Jumat, 09 Agustus 2019

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum...
Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didhalimi secara terang-terangan. Sakit memang, hanya saja menjaga diri untuk tetap tegar itu sangat diperlukan, karena buah hati yang sudah menginjak 7 bulan ini menemaniku.

Baiklah, mungkin sebagian orang ingin ceritanya didengar ataupun dibaca oleh orang yang bersangkutan, demi leganya hati dan pikiran. Jangan tanyakan masalah apa, karena masalah tak ubahnya sebuah kendaraan yang berlalu lalang dan itu selalu datang. Ingin rasanya mengeluh, dan menumpahkan segalanya kepada orang-orang yang dipercaya. Sayangnya tak ada satupun orang yang benar-benar mendengarkan. Mungkin mereka mendengar hanya untuk mengetahui tanpa memberi solusi. Ujung-ujungnya menyalahkan. Ingin rasanya mengadu kepada keluarga sendiri, Oh ayolah, yang kutulis ini adalah masalah dengan keluargaku sendiri. Keluargaku yang selalu memperkeruh keadaan keluarga kecilku, yang mengkerdilkan imam-ku atau selalu menyalahkannya. Hingga ingin kutanyakan apa salahku atau apa salah suamiku, menantu mereka hingga mereka sebenci itu terhadapku dan suamiku. Jelas saja beliau-beliau yang kuhormati itu berkoar-koar kepada tetangga bahwa akulah yang salah. Yang kuperbuat inilah-itulah hingga membuat mereka begitu hobby membicarakan kejelekan kami. Astaghfirullah. Bukan tak mungkin air mata sering merembes jatuh tanpa sengaja kuminta. Karena ketahanan hatiku yang rapuh dengan ucapan mereka. Lalu diteruskan oleh tetangga-tetangga yang menjelekkanku.

Kutulis ini hanya ingin memberikan gambaran betapa tak enaknya serumah dengan orang tua sendiri, sungguh. Aku merasakannya. Rasa ingin pergi saja dari rumah dan memulai segalanya dari awal bersama keluarga kecil namun banyak hal yang harus dipertimbangkan. Egoku mulai sedikit bermain peran jika saja suami tak melarangku melakukan segala hal yang aneh-aneh termasuk melabrak ibuku sendiri agar tak bersikap seperti bertemu musuh bila berhadapan denganku. Ada saja yang dibuat salah di mata beliau. Beliau ibuku. Orang pertama yang harus kuhormati dan sayangi melebihi segalanya, namun bila sikapnya selalu membuatku tak tenang apa aku harus tetap bersikap sedemikian rupawan di hadapannya yang selalu sakitiku? Beri aku saran bagaimana aku harus bersikap! Kumohon! Aku merasa lelah saja dengan semua ini, seolah masalah ini bukan orang lain yang membuatnya, melainkan dari keluargaku sendiri. Bicaraku memang tak didengar, sikapku dianggap membangkang apalagi suamiku yang dianggap beliau-beliau, tak ada.

Allah... kuatkan, kuatkan, kuatkan. Jangan sampai air mata ini tumpah ruah hanya untuk masalah yang Engkau anggap hamba ini mampu menjalaninya. Luka berasa diberi garam selagi ia menganga.

Allah... Suamiku seringkali menahan tangis karena sikap kedua orang tuaku, mertua yang sangat dihormatinya. Kuatkan dia, tabahkan hatinya satu hal yang tak pernah kuduga bahwa suami selalu doakan semoga hati kedua orang tuaku terbuka dan berbaik hati padanya.

Allah... jika perihal lidah yang kelu tuk berucap, ingin mewakili kata hati yang diam... mohon kuatkan hamba tuk jalani semua ini, taqdir-Mu. Sungguh hamba ingin semuanya berakhir baik dan tanpa masalah Ya Allah...

Perkenankan hamba memiliki rumah sendiri tanpa numpang ke orang tua ya Allah... Aamiin ya Ghaffar 😢

Sabtu, 13 Juli 2019

Petuah Juli

Mungkin sekembalinya kita adalah dengan mengeksiskan diri melalui segala hal.
Ada kesedihan mendalam, tentu saja. Karena hidup tak serta merta tentang kesenangan saja. Ada bumbu-bumbu sedihnya 😊
Cheers up your day. So jangan sedih ya.

Selasa, 04 Juni 2019

Pengalaman Manis Saat Menulis #30HRDC

"Pengalaman menjadikanmu lebih dewasa dalam menghadapi kehidupan"


Assalamualaikum...
Tibalah di penghujung Ramadhan, perasaan haru dan senang menyeruak begitu saja, pun perasaan sedih saat bulan suci ini bergegas pergi. Betapa seperti kedipan mata, sekejap langsung menghilang, padahal diri ini masih rindu, masih ingin menepi menikmati hirup pikuk Ramadhan yang dirasa semarak dengan segala hal berbau ibadah. Hanya bisa titipkan doa, semoga Ramadhan selanjutnya bisa bersua lagi, Aamiin ya Allah...

Ramadhan kali ini jauh lebih menyenangkan bagiku, ada banyak nikmat yang telah Allah berikan selama ini, salah satunya adalah hadirnya Baby Hilma yang menjadi pelengkap keluarga kecilku. Jadi Ramadhan kali ini ditemani dia. Selain itu, yang lebih membuatku bersemangat dalam menghadapi hari adalah adanya "Writing Challenge 30HariRamadhanDalamCerita". Masyaa Allah... Aku jadi lebih tak sabar ingin menuangkan segala hal yang mengganjal di pikiran dalam bentuk tulisan. Bersyukur dengan adanya Writing Challenge yang diadakan oleh PJ Bianglala Hijrah, aku lebih bisa mengekspresikan diri dalam dunia aksara. Sungguh menyenangkan.

Terlebih, ada banyak pengalaman yang kudapat selama mengikuti Challenge ini, tentu saja dalam masa penulisannya tak bisa dipungkiri, banyak hal yang menghambat dalam proses istiqamah dalam menulis, namun, Allah sertai kemudahan disela kesulitan yang melintang. Inilah tantangan sebenarnya yang kujadikan pengalaman sebagai pembelajaran tentang keistiqomahan dalam segala hal, khususnya kegiatan tulis menulis.

Baiklah, pengalaman apa saja yang kurasa selama proses menaklukkan challenge bergengsi ini? Check this out:

1. Saat Asyik Menulis tetiba Baby Hilma Menangis

Kalau yang ini sudah biasa dilakukan, saat sedang asyik menuangkan apa yang ada di pikiran, Baby Hilma yang sedang tidur pulas menggeliat pelan dan membuka mata, mungkin dikira tak ada orag disampingnya, Hingga dia menjerit ketakutan sambil mencengkram kain bajuku, jadilah aku menghentikan aktifitas menulisku lalu menenangkannya dan kembali menulis sambil menggendongnya, tentu saja dengan menggunakan jurus satu tangan alias hanya tangan kanan yang mengetik. :)

2. Menulis Dua Paragraf, Laptop Dimatikan Ibu

Kala itu, aku sudah susah payah mengetik dua paragraf, seolah berpacu dengan keadaan Baby Hilma yang tak begitu fit, sehingga dia lumayan rewel itu. Karena Baby Hilma menangis dan aku masih di depan laptop, ibu menyuruhku menghentikan aktifitas menulisku dan fokus terlebih dahulu ke Baby Hilma. Akupun manut saja apa yang diperintah ibu. Saat Baby Hilma mulai tidur kembali aku kembali ke depan laptop dan mendapati laptopku dalam keadaan mati. Kutanya ibu, dengan polosnya beliau menjawab "Tadi kasian laptopnya kedap-kedip terus, jadi ibu matikan saja biar ga cepat rusak.", Apaaa... Aku kaget campur kesal pastinya, tak tahan aku menangis saja sambil meratapi layar laptop yang sudah kuhidupkan kembali. Mirip anak kecil yang merengek minta dibelikan permen, seperti itulah kira-kira, lalu ibu datang dan meminta maaf dengan penuh penyesalan. Bahwa beliau benar-benar awam masalah laptop, jadi kumaafkan saja dan kurelakan dua paragraf yang sudah kubuat raib begitu saja.

3. Berebut Laptop Dengan Suami

Saat akan menulis, ada saja tingkah suami yang jelas menjengkelkanku, sudah pasti itu. Saat sedang asyik menulis, suami biasanya datang untuk menguji kesabaranku, salah satunya ingin meminjam laptop dengan alasan tugas sekolahnya. Sungguh, rasanya ada tanduk tajam keluar dari kepalaku, suami sesekali cengengesan melihat ekspresiku yang sudah tak bersahabat lagi dengannya. Jurus andalannya untuk membuatku berubah kalem lagi adalah "Hayoo... Katanya istri shalehah, ditahan dulu marahnya." Lalu suami akan pergi meninggalkanku setelah puas membuatku jengkel padanya.

4. Menulis Saat Keluarga Berbuka Puasa

Hmmm... ini merupakan pengalaman menarik hatiku, dan tentu saja aku memberi 'applause' pada diriku sendiri. Saat seluruh keluarga berbuka puasa dengan yang manis-manis. Aku berbuka puasa dengan huruf-huruf yang tertempel di keyboard laptop. Rasanya Masyaa Allah... Seolah dikejar deadline, karena kala itu aku menggunakan aji mumupung, mumpung Baby Hilma tidur dan Mumpung ide untuk menulis datang tanpa di-brainstorming lebih dulu, jadilah agar ide tersebut tak menguap begitu saja, langsung saja kutulis tanpa mengenal waktu. Hehe.

