Jumat, 31 Mei 2019

Saran Dalam Berbelanja




Assalamualaikum..
Semoga masih tetap bersemangat di Ramadhan yang keduapuluh enam ini ya...

Budaya konsumtif saat menjelang lebaran semakin meningkat, tak terkecuali pelaku konsumtif tersebut, siapa lagi kalau bukan perempuan. Ya, perempuan adalah dalang dari semua sikap konsumtif terhadap barang-barang yang menjadi minat hatinya. Jadi jangan heran, jika dompet yang semula tebal berubah menjadi setipis kertas, itu bukan karena apa, namun uangnya terpakai untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan tuk sambut hari kemenangan. Tim oposisi pun pasti ada, itu adalah laki-laki. Dia akan selalu protes bila pembelian barang-barang melebihi apa yang telah direncanakan semula, walau tak semua lelaki begitu tapi kebanyakan akan merasa sedikit kecewa.

Aku, sama dengan perempuan lainnya. Menyukai belanja. Kala itu, tepat H-7 lebaran, tepat pada hari Rabu kemarin, suami mengajakku untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan saat hari lebaran nanti. Naluri perempuan, tentu saja sangat senang diajak berbelanja. Aku mulai mereka-reka apa yang kan dibeli nanti. Jika tidak begitu, biasanya keinginanku akan melenceng tatkala melihat barang-barang yang menarik minat mata. Sudah kuadakan perjanjian dengan suami, hanya membeli barang-barang yang benar dibutuhkan, tidak boleh lebih, kecuali anggaran yang dibawa masih ada sisa, kemungkinan ada sangatlah tipis, karena suami yang tak suka bertele-tele pasti akan selalu membawa anggaran pas, plus dengan uang bensin dan biaya tambal ban jika ban bocor saat perjalanan. Nah lho... Senyum dulu, pasang muka khusnudzan. Suami perlahan ingin membuat sifat konsumtifku yang keterlaluan. Itu hikmahnya.

Kami berangkat saat matahari tak terlalu terik, sedikit teduh karena hujan baru saja membasahi tanah. jarum jam menunjukkan angka 02:12, itu artinya, kan tiba di tempat belanja sekitar pukul 3:00 kurang lebih setengah jam, apalagi aku membawa serta Baby Hilma, sebisa mungkin kendaraan yang kutumpangi tak bisa melaju cepat, bisa berakibat fatal tentunya. Dan sesuai prediksi, sesampai di tempat belanja tepatnya toko baju, Adzan Ashar berkumandang. 

Kulangkahkan kaki menuju toko baju yang mulai dipadati pengunjung. Lumayan lengang karena kebanyakan dari mereka berada di bagian baju koko. Baby Hilma kubawa serta, suami tentu saja menunggu di luar, dia sangat tak suka mengekor di belakangku saat berbelanja, sangat lama katanya. Jadilah, dia hanya menunggu diluar toko sambil memegang tas yang kubawa. Baby Hilma menjadi partner belanjaku, manik hitam matanya menelusuri benda-benda yang diterangi oleh bohlam lampu, dia belajar bersosialisasi dengan tempat ramai yang baru dikunjunginya. Alhamdulillah tak rewel, dia menggelayut manja dalam gendongan. Sesekali ada beberapa yang mencoba berkomunikasi dengannya. Dia hanya tersenyum sesekali mengeluarkan erangan halus dari bibirnya. Oh Allah, good job dearest...  

Sayangnya, 30 menit berputar-putar mengitari gamis-gamis yang menggantung, tak satupun yang menarik minat hatiku, hanya lelah. Ada yang disuka, harganya tak bersahabat, lumayan selangit. Ada harga tentu ada kualitas, begitu rumusnya. Kuputuskan pergi dari tempat itu dan bergegas ke tempat lain. Sebagai perbandingan. Sungguh, tak ada satupun yang cocok, sudah Tujuh toko yang kusinggahi, bukan sombong, namun aku yang terlalu berpikir panjang dalam memilih barang yang kan dipakai. Jadilah suami mengusulkan ke toko pertama kali disinggahi. Aku hanya manut, sudah pasrah, suami tentu saja lebih lelah, ia mencoba bersabar dan menahan jengkel tentunya.

Dari pengalaman yang kualami saat berbelanja, ada beberapa saran yang perlu diterapkan saat berbelanja menurutku, di antaranya:

1. Niat Lillahi Ta'ala

Segala sesuatu dimulai dari niat, niatkan berbelanja karena Allah, mintalah pertolongan pada-Nya, agar hati tak dibelokkan untuk membeli barang-barang yang tak diperlukan.

2. Menulis List/Daftar Barang yang Akan Dibeli

Yang ini sangat penting, untuk meminimalisir waktu, bisa lebih dulu dicatat apa yang kan dibeli. Agar waktu tak terbuang sia-sia saat berbelanja. Waktu banyak hanya dihabiskan untuk mencari satu barang, sehingga barang lainnya tercecer ketinggalan. Usahakan barang yang paling dibutuhkan ditulis lebih awal untuk menghindari pembelian barang yang tidak diperlukan.

3. Membawa Anggaran/Budget Sesuai Daftar Belanja yang Sudah Ditulis

Saat berbelanja, bawalah uang secukup barang yang kan dibeli, bolehlah bawa uang lebih untuk berjaga-jaga jikalau ada harga barang yang mulai melonjak naik, namun jangan terlalu banyak. Saat membawa uang melebihi batas ketentuan belanja, hasrat untuk menambah barang biasanya muncul secara alamiah. Untuk menanggulangi hal itu terjadi sebaiknya dikira-kira barang apa yang kan beranjak naik harganya. Tujuan dari hal ini agar lebih fokus pada kebutuhan utama yang masuk dalam daftar belanja. 

4. Fokus dan Disiplin Terhadap Barang yang Akan Dibeli

Istiqamah dengan daftar yang sudah dibuat sangat diperlukan dalam belanja, tujuan membuat daftar belanja untuk menghindari pembelian barang yang tidak perlukan.

5. Langsung Pulang Setelah Belanja

Langsung pulang setelah membeli barang yang sudah dibeli. Jika tidak seperti itu, maka akan menarik minat hati untuk pergi ke tempat-tempat hiburan lainnya, dan tentu saja akan menambah anggaran yang telah dibuat sebelumnya dan akan tertarik membeli barang-barang yang tak seharusnya dibeli. Kecuali memang ada rencana sebelumnya akan bepergian ke tempat yang kan dituju setelah belanja selesai dilakukan.

6. Mencatat Pengeluaran Belanja

hal ini juga sangat penting, saat berbelanja baiknya mintalah resi atau bon belanja kepada petugas yang menjaga, bila tidak ada cobalah catat sendiri barang-barang yang sudah dibeli. Tujuannya agar bisa mereview dan memprediksi pengeluaran saat akan berbelanja lagi di lain hari. 

7. Online atau Offline

Kalau yang ini adalah sesuka hati, belanja online ataupun offline sama-sama memiliki keuntungan dan kelemahan masing-masing. Tergantung orang yang kan berbelanja, jika tak ingin repot berjalan ke toko bisa membeli barang secara online, namun jika merasa tak puas hanya duduk dan menunggu barang datang, alternatif lain saat berbelanja adalah offline, yaitu mendatangi langsung tempat belanjanya dan bisa memilah memilih sendiri barang apa yang kan dibeli.

Saran ini insya Allah bisa dijadikan acuan saat berbelanja, apalagi mendekati hari kemenangan, banyaknya orang yang kan berbelanja kebutuhan. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat. 

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 31 Mei 2019

#Day 26
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source:Google Image

Kamis, 30 Mei 2019

Stop Ghibah!



Assalamualaikum...
Adakah dari pembaca yang belum tidur malam ini?
Jika begitu kita sama, mataku tak bisa diajak kompromi, saat tubuh ingin melepas lelah, mata tak ingin merebah. Apa bisa dikata? Tuk memancing rasa kantukku, kucoba membuat oretan ringan sebagai wujud muhasabah diri selama beberapa hari kemarin. Ya... Harus kulakukan itu, barangkali ada kata yang tak sengaja terlontar dan tanpa sadar telah menyakiti pendengar. Itu saja, karena keselamatan seseorang terletak pada penjagaan lisannya.

Sungguh, setiap hari bahkan setiap waktu, topik pembicaraan selalu ada. Entah itu tentang semua hal yang berkenaan dengan pendidikan, perikanan, pernikahan hingga gosip-gosip murahan tak lepas dari sorotan. Sangat disayangkan jika dalam kurun waktu 24 jam, lisan hanya digunakan tuk melontarkan kata-kata yang belum tentu menuai manfaat untuk diri sendiri dan orang lain, syukur-syukur mendapat pahala dari Allah. Bukan apa-apa, tatkala ada topik yang menyegarkan tuk dibahas, mau tak mau mata dan telinga ikut fokus menyimak dan menimpali. 

