlah orang-orang yang memiliki kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Dan hendaklah mereka memberi maaf dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nur: 22)

Allah Maha Pemberi Maaf, bukankah begitu? Esensi dari memaafkan adalah melapangkan hati yang yang sedang kesal terhadap perbuatan yang pernah menyakiti. Pemberian maafpun seharusnya sudah tertanam dalam diri sebelum permintaan maaf tersebut dilontarkan. Jadi dengan memaafkan, seluruh masalah yang mengganjal memenuhi relung hati diharapkan bisa menghilang dan yang memaafkan akan lebih bisa berdamai dengan keadaan. 

Cara sederhana untuk memaafkan bisa dilakukan dengan tidak membenci mereka yang telah menyakiti, walau nyatanya itu sulit untuk diterapkan. Sungguh, jika rasa benci masih saja melekat dalam diri, maka untuk melangkah ke jenjang memaafkan akan terhambat.Salah satu terbaik untuk menghilangkan rasa benci adalah dengan mengingat seluruh kebaikan yang telah diperbuatnya. 

Alternatif kedua yang bisa dilakukan tuk mendulang maaf adalah dengan membangun rasa empati pada diri sendiri. Dengan mengingat bahwa terkadang diri ini juga melakukan kesalahan, dan tentu saja perlu kata maaf kepada yang telah tersakiti baik itu disengaja maupun tidak. Rasa empati yang terbuka akan lebih membuka jalan untuk memaafkan secara mudah, semakin besar rasa empati dimunculkan, maka semakin mudah pula untuk memaafkan.

Pada akhirnya, memaafkan dan meminta maaf seharusnya menjadi kesadaran bagi diri sendiri, bahwa tentu akan ada dampak positif dan negatif saat menjalin hubungan dengan sesama. Maka dari itu, sesakit apapun yang dirasa, kata maaf semoga tetap selalu ada, terlebih setiap kejadian pasti ada hikmah dibaliknya sebagai perbaikan untuk masa yang kan datang.

Wallahu A'lamu bis Shawab

#Day 28
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Sabtu, 01 Juni 2019

Jazakallahu/i Khairan: Kata yang Sepele Sulit Diucapkan



Assalamualaikum...
Hari ini adalah hari libur nasional, yang kutahu begitu, karena tanggal merah. Bagiku, tanggal merah atau tidak tetap tak ada libur. Karena aku adalah seorang ibu 24 jam nonstop tanpa tapi. Bismillah semoga kuat, sabar dan ikhlas dalam menjalankan amanah dahsyat ini. Begitupun dengan ibu-ibu di luar sana yang juga berprofesi sama denganku. Aamiin yaa Allah.

Alhamdulillah, selepas Shalat Maghrib, baru bisa menyentuh laptop. Entah mengapa jaringan juga kurang mendukung hari ini. Alhasil, aku tak bisa meluapkan apa yang ada di benak seharian. Ya, pada jam 05:54 ini, Allah berikan kesempatan untuk menulis. Masyaa Allah, terasa nikmatnya saat harus berjibaku dengan tugas ibu rumah tangga, juga menyelaraskan dengan tugas menulis. Ada greget-gregetnya gitu. Belum lagi jikalau Baby Hilma menangis seperti malam-malam biasanya, harus extra sabar dan ikhlas dengan segala yang terjadi. Tapi untuk malam ini, aku akan berterimakasih padanya karena bisa diajak untuk bekerja sama. Jazakillah Khairan ya Bintiy .... 

Berterimakasih memang sangatlah sepele, bahkan terkadang sengaja lupa tuk mengucapkan terimakasih sebagai bentuk apresiasi terhadap kebaikan seseorang. Memang ada beberapa faktor yang membuat ucapan terima kasih tersendat untuk diucapkan. Salah satunya adalah merasa malu untuk mengucapkannya karena tak terbiasa.

Ucapan terimakasih sudah menjadi tradisi lumrah di kalangan masyarakat. Dan juga merupakan bentuk syukur atas pemberian Allah melalui tangan orang lain. Hal tersebut menjadi suatu keharusan agar tak disebut kufur atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Sesuai dengan sabda Rasul:

"Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tak akan bisa mensyukuri nikmat yang banyak."
(HR. Ahmad)

Aku jadi teringat diriku sendiri yang tak tahu berterima kasih terhadap kedua orang tua. Dulu, saat masih kuliah, orang tuaku rutin mengirimkan uang untuk bekal hidupku yang jauh dari jangkauan. Namun sungguh, lidahku kelu untuk mengucapkannya, padahal kata itu sangatlah berarti jika memang benar-benar diucapkan dengan ikhlas dan penuh kesungguhan. Bertanda bahwa aku sangatlah bersyukur atas pemberian Allah melalui orang tuaku, walau orang tuaku tak membutuhkan kata terima kasih dariku. Menyesal tentu saja, mengapa dulu aku begitu sulit mengucapkannya. Mungkinkah karena tak terbiasa mengucapkannya? Ah... Aku tak bisa mereka-reka mengapa kata itu sangat tak bersahabat dengan lidah dan hatiku.

Dari itu, aku belajar membiasakan diri dengan mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang senantiasa selalu menolong atau memberikan sesuatu padaku, khususnya kepada orang tuaku, walau saat pertama kali kuucapkan itu, orang tuaku sempat tertawa dan mengucapkan "tumben". Bagaimanapun malu itu sekatku, jadi aku harus bisa melampauinya untuk hal yang baik.

Berterimakasih merupakan kata sederhana yang bisa diucapkan sebagai balasan pada seseorang yang telah berbuat baik, namun ada frasa yang lebih bermakna dari sekadar kata "Terimakasih" yaitu "Jazakallah Khairan" yang memiliki arti "Semoga Allah membalasku dengan kebaikan". Hadits berikut ini mungkin bisa menjadi sedikit pencerahan mengapa harus mengucapkan "Jazakallahu/Jazakillah Khairan".

"Barang siapa diberikan suatu perbuatan kebaikan kepadanya, lalu ia membalasnya dengan mengucapkan "Jazakallahu Khairan" (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) maka hal itu sungguh telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya." 
(HR. At-Tirmidzi: 2035)

Sebagai alarm pribadi, mengucapkan Jazakallahu Khairan atau Jazakillahu Khairan untuk membalas kebaikan seseorang, pun juga sebagai tabungan pahala bagi orang yang mengucapkannya. Tentu saja aku harus bisa mengucapkannya kepada tetangga-tetanggaku yang notabene-nya tak terlalu peduli dengan kata itu. Bismillah, semoga aku bisa pun juga kamu yang membaca semoga mempraktekkannya.

Wallahu A'lamu bis Shawab!

Selobanteng, 1 Juni 2019

#Day 27
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source:Google Image 

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum... Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didha...