Sebenarnya, ada beberapa pengalaman manis lainnya yang tak bisa kutuangkan di sini, hanya saja pengalaman itulah yang membekas di benakku dan terjadi secara continue selama proses penulisan ini berlangsung. Indah, sungguh indah.

Selain pengalaman manis yang kudapat, juga ada beberapa manfaat saat keistiqamahan menulis 30HRDC ini dilakukan, di antaranya:

1. Aku lebih teliti saat menulis, ditakutkan banyak typo atau salah mengetik hingga kata yang dimaksud berubah. Sungguh memalukan jika ada satu atau dua ketikan yang salah, dari itu aku membaca lebih dulu sebelum memposting tulisan. Dan Alhamdulillah, ini juga berlaku saat aku mengetik tugas kantor, meneliti betul setiap kata agar tak ada kesalahan fatal saat mengetik.

2. Bertemu dengan 'keluarga baru' di grup Whatsapp Writing Challenge 30 HRDC. Rasanya memiliki teman yang memiliki satu tujuan yaitu ingin bersama belajar mengelola blog dari nol, tentu ada dari mereka yang sudah mahir dalam dunia blogging, namun semangat dari merekalah yang membuatku untuk terus berusaha bisa dalam dunia blogging. Alhasil, sedikit demi sedikit akupun mulai paham walau tak sepenuhnya. Thanks all of you..

3. Berusaha memanage waktu. Ini jelas lumayan sulit, perlahan tapi pasti aku mulai menentukan kapan aku harus menulis dan kapan aku harus beraktifitas, walau terkadang terjadi benturan di antara keduanya dan harus ada yang mengalah salah satunya. Meskipun begitu, aku tetap bersemangat untuk membagi waktu. Prinsip per-hari saat Bulan Ramadhan ini One Day One Juz and One Posting. Masyaa Allah Tabarakallah...

4. Mendapat wawasan baru. Dengan membaca setiap blog yang sudah teman-teman posting, secara otomatis aku langsung menyempatkan diri untuk membuka link yang sudah tersedia, dari itu ide segar selalu kudapat setelah membaca postingan mereka, selain itu pengetahuan mengenai sesuatupun akan bertambah.

Ya... itulah yang kurasakan selama 30 hari menempa diri dengan menulis di blog, kenyataannya menulis bersama teman-teman yang lain seolah menjadi semangat baru dan semangat beda dari biasanya. Pengalaman yang didapat pun akan menjadi pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Akhirnya, di Bulan Ramadhan ini Allah pertemukanku dengan challenge ini, pun dengan orang-orang pejuang istiqamah di dalamnya, Semoga Allah perkenankan tuk bertemu dengan Ramadhan selanjutnya pun dengan orang-orang yang lebih bersemangat lagi dalam keistiqamahannya di setiap hal. Aamiin ya Rabbal 'Alaamiin..

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Taqabbal ya Kareem... Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Mohon maaf atas segala khilaf, salah ucap, salah kekata, salah tafsir yang dapat menyinggung setiap pihak yang membaca postinganku. Se-fitrah hati yang senantiasa menderaskan diri dalam memohon ampunan pada-Nya.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 04 Juni 2019

#Day 30
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


Image Source: Google Image 

Senin, 03 Juni 2019

Zakat Pembersih Harta



Assalamualaikum...
Sepagi ini, aku sudah berdiskusi panjang dengan suami mengenai siapa yang kan menerima zakat fitrah. Karena merupakan kewajiban setiap muslim untuk melaksanakannya, sedang aku jelas panik tatkala hari kemenangan akan bersambut dan suami belum membeli sesuatu sebagai zakat, atau umumnya zakat fitrah berupa beras sebanyak 2,5 kg. Ujung-ujungnya suami jawab simpel bahwa nanti Ba'da Dhuhur insya Allah Zakat Fitrah kan ditunaikan. Alhamdulillah, lega rasanya.

Zakat fitrah merupakan suatu hal yang wajib yang harus dilakukan oleh setiap muslim, memberi zakat merupakan rukun islam yang keempat. Tujuannya sudah jelas, mengembalikan diri pada sesuatu yang fitrah, artinya mensucikan diri. Selain untuk mensucikan diri, zakat fitrah adalah sebagai pelengkap puasa serta sebagai pembersih harta, sesuai dengan sabda Rasul:

"Dari Ibnu Umar Radiyallahu Anhu sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan itu, darah dan harta mereka dilindungi dengan hak islam dan perhitungan mereka ada pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala." 
(HR. Bukhari no. 25)

Sebagai pembersih harta dan untuk mensucikan diri, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan sebelum menunaikan zakat fitrah:

1. Beragama Islam dan Merdeka
2. Menemui dua waktu yaitu di antara Bulan Ramadhan dan Syawal walaupun hanya sesaat.
3. Mempunyai harta yang lebih dari kebutuhannya.

Sudah pasti umat muslim mengetahui bahwa zakat fitrah harus ditunaikan sebelum Shalat Ied dilaksanakan. Zakat yang diberikan. Balita hingga orang dewasa wajib membayar zakat 2,5 kg beras, jika ingin berzakat menggunakan uang, seharusnya uang tersebut seharga beras 2,5 kg. Namun ada pendapat terkuat bahwa zakat tidak boleh dibayar menggunakan uang, karena pada zaman Rasulullah sudah ada uang dinar dan dirham. Solusi bagi mereka yang kan membayar zakat menggunakan uang adalah mewakilkan dengan akad 'wakalah', bahwa mengeluarkan zakat uang kepada pengurus masjid untuk dibelikan beras dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Baiklah, saat mengetahui bahwa zakat fitrah adalah wajib, tunaikanlah dengan niat yang ikhlas dan berikan pada mereka yang benar-benar membutuhkan juga, bisa diberikan kepada masjid terdekat, dan terserah masjid tersebut yang kan mengolahnya.
Dari itu, bersihkan diri tuk sambut hari yang fitri.

Wallahu A'lamu bis Shawab 

Selobanteng, 03 Juni 2019

#Day 29
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Minggu, 02 Juni 2019

Cara Untuk Memaafkan




Assalamualaikum...
Salam semangat untuk kita semua dalam menghadapi hari dan menyulam mimpi karena Allah, karena sejatinya kita hanyalah hamba yang melakoni seluruh skenario dari-Nya. 

Ramadhan hari keduapuluh delapan, hari kemenangan semakin di depan mata. Semua pernak-pernik lebaran sudah tersedia pun toples-toples berisi beberapa jajanan berjajar rapi memenuhi ruangan. Semuanya telah ada, hanya kata maaf yang masih kelu tuk diucapkan. Ya... Maaf selalu bersanding saat salah dilakukan, namun itu bagi orang yang sadar akan mengatakannya, bila tidak, ia takkan merasa apa yang telah diperbuatnya. Memang, manusia adalah tempat salah dan lupa, bila salah terus dilakukan, sisi manusianya di mana?

Meminta maaf dan memaafkan kesalahan terasa mudah diucap, sulit dilaksanakan. Masih terbesit rasa jengkel saat ingin memberi maaf, ikhlas kadang suka dipaksakan. Sesekali bayangan tentang dia yang menyakiti membayang begitu saja membentuk role film. Padahal memaafkan adalah sikap mulia dalam Islam. Seberapa berat kesalahan yang telah diperbuat, Allah telah menyuruh hamba-Nya untuk berlapang dada memaafkan kesalahan saudaranya, sesuai dengan firman-Nya:

"Dan janganlah orang-orang yang memiliki kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Dan hendaklah mereka memberi maaf dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nur: 22)

Allah Maha Pemberi Maaf, bukankah begitu? Esensi dari memaafkan adalah melapangkan hati yang yang sedang kesal terhadap perbuatan yang pernah menyakiti. Pemberian maafpun seharusnya sudah tertanam dalam diri sebelum permintaan maaf tersebut dilontarkan. Jadi dengan memaafkan, seluruh masalah yang mengganjal memenuhi relung hati diharapkan bisa menghilang dan yang memaafkan akan lebih bisa berdamai dengan keadaan. 

Cara sederhana untuk memaafkan bisa dilakukan dengan tidak membenci mereka yang telah menyakiti, walau nyatanya itu sulit untuk diterapkan. Sungguh, jika rasa benci masih saja melekat dalam diri, maka untuk melangkah ke jenjang memaafkan akan terhambat.Salah satu terbaik untuk menghilangkan rasa benci adalah dengan mengingat seluruh kebaikan yang telah diperbuatnya. 

Alternatif kedua yang bisa dilakukan tuk mendulang maaf adalah dengan membangun rasa empati pada diri sendiri. Dengan mengingat bahwa terkadang diri ini juga melakukan kesalahan, dan tentu saja perlu kata maaf kepada yang telah tersakiti baik itu disengaja maupun tidak. Rasa empati yang terbuka akan lebih membuka jalan untuk memaafkan secara mudah, semakin besar rasa empati dimunculkan, maka semakin mudah pula untuk memaafkan.

Pada akhirnya, memaafkan dan meminta maaf seharusnya menjadi kesadaran bagi diri sendiri, bahwa tentu akan ada dampak positif dan negatif saat menjalin hubungan dengan sesama. Maka dari itu, sesakit apapun yang dirasa, kata maaf semoga tetap selalu ada, terlebih setiap kejadian pasti ada hikmah dibaliknya sebagai perbaikan untuk masa yang kan datang.