Ah kukatakan seperti ini, karena lingkunganku adalah lingkungan rawan gosip. Setiap hari selalu ada yang tersampaikan, mau tak mau akupun turut serta mendengarkan. Ada perasaan tak enak bila aku langsung berlalu pergi meninggalkan segerombolan orang-orang yang berantusias menyampaikan. Ingin tutup telingapun aku tak mampu, karena diri juga menikmati. Astaghfirullah... 

Yang menjadi topik pembicaraan pun kadang tetangga sendiri. Inilah Ghibah, membicarakan  atau menggunjingkan keburukan orang lain tanpa mencari kemaslahatan dari orang yang dibicarakan. Ibarat orang yang memakan daging saudaranya sendiri. Sangat mengerikan. Bila tak ikut nimbrung, bisa jadi diri inilah yang kan menjadi sasaran. 

"Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang, jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu memakan daging saudaramu yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)

Ghibah atau menggunjing merupakan dosa besar, sebesar apa hanya Allah yang mengetahui. Namun, Ghibah seolah menjadi idola. Banyak peminatnya, media yang digunakan tentu saja dengan lisan maka tak salah jika ketajaman lisan lebih tajam dari ketajaman pedang, karena ia bisa melukai siapapun hanya sekali ucapan menyakitkan. Menganggap diri paling benar dan tak pernah berbuat salah, sehingga menjadi sangat wajar bila menjadi pemateri saat ghibah berlangsung, Naudzubillahi min Syarri Dzalik. Hanya orang-orang yang melekatkan asma Allah di hati dan pikirannya yang kan menjauhi perbuatan itu.

Diri ini adalah makhluk lemah, yang takkan bisa hidup tanpa bantuan sesama. Sesaat mungkin bisa berdiri sendiri, tetapi tidak dengan hidup sendiri. Sosialisasi dan tetap membangun hubungan baik dengan lingkungan sekitar. Ghibah hanya akan melengkapi daftar dosa yang telah sering diperbuat. Meminimalisir Ghibah atau bahkan menjauhinya sama sekali sangatlah dianjurkan demi kebaikan di masa yang kan datang. Momen Ramadhan akan berlalu sebentar lagi, alangkah baiknya kesempatan yang sempit ini dijadikan ajang untuk berhenti menggunjing dan memperbaiki kesalahan dengan bertaubat kepada Allah. 

Sejatinya, apa yang kutulis adalah 'cubitan' bagi diriku sendiri untuk membenahi segala kesalahan yang telah terjadi. Pun diri pernah menjadi objek ghibah, saat mendengar sendiri apa yang disampaikan, sakitnya benar-benar menguliti hati. Andai saat berbicara terbesit pikiran "Bagaimana jika aku di posisi dia?" niscaya ghibah takkan terjadi. Sayangnya nihil, pelaku ghibah seolah menjelma menjadi hakim, memutuskan yang dirasa benar dan salah. Padahal Allah lah yang berhak memutuskan, bukan makhluk-Nya.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 30 Mei 2019

#Day 25
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Image Source


Rabu, 29 Mei 2019

Jalinan Ukhuwah Islamiyah



Assalamualaikum...
Masya Allah untuk hari ini. Hari cerah lalu hujan datang tanpa diundang. Alhamdulillah, setelah beberapa minggu hujan tak jua kunjungi desaku, namun di Ramadhan yang ke Duapuluh Empat ini, ia berkesempatan datang walau hanya sebentar. Allahumma Shayyiban Naafi'an. Hujan membawa berkah untuk semuanya. Aamiin.

Di rumah, aku berdua dengan Baby Hilma, kerempongan ibu muda memang selalu diuji kala di rumah sepi, tak ada yang berganti untuk menjaga bila hasrat ingin ke kamar mandi datang. Qadarullah, Hilma anteng hari ini, seolah sadar bahwa Umma-nya sedang lelah sepulang kerja. Alhamdulillah. Semoga lisan tak jua sepi berucap syukur karena Allah hadirkan ia di tengah-tengah keluargaku.

Sore hari, suami menawariku untuk berbuka bersama dengan teman-temannya, perasaan senang menyelinap tanpa permisi, namun diselingi was-was karena Baby Hilma yang masih flu dan tak kuat dingin karena akan bepergian sebelum Maghrib menjelang. Kuyakinkan suamiku bahwa semuanya kan baik-baik saja, Insya Allah, Baby Hilma takkan rewel. 

Berangkatlah kami ke tempat yang ditunjuk oleh teman-teman suamiku, Baby Hilma tidur lelap dalam pangkuanku. Bisa dibayangkan udara dingin menyerang, angin berpacu kencang mengikuti di setiap jalan karena kami hanya mengendarai sepeda motor. Sesampai di sana, aku dan suami disambut ramah oleh teman-teman suami yang notabene-nya sudah berkeluarga, bahkan beberapa dari mereka mengikut-sertakan anak-anak mereka. Ya Allah, mereka benar-benar sopan dan sangat menghargai tamu. Anggap saja aku tamu, karena kami tak saling mengenal sebelumnya. 

Kami berbincang ringan sambil menunggu adzan Maghrib tiba, saling berkenalan dan bertukar nama. Inilah yang kusuka, Ukhuwah Islamiyah terasa sangat kental. serasa memiliki keluarga baru walau tak saling bertemu, andai tak terbatas waktu mungkin aku sudah ikut menceburkan diri dengan perbincangan hangat dengan mereka. 

Ukhuwah Islamiyah memang seharusnya terus dibangun, agar tak terpecah-belah dan saling menjatuhkan, sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah:

"Belum disebut beriman di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari) 

Sungguh, membangun persaudaraan dengan orang-orang baru sangatlah menyenangkan. Di satu sisi, ada banyak kebaikan yang didapat. Setiap individu pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, dari persaudaraan yang dibangun, maka satu di antara yang lain akan saling melengkapi dan menyempurnakan. 

"Innamal Mu'minuna Ikhwatun."

Adalah merupakan sebuah refleksi keimanan dalam mengaplikasikan diri jika berhasil memelihara ukhuwah islamiyah. Tatkala hati dirundung sedih oleh lisan orang-orang yang dianggap saudara, seketika itu, serasa ukhuwah islamiyah akan musnah. Betapa menjaga ukhuwah di antara sesama sangatlah tidak mudah, perlu adanya sikap khusnudzan (Berprasangka baik) berkepanjangan untuk terus menjalin persaudaraan. 

Dari itu, bertemu dengan orang baru dapat menjadikan diri lebih bermakna untuk orang lain. Walau hanya pertemuan sesaat, mereka akan menilai sendiri yang terbaik dari orang yang dikenalnya.

Pelajaran inilah yang kudapat dari acara buka bersama dengan mereka, keluarga baruku. Pertemuan singkat namun sangatlah bermakna. Syukran Abuya Hilma sudah mengajakku untuk buka bersama dan bertemu saudara-saudara yang baru kukenal. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk bertemu dengan mereka di lain waktu dan di lain kesempatan. Aamiin ya Allah.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 29 Mei 2019

#Day 24
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Selasa, 28 Mei 2019

Perwakilan Rindu




Assalamualaikum...
Masih semangat tuk lanjutkan puasa?
Semoga Allah senantiasa kuatkan sampai adzan Maghrib menjelang. Aamiin...

Kali ini aku ingin bercerita mengenai rindu. Rindu yang dirasa tabu karena ia takkan tersampaikan, kecuali Allah berkehendak lain dan mempertemukanku dengan mereka yang kurindui. Tentang rindu yang sering kali datang diundang keadaan yang terputar oleh jarak dan waktu. Tak salah merindu bila tak keluar dari batas koridor agama. Rindu yang halal, bukankah begitu?

Ah rindu... Bukan rindu biasa yang ditampilkan di sinetron-sinetron layar kaca, yang sekali scene langsung mereka pertemukan dengan yang dirindukan. Bila hanya satu kedipan mata lalu datang bersama saling membunuh rindu. Namun tidak seperti rinduku, Kuharap rinduku suci sesuci yang kurindukan. 

Adalah mereka yang senantiasa mengajakku ke jalan yang benar, ke jalan yang memang terjal jika hati tetap tak ingin berbelok tuk menghadap-Nya. Adalah mereka yang kurindukan, yang senantiasa ikhlas menerima acuhku, marahku, sedihku dan segala hal tentang kejelekanku ketika tak kusambut ajakan baik mereka. Mereka ada dengan keimanan terpatri di dada, ketakutan terhadap Allah luar biasa, dan menerima orang-orang yang ingin bersama menguatkan ukhuwah dengan mereka. Sangat mengagumkan, kuyakin hati mereka terbuat sama dengan orang-orang kebanyakan hanya saja mereka lebih sering memoles hati mereka dengan dzikir dan istighfar kepada Allah.

Penyesalan mendalam mengapa dulu tak kuterima ajakan mereka, mereka berbaik hati membantu membukakan pintu pahala, dengan sabar membimbing dan meladeni segala kebodohanku mengenai agama. Lalu aku pergi tinggalkan mereka, karena kurasa tak ada guna berkecimpung dengan mereka yang jilbaber kelas kakap, gamisnya menjuntai panjang menutup seluruh permukaan mata kaki. Pegangan mereka setiap hari adalah kitab-kitab tebal yang tak kuketahui isinya. Sesekali mengadakan diskusi kecil membahas permasalahan yang mengoyak hati, mungkin aku termasuk di dalamnya. 

