Assalamualaikum... ini adalah Ramadhan hari ketujuh belas. Masya Allah, malam Nuzulul Qur'an sudah terlewati, Tinggal mengubah diri untuk selalu dekat dengan Al-Qur'an. Jadikan Qur'an sebagai sahabat karib di setiap waktu, Allah akan mudahkan segala hal dalam hidup.
Sepulang dari balai desa, Matahari seolah tepat berada di atas kepala, panas menyengat. Kuletakkan Baby Hilma yang saat itu berada dalam pelukanku. Dia lumayan rewel, mungkin karena tak tahan dengan panas yang menjalari tubuh mungilnya. Selang beberapa menit kurebahkan diri, sepasang suami istri berusia renta mengucapkan salam. Aku tak terlalu memperhatikannya, karena aku fokus mengurus Baby Hilma yang mulai merengek-rengek untuk digendong lagi. Bapakku yang menjawab salam mereka. Sedikit penasaran, kutinggalkan Baby Hilma yang berangsur diam karena neneknya (Ibuku) datang dan menenangkannya.
Kusapa dan kusalami mereka. Senyum tulus terpancar dari bibir mereka. Aku memanggil mereka dengan sebutan kakek dan nenek. Guratan berlipat terbingkai jelas di wajah, menandakan bahwa umur mereka separuh abad. Kagum sekaligus kasihan, karena mereka masih kuat berjalan di umur yang tak lagi muda dengan membawa satu tas besar berisi celana, handuk dan sampir. Kuketahui mereka penjual kain.
Setelah berbincang santai, kuketahui mereka dari Beringin, Situbondo. Desa yang letaknya lumayan jauh dari desaku. menurut penuturan si kakek, bahwa beliau sudah biasa berjualan jauh dari desa ke desa demi mencari rezeki yang halal. Saat kutanya mengapa tak bersama dengan anak-anak kandungnya, beliau menjawab bahwa beliau sudah terpisah dengan anak-anaknya yang sudah bisa mandiri dan sukses karena kerja keras. Salut, orang tua hebat yang tak mau bergantung dari hasil jerih payah anaknya.
Perbincanganku tak hanya berhenti sampai di situ saja, aku juga menanyakan rahasia sukses kakek yang sudah berusia renta namun masih dengan sangat jelas mendengar apa yang kukatakan, sungguh ini adalah pertanyaan iseng yang kulontarkan tuk hilangkan penatnya setelah seharian berjalan mengelilingi desa sambil menawarkan barang dagangannya. Tak disangka, beliaupun berkisah singkat mengenai hidupnya. Tentu saja, aku, ibuku dan nenek mendengarkan dengan seksama. Dikatakan bahwa penglihatan dan pendengaran beliau masih bagus. Saat orang berbicara dengan jarak lumayan jauh, beliau bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Pun dengan penglihatan yang jernih. Rahasianya, beliau berhenti merokok sejak tahun 2013 lalu. Karena rokok beliau sempat sakit keras. Dan akan berhenti merokok bila sakit yang dideritanya sembuh. Qadarullah, Allah kabulkan keinginannya. Itulah mengapa, beliau juga menegaskan, bila tak ingin berpenyakit, jauhi rokok!
Satu point yang dapat kuambil, merokok memang benar membunuh. Walau tak secara langsung, namun secara perlahan. Sempat takjub dengan ulasan beliau. Di keluargaku, bapaklah perokok aktif, sudah kutegur namun jawabannya selalu sama, kalau tidak ada rokok, mulut rasanya pahit. Beliau berhenti merokok saat pagi menjelang itupun saat Bulan Ramadhan ini. Kuberharap bapak berhenti merokok, hasilnya nihil. Bapak selalu mengelak bila kutunjukkan gambar-gambar tubuh manusia yang rusak karena rokok. Usahaku sia-sia, itulah mengapa aku selalu mewanti-wanti suami untuk tidak merokok. Dan Alhamdulillah, suami berhenti merokok walau jika ingin merokok, pasti izin terlebih dahulu tuk hilangkan segala penatnya.
Sungguh, aku tak menyalahkan mereka yang sudah kecanduan terhadap rokok, hanya saja banyak korban yang rusak isi tubuhnya karena benda kecil itu. Apalagi bila sudah menyerang paru-paru. Hal yang sangat membahayakan juga saat asapnya terhirup oleh anak kecil atau bayi. Tak jarang ada berita yang mengabarkan seorang anak kecil harus dibantu oleh tabung oksigen karena paru-paru kecilnya dikepung oleh asap rokok. Sebagai ibu, tak jarang aku memarahi mereka yang merokok di dekat anakku, atau aku yang pergi menghindari mereka untuk menghindari adu mulut. Kadang dari mereka tak mengerti bahaya asap bila sudah mengenai paru-paru dan merusak seluruh organ lainnya. Memang, tak ada berita orang meninggal karena sering merokok, hanya saja, organ tubuh perlahan dirusak lalu menimbulkan indikasi lain atau penyakit lain yang lebih mengenaskan. Naudzubillah, Semoga Allah melindungi kita semua dari hal-hal tersebut.
Kembali ke cerita kakek tadi, aku mulai memujinya. Usia renta yang seharusnya berdiam dan menikmatinya, namun beliau beserta istri menggunakannnya dengan mencari nafkah bersama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, begitu istilah yang pantas disematkan untuk mereka. Karena kasihan dan tak tega dengan dagangan si kakek, ibu membeli handuknya, dengan harga murah sesuai yang dikatakan sang kakek. Sebelum meninggalkan rumahku, beliau ucapkan terima kasih dan berjalan tertatih berdua sambil membawa barang bawaannya. Allahu Akbar, semoga Allah cukupkan rezeki dan mudahkan segala urusan mereka, Aamiin ya Rabbal Alaamin.
Inginku bapak dan keluargaku berhenti merokok sebelum Allah tunjukkan kekuasaan-Nya. Tak salah bila cerita kakek si penjual kain tadi dijadikan inspirasi untuk berhenti merokok. Selama itu baik dan dapat diterapkan secara perlahan demi hidup sehat yang diidamkan. :)
Undzur maa qaala waa laa tandzur man qaala.
Semoga bermanfaat
#Day 17
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Image Source: Google Image

saya juga salut sama orang2 yg sudab usia senja tapi masih ada semangat menapaki hidup dan tidak bergantung kepada anaknya.
BalasHapus