Wallahu A'lamu bis Shawab

#Day 28
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Sabtu, 01 Juni 2019

Jazakallahu/i Khairan: Kata yang Sepele Sulit Diucapkan



Assalamualaikum...
Hari ini adalah hari libur nasional, yang kutahu begitu, karena tanggal merah. Bagiku, tanggal merah atau tidak tetap tak ada libur. Karena aku adalah seorang ibu 24 jam nonstop tanpa tapi. Bismillah semoga kuat, sabar dan ikhlas dalam menjalankan amanah dahsyat ini. Begitupun dengan ibu-ibu di luar sana yang juga berprofesi sama denganku. Aamiin yaa Allah.

Alhamdulillah, selepas Shalat Maghrib, baru bisa menyentuh laptop. Entah mengapa jaringan juga kurang mendukung hari ini. Alhasil, aku tak bisa meluapkan apa yang ada di benak seharian. Ya, pada jam 05:54 ini, Allah berikan kesempatan untuk menulis. Masyaa Allah, terasa nikmatnya saat harus berjibaku dengan tugas ibu rumah tangga, juga menyelaraskan dengan tugas menulis. Ada greget-gregetnya gitu. Belum lagi jikalau Baby Hilma menangis seperti malam-malam biasanya, harus extra sabar dan ikhlas dengan segala yang terjadi. Tapi untuk malam ini, aku akan berterimakasih padanya karena bisa diajak untuk bekerja sama. Jazakillah Khairan ya Bintiy .... 

Berterimakasih memang sangatlah sepele, bahkan terkadang sengaja lupa tuk mengucapkan terimakasih sebagai bentuk apresiasi terhadap kebaikan seseorang. Memang ada beberapa faktor yang membuat ucapan terima kasih tersendat untuk diucapkan. Salah satunya adalah merasa malu untuk mengucapkannya karena tak terbiasa.

Ucapan terimakasih sudah menjadi tradisi lumrah di kalangan masyarakat. Dan juga merupakan bentuk syukur atas pemberian Allah melalui tangan orang lain. Hal tersebut menjadi suatu keharusan agar tak disebut kufur atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Sesuai dengan sabda Rasul:

"Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tak akan bisa mensyukuri nikmat yang banyak."
(HR. Ahmad)

Aku jadi teringat diriku sendiri yang tak tahu berterima kasih terhadap kedua orang tua. Dulu, saat masih kuliah, orang tuaku rutin mengirimkan uang untuk bekal hidupku yang jauh dari jangkauan. Namun sungguh, lidahku kelu untuk mengucapkannya, padahal kata itu sangatlah berarti jika memang benar-benar diucapkan dengan ikhlas dan penuh kesungguhan. Bertanda bahwa aku sangatlah bersyukur atas pemberian Allah melalui orang tuaku, walau orang tuaku tak membutuhkan kata terima kasih dariku. Menyesal tentu saja, mengapa dulu aku begitu sulit mengucapkannya. Mungkinkah karena tak terbiasa mengucapkannya? Ah... Aku tak bisa mereka-reka mengapa kata itu sangat tak bersahabat dengan lidah dan hatiku.

Dari itu, aku belajar membiasakan diri dengan mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang senantiasa selalu menolong atau memberikan sesuatu padaku, khususnya kepada orang tuaku, walau saat pertama kali kuucapkan itu, orang tuaku sempat tertawa dan mengucapkan "tumben". Bagaimanapun malu itu sekatku, jadi aku harus bisa melampauinya untuk hal yang baik.

Berterimakasih merupakan kata sederhana yang bisa diucapkan sebagai balasan pada seseorang yang telah berbuat baik, namun ada frasa yang lebih bermakna dari sekadar kata "Terimakasih" yaitu "Jazakallah Khairan" yang memiliki arti "Semoga Allah membalasku dengan kebaikan". Hadits berikut ini mungkin bisa menjadi sedikit pencerahan mengapa harus mengucapkan "Jazakallahu/Jazakillah Khairan".

"Barang siapa diberikan suatu perbuatan kebaikan kepadanya, lalu ia membalasnya dengan mengucapkan "Jazakallahu Khairan" (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) maka hal itu sungguh telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya." 
(HR. At-Tirmidzi: 2035)

Sebagai alarm pribadi, mengucapkan Jazakallahu Khairan atau Jazakillahu Khairan untuk membalas kebaikan seseorang, pun juga sebagai tabungan pahala bagi orang yang mengucapkannya. Tentu saja aku harus bisa mengucapkannya kepada tetangga-tetanggaku yang notabene-nya tak terlalu peduli dengan kata itu. Bismillah, semoga aku bisa pun juga kamu yang membaca semoga mempraktekkannya.

Wallahu A'lamu bis Shawab!

Selobanteng, 1 Juni 2019

#Day 27
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source:Google Image 

Jumat, 31 Mei 2019

Saran Dalam Berbelanja




Assalamualaikum..
Semoga masih tetap bersemangat di Ramadhan yang keduapuluh enam ini ya...

Budaya konsumtif saat menjelang lebaran semakin meningkat, tak terkecuali pelaku konsumtif tersebut, siapa lagi kalau bukan perempuan. Ya, perempuan adalah dalang dari semua sikap konsumtif terhadap barang-barang yang menjadi minat hatinya. Jadi jangan heran, jika dompet yang semula tebal berubah menjadi setipis kertas, itu bukan karena apa, namun uangnya terpakai untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan tuk sambut hari kemenangan. Tim oposisi pun pasti ada, itu adalah laki-laki. Dia akan selalu protes bila pembelian barang-barang melebihi apa yang telah direncanakan semula, walau tak semua lelaki begitu tapi kebanyakan akan merasa sedikit kecewa.

Aku, sama dengan perempuan lainnya. Menyukai belanja. Kala itu, tepat H-7 lebaran, tepat pada hari Rabu kemarin, suami mengajakku untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan saat hari lebaran nanti. Naluri perempuan, tentu saja sangat senang diajak berbelanja. Aku mulai mereka-reka apa yang kan dibeli nanti. Jika tidak begitu, biasanya keinginanku akan melenceng tatkala melihat barang-barang yang menarik minat mata. Sudah kuadakan perjanjian dengan suami, hanya membeli barang-barang yang benar dibutuhkan, tidak boleh lebih, kecuali anggaran yang dibawa masih ada sisa, kemungkinan ada sangatlah tipis, karena suami yang tak suka bertele-tele pasti akan selalu membawa anggaran pas, plus dengan uang bensin dan biaya tambal ban jika ban bocor saat perjalanan. Nah lho... Senyum dulu, pasang muka khusnudzan. Suami perlahan ingin membuat sifat konsumtifku yang keterlaluan. Itu hikmahnya.

Kami berangkat saat matahari tak terlalu terik, sedikit teduh karena hujan baru saja membasahi tanah. jarum jam menunjukkan angka 02:12, itu artinya, kan tiba di tempat belanja sekitar pukul 3:00 kurang lebih setengah jam, apalagi aku membawa serta Baby Hilma, sebisa mungkin kendaraan yang kutumpangi tak bisa melaju cepat, bisa berakibat fatal tentunya. Dan sesuai prediksi, sesampai di tempat belanja tepatnya toko baju, Adzan Ashar berkumandang. 

Kulangkahkan kaki menuju toko baju yang mulai dipadati pengunjung. Lumayan lengang karena kebanyakan dari mereka berada di bagian baju koko. Baby Hilma kubawa serta, suami tentu saja menunggu di luar, dia sangat tak suka mengekor di belakangku saat berbelanja, sangat lama katanya. Jadilah, dia hanya menunggu diluar toko sambil memegang tas yang kubawa. Baby Hilma menjadi partner belanjaku, manik hitam matanya menelusuri benda-benda yang diterangi oleh bohlam lampu, dia belajar bersosialisasi dengan tempat ramai yang baru dikunjunginya. Alhamdulillah tak rewel, dia menggelayut manja dalam gendongan. Sesekali ada beberapa yang mencoba berkomunikasi dengannya. Dia hanya tersenyum sesekali mengeluarkan erangan halus dari bibirnya. Oh Allah, good job dearest...  

Sayangnya, 30 menit berputar-putar mengitari gamis-gamis yang menggantung, tak satupun yang menarik minat hatiku, hanya lelah. Ada yang disuka, harganya tak bersahabat, lumayan selangit. Ada harga tentu ada kualitas, begitu rumusnya. Kuputuskan pergi dari tempat itu dan bergegas ke tempat lain. Sebagai perbandingan. Sungguh, tak ada satupun yang cocok, sudah Tujuh toko yang kusinggahi, bukan sombong, namun aku yang terlalu berpikir panjang dalam memilih barang yang kan dipakai. Jadilah suami mengusulkan ke toko pertama kali disinggahi. Aku hanya manut, sudah pasrah, suami tentu saja lebih lelah, ia mencoba bersabar dan menahan jengkel tentunya.

Dari pengalaman yang kualami saat berbelanja, ada beberapa saran yang perlu diterapkan saat berbelanja menurutku, di antaranya:

1. Niat Lillahi Ta'ala

Segala sesuatu dimulai dari niat, niatkan berbelanja karena Allah, mintalah pertolongan pada-Nya, agar hati tak dibelokkan untuk membeli barang-barang yang tak diperlukan.