Aku merindui mereka, hari ini dan seterusnya. Pelampiasannya hanya kucurahkan melalui doa, sebaik-baik doa menurutku. Walau kutak yakin doaku dapat menyaingi kebaikan mereka yang selalu berbaik hati menolong yang membutuhkan. Mereka berpencar, berpindah mengejar impian masing-masing namun tetap dengan pemikiran dan keinginan yang sama. Kekokohan agama Allah.

"Teman yang baik adalah mereka yang membuatmu menangis, bukan mereka yang membuatmu tertawa"  

Ya... Aku hanya berdoa dengan memikul penyesalan panjang, mengapa dulu tak kuiyakan saja setiap ajakan yang mengajakku berhenti kepada kemaksiatan. Mengapa dulu tak kuhiraukan saja saat mereka mengajakku diskusi segala hal untuk kebaikanku ke depannya. Apa yang salah dengan diriku, mengapa hatiku berkeras batu dalam hal kebaikan. Meski sejatinya aku hanya berucap bahwa Allah mengubah haluanku dalam menjalani hidup, tapi Allah takkan merubah nasib seorang hamba kecuali hamba tersebut yang merubahnya sendiri. Inilah salahku. Untuk menebus segala salah dan dosaku, aku harus tertatih sendiri dalam memperbaiki diri, tanpa teman, tanpa mereka tentunya. 

Doa yang terpanjat semoga menjadi awal baru tuk mereka dalam memaafkanku, sungguh, teman yang baik adalah teman yang senantiasa mengingatkan, mengayomi dan menegur kala hati condong tuk bermaksiat pada-Nya. Bukan mereka yang sering tertawa ria tanpa mengingat kematian. Teman yang baik adalah mereka yang pantang menyerah menyeru kebaikan dan bersama berbenah diri menuju Ilahi. 

Teman... Jarak kita terhalang, laju komunikasi juga tak terjalin, harapanku adalah doa. Doa ikhlasku turut menyertai langkah Antunna, Aku cintai Antunna karena Dzat yang pertemukan kita dalam waktu yang tak terprediksi sebelumnya. Dalam keadaanku yang tak sama dengan Antunna kala itu. Doa terbaik untuk Antunna yang jauh dari jangkauan namun dekat dalam hati berpandang. Teman terbaik, se-syurga karena-Nya.

Wallahu A'lamu bis Shawab 

Selobanteng, 28 Mei 2019

#Day 23
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah



Senin, 27 Mei 2019

Musibah Tuk Menguatkan




Assalamualaikum...
Semangat pagi... Sudah terlintas banyak harapan saat pagi menjelang, menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Setiap kesalahan yang dilakukan semoga berujung maaf yang didulang.

Pagi ini, tak banyak yang bisa kulakukan, rasa kantuk masih tetap saja melekat dan enggan pergi dari mataku, padahal hari ini adalah hari senin, diri dituntut untuk bersemangat untuk beraktifitas. Sungguh, andai Hari Senin ini adalah hari libur, niscaya tubuhku juga tak ingin jauh dari kasur. 

Doa saat pagi menjelang baru saja kurapalkan, katanya jika membaca doa maka Allah akan menjaga kita sepanjang waktu, jauh dari segala musibah. Aamiin, semoga Allah jauhkanku dan keluargaku dari segala musibah. 

Mendengar kata musibah, rasanya nyali sudah menciut lebih dulu. Manusia selalu lekat dengan musibah, kala musibah datang menghadang kekecewaan turut datang mengundang bahkan bila tak dapat diselesaikan, Allah kan menjadi sasaran amarah. Naudzubillahi. Bahkan sekalipun sudah melakukan berbagai hal, musibah juga tak kunjung usai. Padahal, musibah adalah ujian kenaikan derajat seorang manusia, seberapa kuat dan seberapa sabar ia bertahan dalam menghadapi musibahnya.

Musibah sejatinya untuk menguatkan, Allah lebih mengetahui kapasitas keimanan seorang hamba. Saat seseorang ditimpa sebuah musibah, itu artinya ia mampu bertahan dan mampu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya. Namun, banyak yang tidak sadar, seperti aku. Jika ada masalah bisaku hanya menangis tanpa mencari solusi, akan bergerak cepat bila ada yang memotivasi. 

Kenyataan yang sering didapati dalam kehidupan adalah setiap kesenangan pasti ada kesedihan. kuncinya bersyukur saat mendapatkan kesenangan dan bersabar kala ujian datang. Musibah yang datang sesuai porsi diri, tatkala ia datang bahkan tak melihat keadaan lebih dulu. Sesaat mungkin terasa menyakitkan namun nantinya akan terbiasa. 

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan padamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi kepada mereka orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan "Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un."  

Sejatinya, apa yang kutulis adalah untuk menghibur dan menguatkan diriku sendiri, sungguh aku tak cukup bersahabat dengan musibah yang kerap datang, beraniku hanya diam namun kadang juga tak sabar. Inginku musibah yang kuhadapi lekas selesai dan hidupku kembali normal. Inilah bentuk keegoisan seorang hamba, ingin masalah selesai dengan sekali kedipan mata. Padahal arti ayat di atas sudah dengan sangat gamblang menjelaskan bahwa Allah akan memberikan kabar gembira bagi mereka yang sabar. Bukankah yang diberi masalah dituntut untuk bersabar dan tetap bertawakkal pada-Nya?

Musibah datangnya dari Allah, hanya pada-Nyalah permintaan pertolongan, bukan kepada selain-Nya. Mintalah disetiap sudut malam dikala sepi menjelang, saat tak ada yang mengganggu hanya diri dan Rabbiy. Ahh... sangat melegakan saat mengadukan segala yang mengganjal di dada, dengan harapan kan ada pencerahan dan penyelesaian. Sungguh Allah takkan membiarkan hamb-Nya terpuruk saat solusi masalah telah ditemukan.  

Semangat untukku dan untukmu yang sedang dirundung musibah, semoga Allah kuatkan dan memberikan jalan keluar melalui kuasa-Nya. Aamiin Ya Rabb ya mujibas saailiin.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 27 Mei 2019

#Day 22
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Minggu, 26 Mei 2019

Tradisi Baju Baru



Assalamualaikum...
Semangat sore, semangat melanjutkan puasa bagi yang menjalankannya. Pun bagi yang tak bisa menjalankan ibadah puasa karena ada halangan, bisa juga mencari pahala dengan membantu menyiapkan atau menyediakan menu buka puasa untuk mereka yang sedang berpuasa. :)

Sore ini, adalah sore ke Duapuluh satu Ramadhan. Tradisi sesaat sebelum lebaran menjelang, pernak-pernik idul fitri semakin dirasa kental. Salah satunya yang kulakukan dulu sebelum Hari Raya menjelang adalah membeli baju baru. Maklum, tradisi membeli baju baru menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan bagiku karena dilakukan setiap satu tahun satu kali yaitu pada saat hari raya Idul Fitri, yang nantinya dipakai pada saat Hari Raya Idul Adha tanpa membeli lagi.

Baju baru memang selalu berhasil membuat mood-ku berubah. Yang semula kesal, berangsur membaik setelah mendapatkan baju baru. Apalagi jika baju baru yang kupakai memiliki kembaran, biasanya anak tetanggaku juga memakai baju yang sama seperti yang kubeli. Rasanya memiliki saudara kandung walau hanya terlihat memakai baju yang sama. Atau saling membandingkan baju yang sudah dibeli dengan teman lainnya, walau tak ber-brand merk terkenal, namun adalah hal yang menyenangkan ketika baju baru serentak dipakai.

Itu adalah kenangan masa kecilku dulu, menjadikan baju baru seolah mendapat berlian mahal, senangnya bukan kepalang tanpa memikirkan keadaan orang tua yang sering mengalami masalah keuangan. Namun mereka dengan suka rela membelikan apa yang kumau bahkan mereka tak segan merogoh budget untuk membeli beras saat hari raya berlangsung. Entahlah, aku benar-benar tak memikirkan perasaan mereka. Yang kupikirkan adalah aku harus berbaju baru layaknya teman-temanku yang lainnya.

Setelah menikah dan membina rumah tangga, pikiran untuk membeli baju baru tak menggebu seperti dulu, bukan tak ingin memiliki baju baru hanya saja anggaran untuk membelinya harus benar-benar ditekan demi kebutuhan lainnya. Oh Allah... Inikah yang dipikirkan orang tuaku dulu? pikiran ini terbesit begitu saja saat 10 hari terakhir Ramadhan berlalu tanpa membeli baju baru.

