Rabu, 29 Mei 2019

Jalinan Ukhuwah Islamiyah



Assalamualaikum...
Masya Allah untuk hari ini. Hari cerah lalu hujan datang tanpa diundang. Alhamdulillah, setelah beberapa minggu hujan tak jua kunjungi desaku, namun di Ramadhan yang ke Duapuluh Empat ini, ia berkesempatan datang walau hanya sebentar. Allahumma Shayyiban Naafi'an. Hujan membawa berkah untuk semuanya. Aamiin.

Di rumah, aku berdua dengan Baby Hilma, kerempongan ibu muda memang selalu diuji kala di rumah sepi, tak ada yang berganti untuk menjaga bila hasrat ingin ke kamar mandi datang. Qadarullah, Hilma anteng hari ini, seolah sadar bahwa Umma-nya sedang lelah sepulang kerja. Alhamdulillah. Semoga lisan tak jua sepi berucap syukur karena Allah hadirkan ia di tengah-tengah keluargaku.

Sore hari, suami menawariku untuk berbuka bersama dengan teman-temannya, perasaan senang menyelinap tanpa permisi, namun diselingi was-was karena Baby Hilma yang masih flu dan tak kuat dingin karena akan bepergian sebelum Maghrib menjelang. Kuyakinkan suamiku bahwa semuanya kan baik-baik saja, Insya Allah, Baby Hilma takkan rewel. 

Berangkatlah kami ke tempat yang ditunjuk oleh teman-teman suamiku, Baby Hilma tidur lelap dalam pangkuanku. Bisa dibayangkan udara dingin menyerang, angin berpacu kencang mengikuti di setiap jalan karena kami hanya mengendarai sepeda motor. Sesampai di sana, aku dan suami disambut ramah oleh teman-teman suami yang notabene-nya sudah berkeluarga, bahkan beberapa dari mereka mengikut-sertakan anak-anak mereka. Ya Allah, mereka benar-benar sopan dan sangat menghargai tamu. Anggap saja aku tamu, karena kami tak saling mengenal sebelumnya. 

Kami berbincang ringan sambil menunggu adzan Maghrib tiba, saling berkenalan dan bertukar nama. Inilah yang kusuka, Ukhuwah Islamiyah terasa sangat kental. serasa memiliki keluarga baru walau tak saling bertemu, andai tak terbatas waktu mungkin aku sudah ikut menceburkan diri dengan perbincangan hangat dengan mereka. 

Ukhuwah Islamiyah memang seharusnya terus dibangun, agar tak terpecah-belah dan saling menjatuhkan, sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah:

"Belum disebut beriman di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari) 

Sungguh, membangun persaudaraan dengan orang-orang baru sangatlah menyenangkan. Di satu sisi, ada banyak kebaikan yang didapat. Setiap individu pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, dari persaudaraan yang dibangun, maka satu di antara yang lain akan saling melengkapi dan menyempurnakan. 

"Innamal Mu'minuna Ikhwatun."

Adalah merupakan sebuah refleksi keimanan dalam mengaplikasikan diri jika berhasil memelihara ukhuwah islamiyah. Tatkala hati dirundung sedih oleh lisan orang-orang yang dianggap saudara, seketika itu, serasa ukhuwah islamiyah akan musnah. Betapa menjaga ukhuwah di antara sesama sangatlah tidak mudah, perlu adanya sikap khusnudzan (Berprasangka baik) berkepanjangan untuk terus menjalin persaudaraan. 

Dari itu, bertemu dengan orang baru dapat menjadikan diri lebih bermakna untuk orang lain. Walau hanya pertemuan sesaat, mereka akan menilai sendiri yang terbaik dari orang yang dikenalnya.

Pelajaran inilah yang kudapat dari acara buka bersama dengan mereka, keluarga baruku. Pertemuan singkat namun sangatlah bermakna. Syukran Abuya Hilma sudah mengajakku untuk buka bersama dan bertemu saudara-saudara yang baru kukenal. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk bertemu dengan mereka di lain waktu dan di lain kesempatan. Aamiin ya Allah.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 29 Mei 2019

#Day 24
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik dan saran sangat berarti demi perbaikan isi blog ini...

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum... Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didha...