2. Menulis List/Daftar Barang yang Akan Dibeli

Yang ini sangat penting, untuk meminimalisir waktu, bisa lebih dulu dicatat apa yang kan dibeli. Agar waktu tak terbuang sia-sia saat berbelanja. Waktu banyak hanya dihabiskan untuk mencari satu barang, sehingga barang lainnya tercecer ketinggalan. Usahakan barang yang paling dibutuhkan ditulis lebih awal untuk menghindari pembelian barang yang tidak diperlukan.

3. Membawa Anggaran/Budget Sesuai Daftar Belanja yang Sudah Ditulis

Saat berbelanja, bawalah uang secukup barang yang kan dibeli, bolehlah bawa uang lebih untuk berjaga-jaga jikalau ada harga barang yang mulai melonjak naik, namun jangan terlalu banyak. Saat membawa uang melebihi batas ketentuan belanja, hasrat untuk menambah barang biasanya muncul secara alamiah. Untuk menanggulangi hal itu terjadi sebaiknya dikira-kira barang apa yang kan beranjak naik harganya. Tujuan dari hal ini agar lebih fokus pada kebutuhan utama yang masuk dalam daftar belanja. 

4. Fokus dan Disiplin Terhadap Barang yang Akan Dibeli

Istiqamah dengan daftar yang sudah dibuat sangat diperlukan dalam belanja, tujuan membuat daftar belanja untuk menghindari pembelian barang yang tidak perlukan.

5. Langsung Pulang Setelah Belanja

Langsung pulang setelah membeli barang yang sudah dibeli. Jika tidak seperti itu, maka akan menarik minat hati untuk pergi ke tempat-tempat hiburan lainnya, dan tentu saja akan menambah anggaran yang telah dibuat sebelumnya dan akan tertarik membeli barang-barang yang tak seharusnya dibeli. Kecuali memang ada rencana sebelumnya akan bepergian ke tempat yang kan dituju setelah belanja selesai dilakukan.

6. Mencatat Pengeluaran Belanja

hal ini juga sangat penting, saat berbelanja baiknya mintalah resi atau bon belanja kepada petugas yang menjaga, bila tidak ada cobalah catat sendiri barang-barang yang sudah dibeli. Tujuannya agar bisa mereview dan memprediksi pengeluaran saat akan berbelanja lagi di lain hari. 

7. Online atau Offline

Kalau yang ini adalah sesuka hati, belanja online ataupun offline sama-sama memiliki keuntungan dan kelemahan masing-masing. Tergantung orang yang kan berbelanja, jika tak ingin repot berjalan ke toko bisa membeli barang secara online, namun jika merasa tak puas hanya duduk dan menunggu barang datang, alternatif lain saat berbelanja adalah offline, yaitu mendatangi langsung tempat belanjanya dan bisa memilah memilih sendiri barang apa yang kan dibeli.

Saran ini insya Allah bisa dijadikan acuan saat berbelanja, apalagi mendekati hari kemenangan, banyaknya orang yang kan berbelanja kebutuhan. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat. 

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 31 Mei 2019

#Day 26
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source:Google Image

Kamis, 30 Mei 2019

Stop Ghibah!



Assalamualaikum...
Adakah dari pembaca yang belum tidur malam ini?
Jika begitu kita sama, mataku tak bisa diajak kompromi, saat tubuh ingin melepas lelah, mata tak ingin merebah. Apa bisa dikata? Tuk memancing rasa kantukku, kucoba membuat oretan ringan sebagai wujud muhasabah diri selama beberapa hari kemarin. Ya... Harus kulakukan itu, barangkali ada kata yang tak sengaja terlontar dan tanpa sadar telah menyakiti pendengar. Itu saja, karena keselamatan seseorang terletak pada penjagaan lisannya.

Sungguh, setiap hari bahkan setiap waktu, topik pembicaraan selalu ada. Entah itu tentang semua hal yang berkenaan dengan pendidikan, perikanan, pernikahan hingga gosip-gosip murahan tak lepas dari sorotan. Sangat disayangkan jika dalam kurun waktu 24 jam, lisan hanya digunakan tuk melontarkan kata-kata yang belum tentu menuai manfaat untuk diri sendiri dan orang lain, syukur-syukur mendapat pahala dari Allah. Bukan apa-apa, tatkala ada topik yang menyegarkan tuk dibahas, mau tak mau mata dan telinga ikut fokus menyimak dan menimpali. 

Ah kukatakan seperti ini, karena lingkunganku adalah lingkungan rawan gosip. Setiap hari selalu ada yang tersampaikan, mau tak mau akupun turut serta mendengarkan. Ada perasaan tak enak bila aku langsung berlalu pergi meninggalkan segerombolan orang-orang yang berantusias menyampaikan. Ingin tutup telingapun aku tak mampu, karena diri juga menikmati. Astaghfirullah... 

Yang menjadi topik pembicaraan pun kadang tetangga sendiri. Inilah Ghibah, membicarakan  atau menggunjingkan keburukan orang lain tanpa mencari kemaslahatan dari orang yang dibicarakan. Ibarat orang yang memakan daging saudaranya sendiri. Sangat mengerikan. Bila tak ikut nimbrung, bisa jadi diri inilah yang kan menjadi sasaran. 

"Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang, jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu memakan daging saudaramu yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)

Ghibah atau menggunjing merupakan dosa besar, sebesar apa hanya Allah yang mengetahui. Namun, Ghibah seolah menjadi idola. Banyak peminatnya, media yang digunakan tentu saja dengan lisan maka tak salah jika ketajaman lisan lebih tajam dari ketajaman pedang, karena ia bisa melukai siapapun hanya sekali ucapan menyakitkan. Menganggap diri paling benar dan tak pernah berbuat salah, sehingga menjadi sangat wajar bila menjadi pemateri saat ghibah berlangsung, Naudzubillahi min Syarri Dzalik. Hanya orang-orang yang melekatkan asma Allah di hati dan pikirannya yang kan menjauhi perbuatan itu.

Diri ini adalah makhluk lemah, yang takkan bisa hidup tanpa bantuan sesama. Sesaat mungkin bisa berdiri sendiri, tetapi tidak dengan hidup sendiri. Sosialisasi dan tetap membangun hubungan baik dengan lingkungan sekitar. Ghibah hanya akan melengkapi daftar dosa yang telah sering diperbuat. Meminimalisir Ghibah atau bahkan menjauhinya sama sekali sangatlah dianjurkan demi kebaikan di masa yang kan datang. Momen Ramadhan akan berlalu sebentar lagi, alangkah baiknya kesempatan yang sempit ini dijadikan ajang untuk berhenti menggunjing dan memperbaiki kesalahan dengan bertaubat kepada Allah. 

Sejatinya, apa yang kutulis adalah 'cubitan' bagi diriku sendiri untuk membenahi segala kesalahan yang telah terjadi. Pun diri pernah menjadi objek ghibah, saat mendengar sendiri apa yang disampaikan, sakitnya benar-benar menguliti hati. Andai saat berbicara terbesit pikiran "Bagaimana jika aku di posisi dia?" niscaya ghibah takkan terjadi. Sayangnya nihil, pelaku ghibah seolah menjelma menjadi hakim, memutuskan yang dirasa benar dan salah. Padahal Allah lah yang berhak memutuskan, bukan makhluk-Nya.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 30 Mei 2019

#Day 25
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Image Source


Rabu, 29 Mei 2019

Jalinan Ukhuwah Islamiyah



Assalamualaikum...
Masya Allah untuk hari ini. Hari cerah lalu hujan datang tanpa diundang. Alhamdulillah, setelah beberapa minggu hujan tak jua kunjungi desaku, namun di Ramadhan yang ke Duapuluh Empat ini, ia berkesempatan datang walau hanya sebentar. Allahumma Shayyiban Naafi'an. Hujan membawa berkah untuk semuanya. Aamiin.

Di rumah, aku berdua dengan Baby Hilma, kerempongan ibu muda memang selalu diuji kala di rumah sepi, tak ada yang berganti untuk menjaga bila hasrat ingin ke kamar mandi datang. Qadarullah, Hilma anteng hari ini, seolah sadar bahwa Umma-nya sedang lelah sepulang kerja. Alhamdulillah. Semoga lisan tak jua sepi berucap syukur karena Allah hadirkan ia di tengah-tengah keluargaku.

Sore hari, suami menawariku untuk berbuka bersama dengan teman-temannya, perasaan senang menyelinap tanpa permisi, namun diselingi was-was karena Baby Hilma yang masih flu dan tak kuat dingin karena akan bepergian sebelum Maghrib menjelang. Kuyakinkan suamiku bahwa semuanya kan baik-baik saja, Insya Allah, Baby Hilma takkan rewel. 

Berangkatlah kami ke tempat yang ditunjuk oleh teman-teman suamiku, Baby Hilma tidur lelap dalam pangkuanku. Bisa dibayangkan udara dingin menyerang, angin berpacu kencang mengikuti di setiap jalan karena kami hanya mengendarai sepeda motor. Sesampai di sana, aku dan suami disambut ramah oleh teman-teman suami yang notabene-nya sudah berkeluarga, bahkan beberapa dari mereka mengikut-sertakan anak-anak mereka. Ya Allah, mereka benar-benar sopan dan sangat menghargai tamu. Anggap saja aku tamu, karena kami tak saling mengenal sebelumnya. 

Kami berbincang ringan sambil menunggu adzan Maghrib tiba, saling berkenalan dan bertukar nama. Inilah yang kusuka, Ukhuwah Islamiyah terasa sangat kental. serasa memiliki keluarga baru walau tak saling bertemu, andai tak terbatas waktu mungkin aku sudah ikut menceburkan diri dengan perbincangan hangat dengan mereka. 