Aku bersyukur karena suami selalu mengingatkan, untuk masalah harta lihatlah mereka yang ada di bawahmu, sedang untuk masalah ilmu lihatlah mereka yang ada di atasmu. Selalu beliau katakan bila aku tak bisa menghentikan keinginanku. Karena memang tabiat perempuan yang selalu ingin membenamkan diri dengan hal-hal berbau mall atau toko. Termasuk aku. Bukan tidak kesal saat hasrat terhadap benda yang diinginkan tak terpenuhi namun berbentur dengan kebutuhan lain yang lebih urgen. Alasan klasik suami yang cukup ampuh tuk meredam amarahku adalah Hilma, anak kami. Kebutuhan Hilma lebih penting dari kebutuhan lainnya, jadi sebagai orang tua sebaiknya mengalah dulu demi anaknya.

Itu artinya, keinginan kadang berbanding terbalik dengan keadaan. Sebagai orang tua seharusnya belajar untuk mengendalikan diri untuk hal-hal yang ingin dibeli. Boleh saja jika menginginkan baju baru tuk sambut hari raya asal keuangan stabil dan kebutuhan lainnya dapat terpenuhi walau hanya melalui prediksi. Pun tak hanya orang tua, yang masih single atau tak berkeluarga harusnya lebih bisa me-manage keuangan sebagai bentuk pembelajaran saat berkeluarga nanti.

Baju baru seharusnya juga bisa membentuk hati yang baru, ketaatan yang baru karena apa yang tampak dari luar kadang tak sesuai dengan apa yang ada di dalam. Baju baru bisa jadi pelengkap atau reward bagi diri untuk selalu memperbaharui taqwa pada-Nya.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 26 Mei 2019

#Day 21
#OneDayonePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google image

Sabtu, 25 Mei 2019

Metamorfosa Masa Muda




Assalamualaikum...
Bagaimana puasamu hari ini? 10 hari terakhir Ramadhan sudah menghampiri, itu artinya Ramadhan sebentar lagi akan pergi, padahal beberapa rencana belum terealisasi. Hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Mengenai amanah yang telah diemban pun perlu dijalankan, memaksaku untuk segera berbenah diri untuk mengikuti arus peradaban. Tak hanya itu, masa muda yang katanya masa menyenangkan tanpa diminta pun pasti akan berlalu dan berganti. Bukankah begitu?

Masa muda yang dikata penuh cerita, penuh warna gelembung-gelembung berwarna merah muda, mengoyak pertahanan iman untuk mengikuti kemauan diri, sungguh menyenangkan memang. Menjadi pemudi dengan seabrek kegiatan tanpa memikirkan apa yang kan terjadi, adalah prinsip yang sudah tak perlu dirahasiakan lagi. Ah Masa muda... penentu masa depan dengan melakukan hal-hal berarti. 

Aku jadi teringat kisahku yang memalukan, virus merah jambu yang menggrogoti jiwa seakan memutus rasa malu untuk melihat dan bertanya tentang dia, objek yang disukai. Pelepasan sikap masa kanak-kanak yang kuanggap akan segera punah bila rasa cinta itu datang. Masa muda inilah waktunya, ditandai dengan rasa suka terhadap pasangan. Malu-malu tuk mengakui padahal debaran terasa dalam hati, hingga yang bersahabatpun terancam bubar karena pertikaian perasaan. 

Masa muda adalah masa emas yang harus dipergunakan untuk meng-upgrade kualitas diri, tak hanya berpatok pada paras yang rupawan, namun potensi juga harus diprioritaskan. Bukankah sangat mengagumkan bila masa muda digunakan untuk eksistensi diri untuk hal yang bermanfaat untuk umat, pun juga tahan terhadap godaan dunia yang semakin menggila. Semangat masa muda selalu dibuktikan dengan kontrol diri yang tak keluar dari syariat agama.

"Tidak akan bergeser kaki seorang manusia dari sisi Rabb-nya sehingga ditanya tentang 5 (Lima) : Tentang umurnya dalam apa ia gunakan, Tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya dari apa ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, tentang apa yang ia amalkan dari apa yang diketahui (Ilmu)"
(HR. ) 

Adalah masa muda, masa mendewasakan diri dengan berbagai hal, mencari jati diri dengan memperbanyak teman sepemikiran, tak hanya eksis namun juga disertai dengan potensi. Dibuktikan dengan semangat terbingkai dalam syariat islami. Metamorfosa yang seharusnya membawa perbaikan untuk masa tua nanti.

Sangatlah luar biasa bila masa muda ditasbihkan dengan berperilaku terpuji tanpa ingin dipuji. Padahal pemuda sangatlah cenderung terhadap dunia dan sangat bersemangat tuk menggapainya. Sungguh, apa yang terjadi pada dunia nyata sekarang sangatlah memprihatinkan. Banyaknya kalangan yang bergerombol ingin menunjukkan dirinya ada, hanya saja cara yang digunakan adalah salah. Dan yang sangat memprihatinkan dari mereka adalah berusia muda. Semoga dijauhkan dari hal sia-sia dan merusak generasi, Aamiin.

Metamorfosa masa muda seharusnya untuk menggali bekal untuk masa tua, kala diri sudah renta dan tak ada yang bisa dilakukan selain berdiam tanpa tapi. Apa yang ditanam itulah yang kan dipetik. inilah yang disebut kaidah hidup. Selagi bisa, kegiatan positif di masa muda sangatlah membantu untuk perbaikan diri selanjutnya. inilah yang menjadi PR untukku.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 25 Mei 2019

#Day 20
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Jumat, 24 Mei 2019

Menolong Agama Allah



Assalamualaikum...
Semoga selalu bersemangat di Ramadhan hari kesembilan belas. Allahu Akbar!

Sambil menemani Baby Hilma yang sedang terlelap dalam tidurya, aku mencoba flashback terhadap semua hal yang telah terjadi dan kulalui selama ini. Syukur Alhamdulillah, Allah memberikan apa yang sebenarnya kubutuhkan, bukan apa yang kuinginkan. Salah satunya adalah aku yang berkeinginan melanjutkan  pendidikan  ke jenjang S2, namun Allah rubah haluanku dengan menikah dan memiliki anak. Hikmahnya, agar aku belajar mendewasa tanpa menghabiskan uang kedua orang tua dengan menangguhkan segala inginku. Baru paham itu setelah memiliki keluarga kecil sendiri, Alhamdulillah.

Dari itu, aku mulai menyadari bahwa Allah telah menunjukkan salah satu kasih-sayang-Nya padaku. Sering kali begitu, dan aku seperti tak tahu cara untuk membalas budi dengan menolong Agama Allah. Siapapun yang menolong agama-Nya, maka Allah akan menolongnya. Bukankah sudah jelas dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya, Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." 
(QS. Al-Hajj: 40)

Menolong dalam artian bermujahadah (Bersungguh-sungguh) dalam menegakkan agamanya dan menjalankan segala apa yang telah diperintah-Nya agar agama seseorang lebih kokoh dan teguh dalam dirinya. 

Aplikasi menolong agama Allah memang akan sangat terasa bila berada dalam medan jihad. Seperti halnya ikut perjuangan di Gaza, Palestina. Mengikut-sertakan diri berkecimpung langsung melawan laknatullah Israel. Sungguh sangatlah menyayat hati melihat perjuangan Rakyat Gaza mempertahankan Iffah dan Izzah negaranya. Belum lagi bila melihat tangan-tangan mungil malaikat kecil memegang batu atau benda lainnya untuk berjaga-jaga jika tentara zionis datang mengganggu. Betapa Allah telah menunjukkan kekuasaannya dengan memperkenankan perempuan-perempuan Gaza melahirkan bayi-bayi kembar sebagai ganti mujahid-mujahidah yang telah wafat mendahului. Syurga untuk mereka Insya Allah.

Haruskan membantu mereka? Apalah daya dan kuasa, diri yang lemah dan tak memiliki dana untuk menceburkan diri di medan yang dirahmati Allah tuk menolong agama-Nya. Bukan tak ingin, sebagai perempuan aku hanyalah bisa menyumbang seuntai doa untuk saudara-saudari yang ada di sana, walau tak saling mengenal, rasa simpati dan empati kuat menekan diri. Allah tak memaksa seseorang tuk berjuang mengikuti barisan gagah untuk berperang memenangkan agama-Nya.

Menolong agama Allah bisa dilakukan walau dengan tidak berperang melawan musuh Allah. Menolong Agama Allah bisa diaplikasikan dengan jihad melawan hawa nafsu agar tak terseret arus menyesatkan dan kemaksiatan. Tak salah bila diri berjuang melawan segala hal yang sangat dimurkai oleh Allah. Terkadang melawan hawa nafsu sangatlah sulit untuk dilakukan, tatkala hati ingin berpegang teguh untuk selalu beristiqamah dalam melaksanakan ibadah kebaikan, selalu saja ada penghalang dan rintangan yang bisa membuyarkan keistiqamahan. 

