Assalamualaikum...
Masih semangat tuk lanjutkan puasa?
Semoga Allah senantiasa kuatkan sampai adzan Maghrib menjelang. Aamiin...
Kali ini aku ingin bercerita mengenai rindu. Rindu yang dirasa tabu karena ia takkan tersampaikan, kecuali Allah berkehendak lain dan mempertemukanku dengan mereka yang kurindui. Tentang rindu yang sering kali datang diundang keadaan yang terputar oleh jarak dan waktu. Tak salah merindu bila tak keluar dari batas koridor agama. Rindu yang halal, bukankah begitu?
Ah rindu... Bukan rindu biasa yang ditampilkan di sinetron-sinetron layar kaca, yang sekali scene langsung mereka pertemukan dengan yang dirindukan. Bila hanya satu kedipan mata lalu datang bersama saling membunuh rindu. Namun tidak seperti rinduku, Kuharap rinduku suci sesuci yang kurindukan.
Adalah mereka yang senantiasa mengajakku ke jalan yang benar, ke jalan yang memang terjal jika hati tetap tak ingin berbelok tuk menghadap-Nya. Adalah mereka yang kurindukan, yang senantiasa ikhlas menerima acuhku, marahku, sedihku dan segala hal tentang kejelekanku ketika tak kusambut ajakan baik mereka. Mereka ada dengan keimanan terpatri di dada, ketakutan terhadap Allah luar biasa, dan menerima orang-orang yang ingin bersama menguatkan ukhuwah dengan mereka. Sangat mengagumkan, kuyakin hati mereka terbuat sama dengan orang-orang kebanyakan hanya saja mereka lebih sering memoles hati mereka dengan dzikir dan istighfar kepada Allah.
Penyesalan mendalam mengapa dulu tak kuterima ajakan mereka, mereka berbaik hati membantu membukakan pintu pahala, dengan sabar membimbing dan meladeni segala kebodohanku mengenai agama. Lalu aku pergi tinggalkan mereka, karena kurasa tak ada guna berkecimpung dengan mereka yang jilbaber kelas kakap, gamisnya menjuntai panjang menutup seluruh permukaan mata kaki. Pegangan mereka setiap hari adalah kitab-kitab tebal yang tak kuketahui isinya. Sesekali mengadakan diskusi kecil membahas permasalahan yang mengoyak hati, mungkin aku termasuk di dalamnya.
Aku merindui mereka, hari ini dan seterusnya. Pelampiasannya hanya kucurahkan melalui doa, sebaik-baik doa menurutku. Walau kutak yakin doaku dapat menyaingi kebaikan mereka yang selalu berbaik hati menolong yang membutuhkan. Mereka berpencar, berpindah mengejar impian masing-masing namun tetap dengan pemikiran dan keinginan yang sama. Kekokohan agama Allah.
"Teman yang baik adalah mereka yang membuatmu menangis, bukan mereka yang membuatmu tertawa"
Ya... Aku hanya berdoa dengan memikul penyesalan panjang, mengapa dulu tak kuiyakan saja setiap ajakan yang mengajakku berhenti kepada kemaksiatan. Mengapa dulu tak kuhiraukan saja saat mereka mengajakku diskusi segala hal untuk kebaikanku ke depannya. Apa yang salah dengan diriku, mengapa hatiku berkeras batu dalam hal kebaikan. Meski sejatinya aku hanya berucap bahwa Allah mengubah haluanku dalam menjalani hidup, tapi Allah takkan merubah nasib seorang hamba kecuali hamba tersebut yang merubahnya sendiri. Inilah salahku. Untuk menebus segala salah dan dosaku, aku harus tertatih sendiri dalam memperbaiki diri, tanpa teman, tanpa mereka tentunya.
Doa yang terpanjat semoga menjadi awal baru tuk mereka dalam memaafkanku, sungguh, teman yang baik adalah teman yang senantiasa mengingatkan, mengayomi dan menegur kala hati condong tuk bermaksiat pada-Nya. Bukan mereka yang sering tertawa ria tanpa mengingat kematian. Teman yang baik adalah mereka yang pantang menyerah menyeru kebaikan dan bersama berbenah diri menuju Ilahi.
Teman... Jarak kita terhalang, laju komunikasi juga tak terjalin, harapanku adalah doa. Doa ikhlasku turut menyertai langkah Antunna, Aku cintai Antunna karena Dzat yang pertemukan kita dalam waktu yang tak terprediksi sebelumnya. Dalam keadaanku yang tak sama dengan Antunna kala itu. Doa terbaik untuk Antunna yang jauh dari jangkauan namun dekat dalam hati berpandang. Teman terbaik, se-syurga karena-Nya.
Wallahu A'lamu bis Shawab
Selobanteng, 28 Mei 2019
#Day 23
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kritik dan saran sangat berarti demi perbaikan isi blog ini...