Ukhuwah Islamiyah memang seharusnya terus dibangun, agar tak terpecah-belah dan saling menjatuhkan, sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah:

"Belum disebut beriman di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari) 

Sungguh, membangun persaudaraan dengan orang-orang baru sangatlah menyenangkan. Di satu sisi, ada banyak kebaikan yang didapat. Setiap individu pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, dari persaudaraan yang dibangun, maka satu di antara yang lain akan saling melengkapi dan menyempurnakan. 

"Innamal Mu'minuna Ikhwatun."

Adalah merupakan sebuah refleksi keimanan dalam mengaplikasikan diri jika berhasil memelihara ukhuwah islamiyah. Tatkala hati dirundung sedih oleh lisan orang-orang yang dianggap saudara, seketika itu, serasa ukhuwah islamiyah akan musnah. Betapa menjaga ukhuwah di antara sesama sangatlah tidak mudah, perlu adanya sikap khusnudzan (Berprasangka baik) berkepanjangan untuk terus menjalin persaudaraan. 

Dari itu, bertemu dengan orang baru dapat menjadikan diri lebih bermakna untuk orang lain. Walau hanya pertemuan sesaat, mereka akan menilai sendiri yang terbaik dari orang yang dikenalnya.

Pelajaran inilah yang kudapat dari acara buka bersama dengan mereka, keluarga baruku. Pertemuan singkat namun sangatlah bermakna. Syukran Abuya Hilma sudah mengajakku untuk buka bersama dan bertemu saudara-saudara yang baru kukenal. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk bertemu dengan mereka di lain waktu dan di lain kesempatan. Aamiin ya Allah.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 29 Mei 2019

#Day 24
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Selasa, 28 Mei 2019

Perwakilan Rindu




Assalamualaikum...
Masih semangat tuk lanjutkan puasa?
Semoga Allah senantiasa kuatkan sampai adzan Maghrib menjelang. Aamiin...

Kali ini aku ingin bercerita mengenai rindu. Rindu yang dirasa tabu karena ia takkan tersampaikan, kecuali Allah berkehendak lain dan mempertemukanku dengan mereka yang kurindui. Tentang rindu yang sering kali datang diundang keadaan yang terputar oleh jarak dan waktu. Tak salah merindu bila tak keluar dari batas koridor agama. Rindu yang halal, bukankah begitu?

Ah rindu... Bukan rindu biasa yang ditampilkan di sinetron-sinetron layar kaca, yang sekali scene langsung mereka pertemukan dengan yang dirindukan. Bila hanya satu kedipan mata lalu datang bersama saling membunuh rindu. Namun tidak seperti rinduku, Kuharap rinduku suci sesuci yang kurindukan. 

Adalah mereka yang senantiasa mengajakku ke jalan yang benar, ke jalan yang memang terjal jika hati tetap tak ingin berbelok tuk menghadap-Nya. Adalah mereka yang kurindukan, yang senantiasa ikhlas menerima acuhku, marahku, sedihku dan segala hal tentang kejelekanku ketika tak kusambut ajakan baik mereka. Mereka ada dengan keimanan terpatri di dada, ketakutan terhadap Allah luar biasa, dan menerima orang-orang yang ingin bersama menguatkan ukhuwah dengan mereka. Sangat mengagumkan, kuyakin hati mereka terbuat sama dengan orang-orang kebanyakan hanya saja mereka lebih sering memoles hati mereka dengan dzikir dan istighfar kepada Allah.

Penyesalan mendalam mengapa dulu tak kuterima ajakan mereka, mereka berbaik hati membantu membukakan pintu pahala, dengan sabar membimbing dan meladeni segala kebodohanku mengenai agama. Lalu aku pergi tinggalkan mereka, karena kurasa tak ada guna berkecimpung dengan mereka yang jilbaber kelas kakap, gamisnya menjuntai panjang menutup seluruh permukaan mata kaki. Pegangan mereka setiap hari adalah kitab-kitab tebal yang tak kuketahui isinya. Sesekali mengadakan diskusi kecil membahas permasalahan yang mengoyak hati, mungkin aku termasuk di dalamnya. 

Aku merindui mereka, hari ini dan seterusnya. Pelampiasannya hanya kucurahkan melalui doa, sebaik-baik doa menurutku. Walau kutak yakin doaku dapat menyaingi kebaikan mereka yang selalu berbaik hati menolong yang membutuhkan. Mereka berpencar, berpindah mengejar impian masing-masing namun tetap dengan pemikiran dan keinginan yang sama. Kekokohan agama Allah.

"Teman yang baik adalah mereka yang membuatmu menangis, bukan mereka yang membuatmu tertawa"  

Ya... Aku hanya berdoa dengan memikul penyesalan panjang, mengapa dulu tak kuiyakan saja setiap ajakan yang mengajakku berhenti kepada kemaksiatan. Mengapa dulu tak kuhiraukan saja saat mereka mengajakku diskusi segala hal untuk kebaikanku ke depannya. Apa yang salah dengan diriku, mengapa hatiku berkeras batu dalam hal kebaikan. Meski sejatinya aku hanya berucap bahwa Allah mengubah haluanku dalam menjalani hidup, tapi Allah takkan merubah nasib seorang hamba kecuali hamba tersebut yang merubahnya sendiri. Inilah salahku. Untuk menebus segala salah dan dosaku, aku harus tertatih sendiri dalam memperbaiki diri, tanpa teman, tanpa mereka tentunya. 

Doa yang terpanjat semoga menjadi awal baru tuk mereka dalam memaafkanku, sungguh, teman yang baik adalah teman yang senantiasa mengingatkan, mengayomi dan menegur kala hati condong tuk bermaksiat pada-Nya. Bukan mereka yang sering tertawa ria tanpa mengingat kematian. Teman yang baik adalah mereka yang pantang menyerah menyeru kebaikan dan bersama berbenah diri menuju Ilahi. 

Teman... Jarak kita terhalang, laju komunikasi juga tak terjalin, harapanku adalah doa. Doa ikhlasku turut menyertai langkah Antunna, Aku cintai Antunna karena Dzat yang pertemukan kita dalam waktu yang tak terprediksi sebelumnya. Dalam keadaanku yang tak sama dengan Antunna kala itu. Doa terbaik untuk Antunna yang jauh dari jangkauan namun dekat dalam hati berpandang. Teman terbaik, se-syurga karena-Nya.

Wallahu A'lamu bis Shawab 

Selobanteng, 28 Mei 2019

#Day 23
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah



Senin, 27 Mei 2019

Musibah Tuk Menguatkan




Assalamualaikum...
Semangat pagi... Sudah terlintas banyak harapan saat pagi menjelang, menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Setiap kesalahan yang dilakukan semoga berujung maaf yang didulang.

Pagi ini, tak banyak yang bisa kulakukan, rasa kantuk masih tetap saja melekat dan enggan pergi dari mataku, padahal hari ini adalah hari senin, diri dituntut untuk bersemangat untuk beraktifitas. Sungguh, andai Hari Senin ini adalah hari libur, niscaya tubuhku juga tak ingin jauh dari kasur. 

Doa saat pagi menjelang baru saja kurapalkan, katanya jika membaca doa maka Allah akan menjaga kita sepanjang waktu, jauh dari segala musibah. Aamiin, semoga Allah jauhkanku dan keluargaku dari segala musibah. 

Mendengar kata musibah, rasanya nyali sudah menciut lebih dulu. Manusia selalu lekat dengan musibah, kala musibah datang menghadang kekecewaan turut datang mengundang bahkan bila tak dapat diselesaikan, Allah kan menjadi sasaran amarah. Naudzubillahi. Bahkan sekalipun sudah melakukan berbagai hal, musibah juga tak kunjung usai. Padahal, musibah adalah ujian kenaikan derajat seorang manusia, seberapa kuat dan seberapa sabar ia bertahan dalam menghadapi musibahnya.

Musibah sejatinya untuk menguatkan, Allah lebih mengetahui kapasitas keimanan seorang hamba. Saat seseorang ditimpa sebuah musibah, itu artinya ia mampu bertahan dan mampu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya. Namun, banyak yang tidak sadar, seperti aku. Jika ada masalah bisaku hanya menangis tanpa mencari solusi, akan bergerak cepat bila ada yang memotivasi. 

Kenyataan yang sering didapati dalam kehidupan adalah setiap kesenangan pasti ada kesedihan. kuncinya bersyukur saat mendapatkan kesenangan dan bersabar kala ujian datang. Musibah yang datang sesuai porsi diri, tatkala ia datang bahkan tak melihat keadaan lebih dulu. Sesaat mungkin terasa menyakitkan namun nantinya akan terbiasa. 

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan padamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi kepada mereka orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan "Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un."  

Sejatinya, apa yang kutulis adalah untuk menghibur dan menguatkan diriku sendiri, sungguh aku tak cukup bersahabat dengan musibah yang kerap datang, beraniku hanya diam namun kadang juga tak sabar. Inginku musibah yang kuhadapi lekas selesai dan hidupku kembali normal. Inilah bentuk keegoisan seorang hamba, ingin masalah selesai dengan sekali kedipan mata. Padahal arti ayat di atas sudah dengan sangat gamblang menjelaskan bahwa Allah akan memberikan kabar gembira bagi mereka yang sabar. Bukankah yang diberi masalah dituntut untuk bersabar dan tetap bertawakkal pada-Nya?