Istiqamah dalam kebaikan juga termasuk menolong agama Allah, Ikhlas dalam menjaga amanah yang telah diberikan-Nya untuk seorang hamba. Oleh karena itu, setiap yang mengaku muslim atau muslimah harus menerima syari'at Allah dengan penuh kepatuhan dan keyakinan bahwa seluruh apa yang telah disyari'atkan adalah yang terbaik bagi makhluk-Nya demi menolong agama-Nya. Semoga Allah berikan kekuatan untuk selalu siap beristiqamah di jalan-Nya. Aamiin ya Rabbal Aalamin

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 24 Mei 2019

#Day 19
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

NB: Apa yang tertulis adalah sebagai pengingat diri

Image Source: Google Image








Kamis, 23 Mei 2019

Bukan Emansipasi, Hanya Abdi Suami



Assalamualaikum... masih tetap dalam nuansa Ramadhan Kareem..
Semoga iman selalu teguh dan tahan terhadap setiap godaan yang datang. Aamiin.

Ingin rasanya melepas penat dengan merehatkan badan sejenak. Menjadi seseorang yang diamanahi buah hati, haruslah siap menahan dan menangguhkan segala lelah, bukan karena merasa sempurna sebagai perempuan, hanya saja mencoba memaksimalkan diri dari segala hal rumah tangga sangatlah diperlukan.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 03:00 WIB, aku masih terpekur kaku di depan laptop. Ada banyak hal yang ingin kutulis, namun terbatas waktu dan keadaan. Sesaat memang ada waktu santai saat Baby Hilma dalam pangkuan neneknya atau pada saat dia terlelap dalam tidurnya. Hanya beberapa menit dan dia sudah ada dalam rengkuhanku. Tidak dengan terpaksa kutangguhkan segala hal tuk membuatnya terlelap kembali.

Aku sudah berkeluarga, pun aku juga sudah bekerja. Aku perempuan yang diharuskan bekerja di dalam rumah dan mengurusi segala tetek-bengek rumah tangga, ini adalah anjuran, mau menggugat pun sudah ada dalil Al-Qur'an yang menguatkan bahwa sebaik-baik tempat bagi perempuan adalah rumah.

"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyah yang dahulu." 
(QS. Al-Ahzab:33)

Aku perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah, tentang perempuan yang bekerja di luar rumah selalu menampilkan spekulasi negatif di kalangan masyarakat sekitar. Seolah, perempuan yang bekerja di luar rumah hanya akan menampilkan rusaknya tampilan indah dalam dirinya. Mereka beranggapan bahwa perempuan yang bekerja di luar rumah sudah tidak puas dengan hasil kerja suami yang tak seberapa atau lebih mengedepankan ego dari pada hati nurani untuk meluangkan waktu bersama buah hati.

Baiklah, kukatakan bahwa itu tidaklah benar, perempuan yang bekerja adalah perempuan abdi suami, bukan berprinsip emansipasi. Perempuan yang mau membantu ekonomi keluarga. Oh tidak, bukan karena aku tak puas dengan nafkah dari suami atau tak memiliki hati nurani tuk menjaga si buah hati. Hanya saja, aku menyadari adanya potensi diri yang sangat sayang jika dibekukan begitu saja tentu atas izin dan restu suami. Masalah mengurus anak, jujur saja kubawa anakku kerja setiap hari, karena jarak rumah dengan tempat kerja lumayan dekat. Jangan tanyakan seberapa banyak cibiran dan ucapan tak pantas mendarat di telingaku, sudah banyak dan sudah biasa, tentu saja kupasang wajah seolah tak peduli demi menahan perihnya hati. Sudah bukan hal baru lagi jika manusia hanya mampu berkomentar tanpa mengetahui konsekuensi hati yang tersakiti. 

Di desaku, banyak ibu-ibu muda maupun tua bekerja membantu suami. Mereka bahu-membahu merawat dan mengopeni hasil pertanian demi anak yang menuntut ilmu hakiki. Maklum, masyarakat pedesaan notabene-nya adalah petani, wajar saja bila 70% ibu-ibu sering berada di sawah atau di ladang, selebihnya ada di rumah bila petang menjelang. 

Bukan tak ingin kehidupan mapan dan serba berkecukupan bak di film-film yang tampil di layar TV, suami bekerja di kantor, dan istri hanya menunggu di rumah sambil merawat dan mendidik anak selebihnya, ekonomi keluarga stabil dan terjamin. Berbanding terbalik dengan kehidupan nyata, ekonomi menghimpit, sedang lahan pekerjaan pun tak ada. Jadilah bertani menjadi pilihannya, yang melibatkan seluruh bendahara rumah tangga yang seharusnya duduk manis di rumah, harus turut serta membantu kepala keluarga demi keberlangsungan hidup yang sejahtera.

Perempuan bekerja memang terdengar sangatlah tabu, bertebaran fitnah di mana-mana. Bekerja di luar ataupun di dalam rumah haruslah mengantongi izin suami jika sudah berkeluarga, berpakaian syar'i dan niat karena Ilahi Rabbiy. Perempuan bekerja di luar rumah tentu ada alasannya.

Sekadar sharing dariku, semoga lebih membukakan mata hati kita agar tak selalu beranggapan buruk terhadap perempuan yang bekerja di luar rumah, mereka bekerja karena ada tuntutan yang mengharuskan diri mereka bekerja, kadang itulah alasan utamanya.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 23 Mei 2019

#Day 18
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


Rabu, 22 Mei 2019

Kisah Si Penjual Kain



Assalamualaikum... ini adalah Ramadhan hari ketujuh belas. Masya Allah, malam Nuzulul Qur'an sudah terlewati, Tinggal mengubah diri untuk selalu dekat dengan Al-Qur'an. Jadikan Qur'an sebagai sahabat karib di setiap waktu, Allah akan mudahkan segala hal dalam hidup. 

Sepulang dari balai desa, Matahari seolah tepat berada di atas kepala, panas menyengat. Kuletakkan Baby Hilma yang saat itu berada dalam pelukanku. Dia lumayan rewel, mungkin karena tak tahan dengan panas yang menjalari tubuh mungilnya. Selang beberapa menit kurebahkan diri, sepasang suami istri berusia renta mengucapkan salam. Aku tak terlalu memperhatikannya, karena aku fokus mengurus Baby Hilma yang mulai merengek-rengek untuk digendong lagi. Bapakku yang menjawab salam mereka. Sedikit penasaran, kutinggalkan Baby Hilma yang berangsur diam karena neneknya (Ibuku) datang dan menenangkannya. 

Kusapa dan kusalami mereka. Senyum tulus terpancar dari bibir mereka. Aku memanggil mereka dengan sebutan kakek dan nenek. Guratan berlipat terbingkai jelas di wajah, menandakan bahwa umur mereka separuh abad. Kagum sekaligus kasihan, karena mereka masih kuat berjalan di umur yang tak lagi muda dengan membawa satu tas besar berisi celana, handuk dan sampir. Kuketahui mereka penjual kain. 

Setelah berbincang santai, kuketahui mereka dari Beringin, Situbondo. Desa yang letaknya lumayan jauh dari desaku. menurut penuturan si kakek, bahwa beliau sudah biasa berjualan jauh dari desa ke desa demi mencari rezeki yang halal. Saat kutanya mengapa tak bersama dengan anak-anak kandungnya, beliau menjawab bahwa beliau sudah terpisah dengan anak-anaknya yang sudah bisa mandiri dan sukses karena kerja keras. Salut, orang tua hebat yang tak mau bergantung dari hasil jerih payah anaknya.

Perbincanganku tak hanya berhenti sampai di situ saja, aku juga menanyakan rahasia sukses kakek yang sudah berusia renta namun masih dengan sangat jelas mendengar apa yang kukatakan, sungguh ini adalah pertanyaan iseng yang kulontarkan tuk hilangkan penatnya setelah seharian berjalan mengelilingi desa sambil menawarkan barang dagangannya. Tak disangka, beliaupun berkisah singkat mengenai hidupnya. Tentu saja, aku, ibuku dan nenek mendengarkan dengan seksama. Dikatakan bahwa penglihatan dan pendengaran beliau masih bagus. Saat orang berbicara dengan jarak lumayan jauh, beliau bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Pun dengan penglihatan yang jernih. Rahasianya, beliau berhenti merokok sejak tahun 2013 lalu. Karena rokok beliau sempat sakit keras. Dan akan berhenti merokok bila sakit yang dideritanya sembuh. Qadarullah, Allah kabulkan keinginannya. Itulah mengapa, beliau juga menegaskan, bila tak ingin berpenyakit, jauhi rokok! 

Satu point yang dapat kuambil, merokok memang benar membunuh. Walau tak secara langsung, namun secara perlahan. Sempat takjub dengan ulasan beliau. Di keluargaku, bapaklah perokok aktif, sudah kutegur namun jawabannya selalu sama, kalau tidak ada rokok, mulut rasanya pahit. Beliau berhenti merokok saat pagi menjelang itupun saat Bulan Ramadhan ini. Kuberharap bapak berhenti merokok, hasilnya nihil. Bapak selalu mengelak bila kutunjukkan gambar-gambar tubuh manusia yang rusak karena rokok. Usahaku sia-sia, itulah mengapa aku selalu mewanti-wanti suami untuk tidak merokok. Dan Alhamdulillah, suami berhenti merokok walau jika ingin merokok, pasti izin terlebih dahulu tuk hilangkan segala penatnya. 