Musibah datangnya dari Allah, hanya pada-Nyalah permintaan pertolongan, bukan kepada selain-Nya. Mintalah disetiap sudut malam dikala sepi menjelang, saat tak ada yang mengganggu hanya diri dan Rabbiy. Ahh... sangat melegakan saat mengadukan segala yang mengganjal di dada, dengan harapan kan ada pencerahan dan penyelesaian. Sungguh Allah takkan membiarkan hamb-Nya terpuruk saat solusi masalah telah ditemukan.  

Semangat untukku dan untukmu yang sedang dirundung musibah, semoga Allah kuatkan dan memberikan jalan keluar melalui kuasa-Nya. Aamiin Ya Rabb ya mujibas saailiin.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 27 Mei 2019

#Day 22
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Minggu, 26 Mei 2019

Tradisi Baju Baru



Assalamualaikum...
Semangat sore, semangat melanjutkan puasa bagi yang menjalankannya. Pun bagi yang tak bisa menjalankan ibadah puasa karena ada halangan, bisa juga mencari pahala dengan membantu menyiapkan atau menyediakan menu buka puasa untuk mereka yang sedang berpuasa. :)

Sore ini, adalah sore ke Duapuluh satu Ramadhan. Tradisi sesaat sebelum lebaran menjelang, pernak-pernik idul fitri semakin dirasa kental. Salah satunya yang kulakukan dulu sebelum Hari Raya menjelang adalah membeli baju baru. Maklum, tradisi membeli baju baru menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan bagiku karena dilakukan setiap satu tahun satu kali yaitu pada saat hari raya Idul Fitri, yang nantinya dipakai pada saat Hari Raya Idul Adha tanpa membeli lagi.

Baju baru memang selalu berhasil membuat mood-ku berubah. Yang semula kesal, berangsur membaik setelah mendapatkan baju baru. Apalagi jika baju baru yang kupakai memiliki kembaran, biasanya anak tetanggaku juga memakai baju yang sama seperti yang kubeli. Rasanya memiliki saudara kandung walau hanya terlihat memakai baju yang sama. Atau saling membandingkan baju yang sudah dibeli dengan teman lainnya, walau tak ber-brand merk terkenal, namun adalah hal yang menyenangkan ketika baju baru serentak dipakai.

Itu adalah kenangan masa kecilku dulu, menjadikan baju baru seolah mendapat berlian mahal, senangnya bukan kepalang tanpa memikirkan keadaan orang tua yang sering mengalami masalah keuangan. Namun mereka dengan suka rela membelikan apa yang kumau bahkan mereka tak segan merogoh budget untuk membeli beras saat hari raya berlangsung. Entahlah, aku benar-benar tak memikirkan perasaan mereka. Yang kupikirkan adalah aku harus berbaju baru layaknya teman-temanku yang lainnya.

Setelah menikah dan membina rumah tangga, pikiran untuk membeli baju baru tak menggebu seperti dulu, bukan tak ingin memiliki baju baru hanya saja anggaran untuk membelinya harus benar-benar ditekan demi kebutuhan lainnya. Oh Allah... Inikah yang dipikirkan orang tuaku dulu? pikiran ini terbesit begitu saja saat 10 hari terakhir Ramadhan berlalu tanpa membeli baju baru.

Aku bersyukur karena suami selalu mengingatkan, untuk masalah harta lihatlah mereka yang ada di bawahmu, sedang untuk masalah ilmu lihatlah mereka yang ada di atasmu. Selalu beliau katakan bila aku tak bisa menghentikan keinginanku. Karena memang tabiat perempuan yang selalu ingin membenamkan diri dengan hal-hal berbau mall atau toko. Termasuk aku. Bukan tidak kesal saat hasrat terhadap benda yang diinginkan tak terpenuhi namun berbentur dengan kebutuhan lain yang lebih urgen. Alasan klasik suami yang cukup ampuh tuk meredam amarahku adalah Hilma, anak kami. Kebutuhan Hilma lebih penting dari kebutuhan lainnya, jadi sebagai orang tua sebaiknya mengalah dulu demi anaknya.

Itu artinya, keinginan kadang berbanding terbalik dengan keadaan. Sebagai orang tua seharusnya belajar untuk mengendalikan diri untuk hal-hal yang ingin dibeli. Boleh saja jika menginginkan baju baru tuk sambut hari raya asal keuangan stabil dan kebutuhan lainnya dapat terpenuhi walau hanya melalui prediksi. Pun tak hanya orang tua, yang masih single atau tak berkeluarga harusnya lebih bisa me-manage keuangan sebagai bentuk pembelajaran saat berkeluarga nanti.

Baju baru seharusnya juga bisa membentuk hati yang baru, ketaatan yang baru karena apa yang tampak dari luar kadang tak sesuai dengan apa yang ada di dalam. Baju baru bisa jadi pelengkap atau reward bagi diri untuk selalu memperbaharui taqwa pada-Nya.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 26 Mei 2019

#Day 21
#OneDayonePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google image

Sabtu, 25 Mei 2019

Metamorfosa Masa Muda




Assalamualaikum...
Bagaimana puasamu hari ini? 10 hari terakhir Ramadhan sudah menghampiri, itu artinya Ramadhan sebentar lagi akan pergi, padahal beberapa rencana belum terealisasi. Hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Mengenai amanah yang telah diemban pun perlu dijalankan, memaksaku untuk segera berbenah diri untuk mengikuti arus peradaban. Tak hanya itu, masa muda yang katanya masa menyenangkan tanpa diminta pun pasti akan berlalu dan berganti. Bukankah begitu?

Masa muda yang dikata penuh cerita, penuh warna gelembung-gelembung berwarna merah muda, mengoyak pertahanan iman untuk mengikuti kemauan diri, sungguh menyenangkan memang. Menjadi pemudi dengan seabrek kegiatan tanpa memikirkan apa yang kan terjadi, adalah prinsip yang sudah tak perlu dirahasiakan lagi. Ah Masa muda... penentu masa depan dengan melakukan hal-hal berarti. 

Aku jadi teringat kisahku yang memalukan, virus merah jambu yang menggrogoti jiwa seakan memutus rasa malu untuk melihat dan bertanya tentang dia, objek yang disukai. Pelepasan sikap masa kanak-kanak yang kuanggap akan segera punah bila rasa cinta itu datang. Masa muda inilah waktunya, ditandai dengan rasa suka terhadap pasangan. Malu-malu tuk mengakui padahal debaran terasa dalam hati, hingga yang bersahabatpun terancam bubar karena pertikaian perasaan. 

Masa muda adalah masa emas yang harus dipergunakan untuk meng-upgrade kualitas diri, tak hanya berpatok pada paras yang rupawan, namun potensi juga harus diprioritaskan. Bukankah sangat mengagumkan bila masa muda digunakan untuk eksistensi diri untuk hal yang bermanfaat untuk umat, pun juga tahan terhadap godaan dunia yang semakin menggila. Semangat masa muda selalu dibuktikan dengan kontrol diri yang tak keluar dari syariat agama.

"Tidak akan bergeser kaki seorang manusia dari sisi Rabb-nya sehingga ditanya tentang 5 (Lima) : Tentang umurnya dalam apa ia gunakan, Tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya dari apa ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, tentang apa yang ia amalkan dari apa yang diketahui (Ilmu)"
(HR. ) 

Adalah masa muda, masa mendewasakan diri dengan berbagai hal, mencari jati diri dengan memperbanyak teman sepemikiran, tak hanya eksis namun juga disertai dengan potensi. Dibuktikan dengan semangat terbingkai dalam syariat islami. Metamorfosa yang seharusnya membawa perbaikan untuk masa tua nanti.

Sangatlah luar biasa bila masa muda ditasbihkan dengan berperilaku terpuji tanpa ingin dipuji. Padahal pemuda sangatlah cenderung terhadap dunia dan sangat bersemangat tuk menggapainya. Sungguh, apa yang terjadi pada dunia nyata sekarang sangatlah memprihatinkan. Banyaknya kalangan yang bergerombol ingin menunjukkan dirinya ada, hanya saja cara yang digunakan adalah salah. Dan yang sangat memprihatinkan dari mereka adalah berusia muda. Semoga dijauhkan dari hal sia-sia dan merusak generasi, Aamiin.

Metamorfosa masa muda seharusnya untuk menggali bekal untuk masa tua, kala diri sudah renta dan tak ada yang bisa dilakukan selain berdiam tanpa tapi. Apa yang ditanam itulah yang kan dipetik. inilah yang disebut kaidah hidup. Selagi bisa, kegiatan positif di masa muda sangatlah membantu untuk perbaikan diri selanjutnya. inilah yang menjadi PR untukku.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 25 Mei 2019

#Day 20
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Jumat, 24 Mei 2019

Menolong Agama Allah



Assalamualaikum...
Semoga selalu bersemangat di Ramadhan hari kesembilan belas. Allahu Akbar!

Sambil menemani Baby Hilma yang sedang terlelap dalam tidurya, aku mencoba flashback terhadap semua hal yang telah terjadi dan kulalui selama ini. Syukur Alhamdulillah, Allah memberikan apa yang sebenarnya kubutuhkan, bukan apa yang kuinginkan. Salah satunya adalah aku yang berkeinginan melanjutkan  pendidikan  ke jenjang S2, namun Allah rubah haluanku dengan menikah dan memiliki anak. Hikmahnya, agar aku belajar mendewasa tanpa menghabiskan uang kedua orang tua dengan menangguhkan segala inginku. Baru paham itu setelah memiliki keluarga kecil sendiri, Alhamdulillah.

Dari itu, aku mulai menyadari bahwa Allah telah menunjukkan salah satu kasih-sayang-Nya padaku. Sering kali begitu, dan aku seperti tak tahu cara untuk membalas budi dengan menolong Agama Allah. Siapapun yang menolong agama-Nya, maka Allah akan menolongnya. Bukankah sudah jelas dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya, Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." 
(QS. Al-Hajj: 40)

Menolong dalam artian bermujahadah (Bersungguh-sungguh) dalam menegakkan agamanya dan menjalankan segala apa yang telah diperintah-Nya agar agama seseorang lebih kokoh dan teguh dalam dirinya. 

Aplikasi menolong agama Allah memang akan sangat terasa bila berada dalam medan jihad. Seperti halnya ikut perjuangan di Gaza, Palestina. Mengikut-sertakan diri berkecimpung langsung melawan laknatullah Israel. Sungguh sangatlah menyayat hati melihat perjuangan Rakyat Gaza mempertahankan Iffah dan Izzah negaranya. Belum lagi bila melihat tangan-tangan mungil malaikat kecil memegang batu atau benda lainnya untuk berjaga-jaga jika tentara zionis datang mengganggu. Betapa Allah telah menunjukkan kekuasaannya dengan memperkenankan perempuan-perempuan Gaza melahirkan bayi-bayi kembar sebagai ganti mujahid-mujahidah yang telah wafat mendahului. Syurga untuk mereka Insya Allah.

Haruskan membantu mereka? Apalah daya dan kuasa, diri yang lemah dan tak memiliki dana untuk menceburkan diri di medan yang dirahmati Allah tuk menolong agama-Nya. Bukan tak ingin, sebagai perempuan aku hanyalah bisa menyumbang seuntai doa untuk saudara-saudari yang ada di sana, walau tak saling mengenal, rasa simpati dan empati kuat menekan diri. Allah tak memaksa seseorang tuk berjuang mengikuti barisan gagah untuk berperang memenangkan agama-Nya.

Menolong agama Allah bisa dilakukan walau dengan tidak berperang melawan musuh Allah. Menolong Agama Allah bisa diaplikasikan dengan jihad melawan hawa nafsu agar tak terseret arus menyesatkan dan kemaksiatan. Tak salah bila diri berjuang melawan segala hal yang sangat dimurkai oleh Allah. Terkadang melawan hawa nafsu sangatlah sulit untuk dilakukan, tatkala hati ingin berpegang teguh untuk selalu beristiqamah dalam melaksanakan ibadah kebaikan, selalu saja ada penghalang dan rintangan yang bisa membuyarkan keistiqamahan. 

Istiqamah dalam kebaikan juga termasuk menolong agama Allah, Ikhlas dalam menjaga amanah yang telah diberikan-Nya untuk seorang hamba. Oleh karena itu, setiap yang mengaku muslim atau muslimah harus menerima syari'at Allah dengan penuh kepatuhan dan keyakinan bahwa seluruh apa yang telah disyari'atkan adalah yang terbaik bagi makhluk-Nya demi menolong agama-Nya. Semoga Allah berikan kekuatan untuk selalu siap beristiqamah di jalan-Nya. Aamiin ya Rabbal Aalamin

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 24 Mei 2019

#Day 19
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

NB: Apa yang tertulis adalah sebagai pengingat diri

Image Source: Google Image








Kamis, 23 Mei 2019

Bukan Emansipasi, Hanya Abdi Suami



Assalamualaikum... masih tetap dalam nuansa Ramadhan Kareem..
Semoga iman selalu teguh dan tahan terhadap setiap godaan yang datang. Aamiin.

Ingin rasanya melepas penat dengan merehatkan badan sejenak. Menjadi seseorang yang diamanahi buah hati, haruslah siap menahan dan menangguhkan segala lelah, bukan karena merasa sempurna sebagai perempuan, hanya saja mencoba memaksimalkan diri dari segala hal rumah tangga sangatlah diperlukan.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 03:00 WIB, aku masih terpekur kaku di depan laptop. Ada banyak hal yang ingin kutulis, namun terbatas waktu dan keadaan. Sesaat memang ada waktu santai saat Baby Hilma dalam pangkuan neneknya atau pada saat dia terlelap dalam tidurnya. Hanya beberapa menit dan dia sudah ada dalam rengkuhanku. Tidak dengan terpaksa kutangguhkan segala hal tuk membuatnya terlelap kembali.

Aku sudah berkeluarga, pun aku juga sudah bekerja. Aku perempuan yang diharuskan bekerja di dalam rumah dan mengurusi segala tetek-bengek rumah tangga, ini adalah anjuran, mau menggugat pun sudah ada dalil Al-Qur'an yang menguatkan bahwa sebaik-baik tempat bagi perempuan adalah rumah.

"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyah yang dahulu." 
(QS. Al-Ahzab:33)

Aku perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah, tentang perempuan yang bekerja di luar rumah selalu menampilkan spekulasi negatif di kalangan masyarakat sekitar. Seolah, perempuan yang bekerja di luar rumah hanya akan menampilkan rusaknya tampilan indah dalam dirinya. Mereka beranggapan bahwa perempuan yang bekerja di luar rumah sudah tidak puas dengan hasil kerja suami yang tak seberapa atau lebih mengedepankan ego dari pada hati nurani untuk meluangkan waktu bersama buah hati.

Baiklah, kukatakan bahwa itu tidaklah benar, perempuan yang bekerja adalah perempuan abdi suami, bukan berprinsip emansipasi. Perempuan yang mau membantu ekonomi keluarga. Oh tidak, bukan karena aku tak puas dengan nafkah dari suami atau tak memiliki hati nurani tuk menjaga si buah hati. Hanya saja, aku menyadari adanya potensi diri yang sangat sayang jika dibekukan begitu saja tentu atas izin dan restu suami. Masalah mengurus anak, jujur saja kubawa anakku kerja setiap hari, karena jarak rumah dengan tempat kerja lumayan dekat. Jangan tanyakan seberapa banyak cibiran dan ucapan tak pantas mendarat di telingaku, sudah banyak dan sudah biasa, tentu saja kupasang wajah seolah tak peduli demi menahan perihnya hati. Sudah bukan hal baru lagi jika manusia hanya mampu berkomentar tanpa mengetahui konsekuensi hati yang tersakiti. 

Di desaku, banyak ibu-ibu muda maupun tua bekerja membantu suami. Mereka bahu-membahu merawat dan mengopeni hasil pertanian demi anak yang menuntut ilmu hakiki. Maklum, masyarakat pedesaan notabene-nya adalah petani, wajar saja bila 70% ibu-ibu sering berada di sawah atau di ladang, selebihnya ada di rumah bila petang menjelang. 

Bukan tak ingin kehidupan mapan dan serba berkecukupan bak di film-film yang tampil di layar TV, suami bekerja di kantor, dan istri hanya menunggu di rumah sambil merawat dan mendidik anak selebihnya, ekonomi keluarga stabil dan terjamin. Berbanding terbalik dengan kehidupan nyata, ekonomi menghimpit, sedang lahan pekerjaan pun tak ada. Jadilah bertani menjadi pilihannya, yang melibatkan seluruh bendahara rumah tangga yang seharusnya duduk manis di rumah, harus turut serta membantu kepala keluarga demi keberlangsungan hidup yang sejahtera.

Perempuan bekerja memang terdengar sangatlah tabu, bertebaran fitnah di mana-mana. Bekerja di luar ataupun di dalam rumah haruslah mengantongi izin suami jika sudah berkeluarga, berpakaian syar'i dan niat karena Ilahi Rabbiy. Perempuan bekerja di luar rumah tentu ada alasannya.

Sekadar sharing dariku, semoga lebih membukakan mata hati kita agar tak selalu beranggapan buruk terhadap perempuan yang bekerja di luar rumah, mereka bekerja karena ada tuntutan yang mengharuskan diri mereka bekerja, kadang itulah alasan utamanya.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 23 Mei 2019

#Day 18
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


Rabu, 22 Mei 2019

Kisah Si Penjual Kain



Assalamualaikum... ini adalah Ramadhan hari ketujuh belas. Masya Allah, malam Nuzulul Qur'an sudah terlewati, Tinggal mengubah diri untuk selalu dekat dengan Al-Qur'an. Jadikan Qur'an sebagai sahabat karib di setiap waktu, Allah akan mudahkan segala hal dalam hidup. 

Sepulang dari balai desa, Matahari seolah tepat berada di atas kepala, panas menyengat. Kuletakkan Baby Hilma yang saat itu berada dalam pelukanku. Dia lumayan rewel, mungkin karena tak tahan dengan panas yang menjalari tubuh mungilnya. Selang beberapa menit kurebahkan diri, sepasang suami istri berusia renta mengucapkan salam. Aku tak terlalu memperhatikannya, karena aku fokus mengurus Baby Hilma yang mulai merengek-rengek untuk digendong lagi. Bapakku yang menjawab salam mereka. Sedikit penasaran, kutinggalkan Baby Hilma yang berangsur diam karena neneknya (Ibuku) datang dan menenangkannya. 

Kusapa dan kusalami mereka. Senyum tulus terpancar dari bibir mereka. Aku memanggil mereka dengan sebutan kakek dan nenek. Guratan berlipat terbingkai jelas di wajah, menandakan bahwa umur mereka separuh abad. Kagum sekaligus kasihan, karena mereka masih kuat berjalan di umur yang tak lagi muda dengan membawa satu tas besar berisi celana, handuk dan sampir. Kuketahui mereka penjual kain. 