Sungguh, aku tak menyalahkan mereka yang sudah kecanduan terhadap rokok, hanya saja banyak korban yang rusak isi tubuhnya karena benda kecil itu. Apalagi bila sudah menyerang paru-paru. Hal yang sangat membahayakan juga saat asapnya terhirup oleh anak kecil atau bayi. Tak jarang ada berita yang mengabarkan seorang anak kecil harus dibantu oleh tabung oksigen karena paru-paru kecilnya dikepung oleh asap rokok. Sebagai ibu, tak jarang aku memarahi mereka yang merokok di dekat anakku, atau aku yang pergi menghindari mereka untuk menghindari adu mulut. Kadang dari mereka tak mengerti bahaya asap bila sudah mengenai paru-paru dan merusak seluruh organ lainnya. Memang, tak ada berita orang meninggal karena sering merokok, hanya saja, organ tubuh perlahan dirusak lalu menimbulkan indikasi lain atau penyakit lain yang lebih mengenaskan. Naudzubillah, Semoga Allah melindungi kita semua dari hal-hal tersebut.

Kembali ke cerita kakek tadi, aku mulai memujinya. Usia renta yang seharusnya berdiam dan menikmatinya, namun beliau beserta istri menggunakannnya dengan mencari nafkah bersama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, begitu istilah yang pantas disematkan untuk mereka. Karena kasihan dan tak tega dengan dagangan si kakek, ibu membeli handuknya, dengan harga murah sesuai yang dikatakan sang kakek. Sebelum meninggalkan rumahku, beliau ucapkan terima kasih dan berjalan tertatih berdua sambil membawa barang bawaannya. Allahu Akbar, semoga Allah cukupkan rezeki dan mudahkan segala urusan mereka, Aamiin ya Rabbal Alaamin.

Inginku bapak dan keluargaku berhenti merokok sebelum Allah tunjukkan kekuasaan-Nya. Tak salah bila cerita kakek si penjual kain tadi dijadikan inspirasi untuk berhenti merokok. Selama itu baik dan dapat diterapkan secara perlahan demi hidup sehat yang diidamkan. :) 

Undzur maa qaala waa laa tandzur man qaala.

Semoga bermanfaat

#Day 17
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Selasa, 21 Mei 2019

Muhasabah Diri

"Yang terbaik darimu adalah menginstropeksi diri"



Tetiba terbangun jam 01 dini hari saat seisi rumah sedang tertidur. Padahal niatnya, aku ingin segera menyelesaikan tugas melipat baju selepas Shalat Isya', namun mata tak jua bisa dikompromi. Melihat bantal, mata seolah bermagnet tuk segera menidurinya. Alhasil, aku tertidur saat jarum jam menunjukkan angka 09 malam. Bangun tidur rasanya menyesal karena tugas rumah terbengkalai. Baju yang sudah dicuci menggunung tergeletak tak berdaya di tempatnya. Satu pemandangan yang membuat wajahku sumringah, ada lipatan beberapa baju yang sudah terjajar rapi dan siap diletakkan di lemari. Ahaa... ini pasti ulah suami. Jadi, aku hanya meneruskan sisa baju yang belum terlipat.

Ilmu begadang sudah sering aku terapkan saat masih di pesantren atau saat di kampus dulu. Aku menyebutnya dengan 'Sahirul layali' atau mengarungi malam. Karena belajar kala itu membutuhkan ketenangan maksimal, jadilah jam 1 pagi, saat yang lain terlelap, aku terbangun untuk mencerna semua mata pelajaran. Hasilnya sangat memuaskan. Ah... bila mengingat perjuangan di pondok dulu rasanya benar-benar menakjubkan. Ada teman yang senantiasa mengingatkan tuk selalu berbuat kebaikan. Pun dalam hal belajar, dengan sigap mereka menerangkan bila ada yang tak dimengerti apa yang telah dipelajari. Aku merindukan itu semua. 

Beda lagi dengan sekarang, aku begadang jika ada hal yang benar-benar mendesak pikiran. Salah satunya bangun tengah malam karena si baby tetiba bangun karena pampers dirasa penuh, atau karena dia merasa lapar dan membutuhkan ASI segera. Jika tidak demikian, maka aku akan tertidur pulas setelah merasa lelah seharian beraktivitas.

Pagi yang syahdu nan sunyi ini adalah waktu terbaik tuk bermunajat dan menangguhkan segala keinginan pada Ilahi Rabbiy. Pada saat ini, seolah sinyal doa berjalan tanpa hambatan, pun jika ingin menangis sejadi-jadinya, Allah dengan senang hati menerima taubat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh meminta pada-Nya. Bermuhasabah diri karena telah menjadi hamba yang konyol dan sering bermaksiat pada-Nya. Yang hanya menjalankan ibadah sebagai rutinitas akan tetapi hal itu tak berdampak baik pada akhlaq dan kepribadiannya. Innalillahi... Semoga kita dijauhkan dari hal seperti itu.

Muhasabah berasal dari kata hasiba yahsibu, makna secara bahasa adalah menghitung. Sedang dalam terminologi syar'i disebutkan bahwa muhasabah adalah sebuah usaha yang dilakukan untuk perbaikan diri terhadap setiap kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan. Intinya, mengevaluasi segala hal yang telah terjadi demi perbaikan diri ke depannya. 

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan.
(QS. Al-Hasyr: 18)

  Mengintropeksi diri sangatlah dirasa penting agar tak mengulangi kesalahan yang sama. Dengan mengintropeksi diri, seorang hamba takkan menyia-nyiakan waktu yang telah Allah berikan. Ada beberapa manfaat yang didapat karena sering bermuhasabah, di antaranya adalah,

1. Bermuhasabah diri akan senantiasa membuat diri sadar akan aib yang sering dilakukan. Tak menutup kemungkinan bahwa aib tersebut akan terbuka lebar bila sering dilakukan. Muhasabah berarti perbaikan atas apa yang telah dilakukan untuk perbaikan dirinya.

2. Seseorang akan senantiasa mengetahui apa yang telah dilakukannya selama ini, dia akan sadar bahwa apa yang telah dilakukannya akan dimintai pertanggung-jawaban di akhirat kelak.

3. Bermusahabah akan lebih mendekatkan diri kepada Allah, dan akan lebih memaknai hakikat dari hidupnya.

4. Bermuhasabah akan senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan buruk, karena ia akan sadar bahwa yang dilakukan akan senantiasa mendapatkan pengawasan dari Allah.

Dari itu, tak ada salah jika yang dilakukan adalah untuk memperbaiki diri, Allah akan menyukai dan meridhai jika perubahan diri atas nama-Nya. Bermuhasabah, akan ada banyak kebaikan yang senantiasa mengiringi. Semoga Allah selalu memberikan kesempatan untuk selalu bermuhasabah diri menuju perbaikan dalam bingkai taqwa pada-Nya. Aamin yaa Rabbal 'Alamiin. 

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 21 Mei 2019

#Day 16
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Senin, 20 Mei 2019

Rezeki yang Dinanti Part 2

"Siapa yang diuji dengan hadirnya anak perempuan, maka anak itu akan menjadi tameng baginya di neraka" 
(HR. Bukhari, no. 1418)


Assalamualaikum...
Alhamdulillah, saat terik siang menyengat di saat itu pula aku berupaya sekuat tenaga tuk menidurkan Baby Hilma. Karena tetap rewel saat diletakkan di kasur. Alhasil, aku menggendongnya sambil mengayunkan badan dengan harapan si baby ini tidur. Qadarullah, si baby tidur walau aku harus berdiri menahan ngilu di pangkalan lutut selama 1 jam setengah. Yeyy... semangat mama muda!!!

Ramadhan hari kelima belas, Masya Allah tak terasa, ternyata berpuasa sudah berada di pertengahan, lima belas hari lagi insyaa Allah menuju hari kemenangan. Allahu akbar! 

Tuk ibu menyusui seperti aku sebenarnya tak ada anjuran untuk berpuasa penuh jika dikhawatirkan dapat membahayakan ibu atau bayinya, hanya saja jika mampu dan tak ada kendala serius, silahkan berpuasa selama bayi tidak rewel dan tetap dalam kondisi prima. 

Ada banyak cerita di pertengahan Ramadhan ini. Aku jadi teringat dulu saat Bulan Ramadhan Tahun 2018, aku berencana melaksanakan puasa, saat itu usia kehamilan memasuki 2 bulan. Aku mengalami morning sickness, mungkin sama dengan yang dialami oleh ibu-ibu hamil pada umumnya. Suami, tentu saja selalu siaga dalam melayaniku. Dia menyediakan plastik hitam kemana dan di mana pun aku berada, ditakutkan aku lepas kontrol dan mengeluarkan seluruh isi perut di tempat yang biasa di tempati orang.