Setelah berbincang santai, kuketahui mereka dari Beringin, Situbondo. Desa yang letaknya lumayan jauh dari desaku. menurut penuturan si kakek, bahwa beliau sudah biasa berjualan jauh dari desa ke desa demi mencari rezeki yang halal. Saat kutanya mengapa tak bersama dengan anak-anak kandungnya, beliau menjawab bahwa beliau sudah terpisah dengan anak-anaknya yang sudah bisa mandiri dan sukses karena kerja keras. Salut, orang tua hebat yang tak mau bergantung dari hasil jerih payah anaknya.

Perbincanganku tak hanya berhenti sampai di situ saja, aku juga menanyakan rahasia sukses kakek yang sudah berusia renta namun masih dengan sangat jelas mendengar apa yang kukatakan, sungguh ini adalah pertanyaan iseng yang kulontarkan tuk hilangkan penatnya setelah seharian berjalan mengelilingi desa sambil menawarkan barang dagangannya. Tak disangka, beliaupun berkisah singkat mengenai hidupnya. Tentu saja, aku, ibuku dan nenek mendengarkan dengan seksama. Dikatakan bahwa penglihatan dan pendengaran beliau masih bagus. Saat orang berbicara dengan jarak lumayan jauh, beliau bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Pun dengan penglihatan yang jernih. Rahasianya, beliau berhenti merokok sejak tahun 2013 lalu. Karena rokok beliau sempat sakit keras. Dan akan berhenti merokok bila sakit yang dideritanya sembuh. Qadarullah, Allah kabulkan keinginannya. Itulah mengapa, beliau juga menegaskan, bila tak ingin berpenyakit, jauhi rokok! 

Satu point yang dapat kuambil, merokok memang benar membunuh. Walau tak secara langsung, namun secara perlahan. Sempat takjub dengan ulasan beliau. Di keluargaku, bapaklah perokok aktif, sudah kutegur namun jawabannya selalu sama, kalau tidak ada rokok, mulut rasanya pahit. Beliau berhenti merokok saat pagi menjelang itupun saat Bulan Ramadhan ini. Kuberharap bapak berhenti merokok, hasilnya nihil. Bapak selalu mengelak bila kutunjukkan gambar-gambar tubuh manusia yang rusak karena rokok. Usahaku sia-sia, itulah mengapa aku selalu mewanti-wanti suami untuk tidak merokok. Dan Alhamdulillah, suami berhenti merokok walau jika ingin merokok, pasti izin terlebih dahulu tuk hilangkan segala penatnya. 

Sungguh, aku tak menyalahkan mereka yang sudah kecanduan terhadap rokok, hanya saja banyak korban yang rusak isi tubuhnya karena benda kecil itu. Apalagi bila sudah menyerang paru-paru. Hal yang sangat membahayakan juga saat asapnya terhirup oleh anak kecil atau bayi. Tak jarang ada berita yang mengabarkan seorang anak kecil harus dibantu oleh tabung oksigen karena paru-paru kecilnya dikepung oleh asap rokok. Sebagai ibu, tak jarang aku memarahi mereka yang merokok di dekat anakku, atau aku yang pergi menghindari mereka untuk menghindari adu mulut. Kadang dari mereka tak mengerti bahaya asap bila sudah mengenai paru-paru dan merusak seluruh organ lainnya. Memang, tak ada berita orang meninggal karena sering merokok, hanya saja, organ tubuh perlahan dirusak lalu menimbulkan indikasi lain atau penyakit lain yang lebih mengenaskan. Naudzubillah, Semoga Allah melindungi kita semua dari hal-hal tersebut.

Kembali ke cerita kakek tadi, aku mulai memujinya. Usia renta yang seharusnya berdiam dan menikmatinya, namun beliau beserta istri menggunakannnya dengan mencari nafkah bersama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, begitu istilah yang pantas disematkan untuk mereka. Karena kasihan dan tak tega dengan dagangan si kakek, ibu membeli handuknya, dengan harga murah sesuai yang dikatakan sang kakek. Sebelum meninggalkan rumahku, beliau ucapkan terima kasih dan berjalan tertatih berdua sambil membawa barang bawaannya. Allahu Akbar, semoga Allah cukupkan rezeki dan mudahkan segala urusan mereka, Aamiin ya Rabbal Alaamin.

Inginku bapak dan keluargaku berhenti merokok sebelum Allah tunjukkan kekuasaan-Nya. Tak salah bila cerita kakek si penjual kain tadi dijadikan inspirasi untuk berhenti merokok. Selama itu baik dan dapat diterapkan secara perlahan demi hidup sehat yang diidamkan. :) 

Undzur maa qaala waa laa tandzur man qaala.

Semoga bermanfaat

#Day 17
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Selasa, 21 Mei 2019

Muhasabah Diri

"Yang terbaik darimu adalah menginstropeksi diri"



Tetiba terbangun jam 01 dini hari saat seisi rumah sedang tertidur. Padahal niatnya, aku ingin segera menyelesaikan tugas melipat baju selepas Shalat Isya', namun mata tak jua bisa dikompromi. Melihat bantal, mata seolah bermagnet tuk segera menidurinya. Alhasil, aku tertidur saat jarum jam menunjukkan angka 09 malam. Bangun tidur rasanya menyesal karena tugas rumah terbengkalai. Baju yang sudah dicuci menggunung tergeletak tak berdaya di tempatnya. Satu pemandangan yang membuat wajahku sumringah, ada lipatan beberapa baju yang sudah terjajar rapi dan siap diletakkan di lemari. Ahaa... ini pasti ulah suami. Jadi, aku hanya meneruskan sisa baju yang belum terlipat.

Ilmu begadang sudah sering aku terapkan saat masih di pesantren atau saat di kampus dulu. Aku menyebutnya dengan 'Sahirul layali' atau mengarungi malam. Karena belajar kala itu membutuhkan ketenangan maksimal, jadilah jam 1 pagi, saat yang lain terlelap, aku terbangun untuk mencerna semua mata pelajaran. Hasilnya sangat memuaskan. Ah... bila mengingat perjuangan di pondok dulu rasanya benar-benar menakjubkan. Ada teman yang senantiasa mengingatkan tuk selalu berbuat kebaikan. Pun dalam hal belajar, dengan sigap mereka menerangkan bila ada yang tak dimengerti apa yang telah dipelajari. Aku merindukan itu semua. 

Beda lagi dengan sekarang, aku begadang jika ada hal yang benar-benar mendesak pikiran. Salah satunya bangun tengah malam karena si baby tetiba bangun karena pampers dirasa penuh, atau karena dia merasa lapar dan membutuhkan ASI segera. Jika tidak demikian, maka aku akan tertidur pulas setelah merasa lelah seharian beraktivitas.

Pagi yang syahdu nan sunyi ini adalah waktu terbaik tuk bermunajat dan menangguhkan segala keinginan pada Ilahi Rabbiy. Pada saat ini, seolah sinyal doa berjalan tanpa hambatan, pun jika ingin menangis sejadi-jadinya, Allah dengan senang hati menerima taubat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh meminta pada-Nya. Bermuhasabah diri karena telah menjadi hamba yang konyol dan sering bermaksiat pada-Nya. Yang hanya menjalankan ibadah sebagai rutinitas akan tetapi hal itu tak berdampak baik pada akhlaq dan kepribadiannya. Innalillahi... Semoga kita dijauhkan dari hal seperti itu.

Muhasabah berasal dari kata hasiba yahsibu, makna secara bahasa adalah menghitung. Sedang dalam terminologi syar'i disebutkan bahwa muhasabah adalah sebuah usaha yang dilakukan untuk perbaikan diri terhadap setiap kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan. Intinya, mengevaluasi segala hal yang telah terjadi demi perbaikan diri ke depannya. 

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan.
(QS. Al-Hasyr: 18)

  Mengintropeksi diri sangatlah dirasa penting agar tak mengulangi kesalahan yang sama. Dengan mengintropeksi diri, seorang hamba takkan menyia-nyiakan waktu yang telah Allah berikan. Ada beberapa manfaat yang didapat karena sering bermuhasabah, di antaranya adalah,

1. Bermuhasabah diri akan senantiasa membuat diri sadar akan aib yang sering dilakukan. Tak menutup kemungkinan bahwa aib tersebut akan terbuka lebar bila sering dilakukan. Muhasabah berarti perbaikan atas apa yang telah dilakukan untuk perbaikan dirinya.

2. Seseorang akan senantiasa mengetahui apa yang telah dilakukannya selama ini, dia akan sadar bahwa apa yang telah dilakukannya akan dimintai pertanggung-jawaban di akhirat kelak.

3. Bermusahabah akan lebih mendekatkan diri kepada Allah, dan akan lebih memaknai hakikat dari hidupnya.

4. Bermuhasabah akan senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan buruk, karena ia akan sadar bahwa yang dilakukan akan senantiasa mendapatkan pengawasan dari Allah.

Dari itu, tak ada salah jika yang dilakukan adalah untuk memperbaiki diri, Allah akan menyukai dan meridhai jika perubahan diri atas nama-Nya. Bermuhasabah, akan ada banyak kebaikan yang senantiasa mengiringi. Semoga Allah selalu memberikan kesempatan untuk selalu bermuhasabah diri menuju perbaikan dalam bingkai taqwa pada-Nya. Aamin yaa Rabbal 'Alamiin. 

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 21 Mei 2019

#Day 16
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum... Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didha...