Tak muluk inginku sebagai orang tua. Aku hanya ingin anak ini jauh lebih baik dari diriku dalam hal positif. Tak lupa kekata doa yang sering kupanjatkan menderas seiring bertambahnya usia kehamilan. Begitupun suami, selain doa yang sering dia rapalkan rutin dalam shalatnya, dia sering melantunkan suara adzan di perutku, karena keyakinan dan keinginannya bahwa janin yang ada dalam perutku adalah laki-laki. Dia begitu percaya apa yang dikatakan nenek saat meraba letak janinku yang berada tepat di sebelah kanan. Pertanda bahwa itu bayi laki-laki, apalagi dengan melihat kondisi fisik dan tubuhku yang kian tak terawat selama masa kehamilan, sangatlah dekil dan malas untuk melakukan segala hal. Suami semakin yakin bahwa yang kukandung adalah bayi laki-laki. Aku mengiyakan tuk menenangkan hatinya. Karena bayi laki-laki ataupun perempuan adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dan disayangi.

Aku sudah menebak bahwa suamiku sangat meginginkan bayi laki-laki yang ia sebut sebagai penerusnya, namun jika Allah memberinya bayi perempuan juga akan diterimanya. Dia selalu berdoa semoga aku selalu sehat dan kuat saat melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan nantinya. Walau sejatinya, suamiku sangat menginginkan bayi laki-laki sebagai anak pembuka, begitu dia menyebutnya.

Untuk meredam rasa penasarannya, Aku dan suami pergi ke dokter kandungan yang berjarak lumayan jauh dari kotaku. Kala itu usia kehamilan 31 minggu atau 8 bulan menurut perkiraan Bidan Desa. Kami berangkat setelah Shalat Shubuh dan sampai di lokasi tepat jam 06:50 WIB. Lumayan, perjalanan ini sukses membuat kepalaku pening. Pemandangan ibu-ibu muda dengan perut buncit berjajar rapi menunggu antrian yang datang sebelum kami. Aku harus melakukan antrian panjang hanya demi USG 4D. Masya Allah... bisa dibayangkan betapa suntuknya aku menunggu giliran untuk bertemu dengan dokter spesialis kandungan ini. 07:00 pagi awal registrasi hingga pukul 02:45 sore aku bisa berhallo ria dengan janin ini. 

Terbayar sudah rasa suntuk dan letihku, begitu pula dengan suami yang begitu bersemangat merekam setiap gambar di layar yang menampilkan suara detak jantung dan gambar kaki-kaki mungil anakku. Terharu rasanya, walau saat di-USG tadi, tak kulihat wajah anakku karena tertutup oleh tangannya sendiri, seolah dia malu tuk bertatap muka denganku, Ummanya.

Hal itu sudah cukup membuatku senang, karena tak ada hal 'aneh' di dalam kandunganku. Semuanya normal sampai dokter mengatakan bahwa anak kami adalah perempuan. Aku berucap syukur, laki-laki atau perempuan asal dia sehat tanpa kekurangan suatu apapun.

Kulirik wajah suamiku, ada raut wajah kecewa di sana. Melihatnya membuatku sedih, hingga keluar dari ruangan dokter tak kudapati senyum tersungging di bibirnya. Dia hanya diam dan menunduk. Tak ada percakapan di antara kami, membuatku merasa telah gagal menjadi seorang istri karena sikapnya. Kuucap maaf padanya, hanya saja dia tersenyum dan mengatakan, anak laki-laki atau perempuan akan menjadi pembawa orang tuanya ke syurga bila kita berhasil mendidiknya. Seiring waktu, dia bisa menerima bahwa anak dalam kandunganku ini adalah perempuan. Justru dialah yang paling bersemangat untuk membelikan segala pernak-pernik bayi bernuansa pink tuk menyambut hadirnya ke dunia ini.  

"Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."
(QS An-Nisa:19)


Seperti halnya Rasulullah yang memiliki anak perempuan bernama Fatimah Al-Zahra, Perempuan mulia yang bergelar "Ummu Abiha" karena kedudukan Fatimah di sisi ayahnya, karena telah berhasil menjadi sosok penyayang yang sangat menyayangi Rasulullah dalam segala hal. Dengan setia mendampingi Rasulullah dalam setiap penderitaan dan mengganti peran ibunya, Khadijah. Suami sangatlah berharap anak perempuannya ini akan sangat membanggakannya kelak. 

Memiliki anak perempuan ataupun anak laki-laki adalah ketetapan Allah, tak bisa ditentang pun hanya bisa diupayakan. Selebihnya Allah yang menentukan. Anak adalah amanah, anugerah dan rezeki yang dinanti oleh setiap pasangan. Tugas orang tua adalah mendidik dan mengarahkannya menjadi khalifah fil Ardh' sesuai fitrahnya. Mengajar, mengarahkan dan mendidik anak tak ubahnya usaha tuk dapatkan syurga, mengabaikan semua itu berarti neraka. Dengan demikian tak ada celah tuk mengabaikan tugas ini. Allahul Musta'an, semoga Allah mudahkan dalam mendidik anak-anak kita hingga ia menjadi anak yang shaleh dan shalehah serta bertanggung jawab bagi diri dan agamanya.

Teruntuk anakku, Tashil Naili Izzir Rohman Binti Fathur Rohman. Umma dan Abuya mencintaimu, selalu!

Selobanteng, 20 Mei 2019

#Day 15
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Fathur's picture

Minggu, 19 Mei 2019

Rezeki Yang Dinanti Part 1





Assalamualaikum...
Sekarang adalah Ramadhan hari keempat belas, Masya Allah... Semoga Allah bukakan pintu maghfirah dan pintu rezeki-Nya kepada kita semua, Aamiin ya Rabbal 'Alaamin...

Seperti biasa, jika sudah weekend, Baby Hilma tidurnya lumayan pagi. Setelah bangun tidur langsung mandi, main sebentar lalu tidur lagi hehehe. Alhasil, menulis sambil mengelus kepalanya agar tak terbangun saat sedang khusyuk mengetik. Beginilah jika memiliki bayi, ingin beraktivitas adalah pada saat bayi benar-benar terlelap. Kuyakin semua ibu pasti akan begitu. Tak terkecuali aku.

Alhamdulillah, ini adalah Ramadhan kedua yang aku dan suami jalani, dan di bulan inilah Allah perkenankanku mendapatkan garis dua di testpack yang sengaja kubeli 1 bulan setelah pernikahan. Itu artinya aku akan menjadi seorang ibu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Allahu Akbar... Allah Maha Baik, Thanks for this. Dan aku tak bisa menyembunyikan kegembiraanku kala itu. Artinya semakin lengkaplah kebahagiaan kami, dua bulan menikah dan akan hadir di tengah-tengah kami bayi mungil yang merupakan salah satu tujuan untuk melestarikan umat Rasulullah. 

Kala itu, tanggal 18 mei 2018, Ramadhan tinggal menghitung jari. Selepas Dhuhur menjelang, Aku melihat testpack yang kupegang. Aku penasaran karena aku telat datang bulan seminggu lamanya. Dan... garis dua berwarna merah terang muncul dengan sangat jelas di depan mataku. Dan itu cukup membungkam mulutku untuk beberapa saat. Kata syukur kuucap dalam hati. Tanganku sibuk mengelus dada sambil tersenyum sumringah melihat testpack yang kupegang itu.

Tanpa menunggu lama, aku berlari menuju mushalla tempat suamiku berada. Sambil berusaha bersikap setenang mungkin, walau senyum ini susah kusembunyikan. Saat itu suami sedang melaksanakan shalat, setelah berucap kedua salam, aku duduk berhambur di belakangnya (Tidak memeluknya, karena suami akan marah jika aku menyentuhnya saat ia dalam keadaan berwudhu'), dia menatapku heran, kubiarkan keheranan dia menyelimuti kepalanya hingga testpack yang kupegang kuletakkan tepat di hadapannya sambil kupasang senyum semanis mungkin. Dan tahukah? Responnya tak sesuai dengan ekspektasiku, kukira dia akan bahagia, memelukku dan menyemangatiku bahwa aku akan menjadi seorang ibu dari anaknya, mirip di film-film itulah pokoknya. Justru ekspresinya berubah lucu dan menghindariku dengan memundurkan badannya beberapa langkah.

"Eh... Kok cepat ya, Dek. Saya belum siap punya anak, tidak tahu bagaimana jadi seorang ayah" Ujarnya sambil tertawa.

Aku hanya tertawa sambil meledeknya bahwa dia yang nantinya akan menggendong bayi kecilnya kalau menangis. Dia mendekat dan meraih benda kecil bergaris dua itu, dia tersenyum dan mengatakan bahwa aku harus menjaga janin ini sebaik-baiknya. Aku ingat betul saat itu, suamiku baru pindah domisili Madura ke kota asal kelahiranku, Situbondo. Sudah pasti dia belum memiliki pekerjaan yang layak untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga kami. Namun, dia percaya bahwa rezeki Allah pasti selalu ada untuk setiap makhluk yang dititipkan di rahim istrinya. Walau proses untuk mendapatkan pekerjaan itu lumayan sulit dan lama hehehe. Buktinya, setelah Baby Hilma lahir, barulah suami dipanggil oleh lembaga sekolah dan menyuruhnya untuk mengajar di sana. Allahu Akbar... Allahul Musta'an

"Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, Maka Allah akan menunjukkannya jalan keluar padanya dari kesusahan, dan diberikan-Nya rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka, dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akn cukupkan keperluannya." 
(QS. At-Talaq: 2-3)

Tak ada yang tidak mungkin bagi Allah, proses tuk dapatkan rezeki yang halal tidaklah mudah. Derai air mata memang sangat diperlukan saat sepertiga malam tiba, pun usaha yang diupayakan juga tak berjalan mulus layaknya jalan beraspal, ada lika-likunya. Perlu kesabaran ekstra untuk setiap kata orang-orang yang hanya ingin menjatuhkan. Kuncinya hanya sabar dan mendekat pada Ilahi Rabbiy, bahwa Allah-lah yang mengatur segalanya. Sebagai hamba, hanya mengikuti alur yang telah direncanakan-Nya.

Begitu pula dengan proses mendapatkan seorang anak yang shaleh, tak serta merta Allah langsung berikan anak yang sesuai harapan setiap orang. Harus disertakan peran orang tua yang ikhlas dalam mendidik dan mengayominya. Perlu waktu yang senantiasa ada untuk digunakan dengan sebaik-baiknya.

Jadi, jangan meyerah tuk dapatkan rezeki Allah yang halal lagi tayyiban nafi'a selama ada kemauan pasti ada jalan. 

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 19 Mei 2019

#Day 14
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

 Image Source: Google Image




Sabtu, 18 Mei 2019

Hidup Untuk Mati





Selepas berbuka puasa, aku dikejutkan oleh berita kematian salah satu santri, dia adalah alumni di tempatku mondokku dulu. Rasa penasaranku membuncah saat nama almarhum disebut. Setelah kuketahui wajahnya dari foto yang ditampilkan, Innalillahi, ternyata aku mengenalnya hanya saja tak kuketahui namanya. Masya Allah... hanya mampu mengelus dada dan merapalkan sebait doa untuknya. Pertemuan yang singkat itu terjadi sekitar setengah bulan yang lalu.

Berita kematian memang selalu membuatku bergetar, merinding dan merasa takut. Betapa hidup ini singkat bagi orang yang mendominankan diri untuk urusan akhirat. Perihal keinginan yang senantiasa terus ada untuk dunia maka ingatan tentang kehidupan setelah mati rasanya menjadi abai. Betapa tidak? Dengan dunia dan seisinya yang melenakan terkadang dan sudah pasti membuat lupa segalanya. Lupa untuk melakukan persiapan apa yang harus dipersiapkan sebagai bekal nanti. Allahu Akbar... Mengingat tentang kematian memang selalu berhasil membuat diri ini kerdil dan patah daya. Bahwa amal baiklah yang nantinya mendampingi sebagai teman pengganti sanak keluarga dan sanak saudara.

"Kullu nafsin dzaaiqatul maut"

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, hanya saja waktu dan tempatnya yang tak bisa diprediksi. Manusia hanya menunggu kapan akan dipanggil untuk menghadap-Nya. Kendati siap atau tidak menghadapi ajal yang hanya satu tarikan nafas dan semua tak berarti apa-apa. Astaghfirullahal adzim min kulli dzambin adzim. Bila sudah seperti ini, apa yang kan dilakukan? amal yang tak sebanyak yang diharapkan, namun Allah sudah berkehendak dan terjadi.

Seketika aku menolehkan wajahku ke arah suami dan anak yang sedang tertidur pulas tak jauh dari tempatku mengetik. Nafas mereka berhembus pelan dan teratur. Allah yang menciptakan, dan akan diambil-Nya sewaktu-waktu bila Allah meginginkan. Hatiku mulai bergemuruh, menahan ketakutan dan penyesalan. Mengingat banyak sekali kedzaliman yang kulakukan pada mereka, banyak sekali khilaf yang sering aku lakukan disengaja maupun tidak yang sering aku selipkan dalam perbuatan. Timbul pikiran yang bisa saja merusak mood aktivitas harian, bagaimana jika Allah mencabut nyawaku sedang aku berada dalam kemaksiatan? Bagaimana jika Allah mencabut nyawaku sedang aku tidak sedang dalam ketaatan pada-Nya. Duh Gusti... Faghfirliy... Faghfirliy laa yaghfirud Dzunuba illa Allah. 

Tentang Malaikat pencabut nyawa yang menggambarkan saat nyawa akan ditarik dari tubuh ibarat domba yang dikuliti hidup-hidup. Tiada terkira sakitnya. Rasulullah saja tak mampu menahan sakit, apalagi umatnya yang sering bermaksiat ini?. Kematian adalah bukti nyata kekuasaan Allah, dan tak ada seorang pun yang dapat menantangnya. 

"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu. Sekalipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh."
(QS. An-Nisa: 78)

Sekadar mengingatkan, bahwa sejatinya kita hidup untuk persiapan mati, Tak ada yang bisa meghindar dari kematian. Amal yang sering kita lakukan, terkadang tak menjadi jaminan hidup enak di akhirat. Tak ada pangkat, tak ada harta, tak ada penolong ketika semua sudah berada di peradilan Allah, hanya amal baik dan amal buruk kita yang menjadi penentu. Pilihan tempat pun hanya ada dua, Syurga-Nya ataukah neraka-Nya. 

Selama tubuh masih bisa digerakkan dengan maksimal, maka saat itulah kesempatan tuk bertaubat dan berbuat baik pada-Nya terbuka lebar, mulailah benahi segala kekurangan diri, niatkan segalanya demi Ilahi Rabbiy, kita lemah hanya saja Allah-lah yang kan mampukan. Semoga Allah panjangkan umur kita tuk selalu memohon ampun pada-Nya. Aamiin ya Rabbal 'Alaamin. Waa amitnaa bi khusnil khatimah.

Wallahu A'lamu bis Shawab

NB: Yang kutulis ini adalah pesan pribadi agar terus berusaha berbenah diri. 

Selobanteng, 18 Mei 2019

#Day 13
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Jumat, 17 Mei 2019

Momen Beristighfar

"I seek forgiveness from Allah"



Cuaca saat ini benar-benar dingin menurutku. Entah karena memang cuacanya yang dingin, atau hanya badanku saja yang merasakan dingin karena belum benar-benar pulih dari sakit.
Sekarang Ramadhan hari kedua belas, ada banyak harapan yang kusimpan dalam diam, salah satunya tetap bertambahnya iman, islam dan ikhsan. Bagaimanapun manusia pasti tak luput dari segala salah dan dosa, kendati banyak melakukan kesalahan, seharusnya rasa untuk selalu memperbaiki dapat terus terpatri dalam dada dan tak ingin mengulanginya. 

Pada hakikatnya, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Tiada manusia sempurna yang tak luput dari kesalahan. Mungkin ada orang yang jelas melakukan kesalahan namun ia tak merasa bahwa ia telah melakukannya, sejatinya dialah orang yang salah. Untuk itulah istighfar ini selalu diterapkan dalam kehidupan.

Kerap kali suami menyuruhku untuk beristighfar saat aku mulai jenuh dan ingin marah. Katanya, dengan beristighfar, masalah yang kan dihadapi akan terasa ringan dan kesulitan yang datang bisa dimudahkan. Istighfar merupakan kata dalam bahasa arab yang berarti memohon ampun. Selayaknya manusia yang berstatus hamba, memohon ampun pada Allah adalah sebuah keharusan yang tak bisa ditinggalkan begitu saja.

"Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu." 
()QS. Nuh: 10-12)

Inti dari membaca istighfar adalah memohon ampunan kepada Allah yang nantinya akan mendatangkan keberkahan tersendiri kepada si pembaca. Seperti yang telah dijelaskan ayat di atas. Dalam suatu riwayat, Rasulullah membiasakan diri dengan beristighfar sebanyak seratus kali dalam sehari. Padahal, Rasulullah adalah manusia yang sudah dijamin syurga oleh Allah. Oleh karenanya, membiasakan diri dengan beristighfar sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.

"Barang siapa yang membiasakan membaca istighfar, maka Allah akan menjadikan setiap kesempitan menjadi jalan keluar, menghindarkan setiap kecemasan dan Allah kan memberikan rezeki yang tak terduga." (HR. Abu Daud & Ibnu Majah) 

Seolah menjadi terapi bagi diri yang sering merasa kesulitan dalam segala hal yang tak bisa dikerjakan. Sungguh, Biasanya aku lebih sering ingin marah kepada suami sebagai pelampiasannya. Naudzubillahi min Syarri Dzalik. Yuk beristighfar bersama untuk kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat. Ramadhan adalah momen terbaik dalam memulai segala hal baik, Istighfar dimulai dari sekarang dan berlanjut hingga bulan-bulan berikutnya. Allahu Akbar... Semoga tak sekadar rencana namun ada keinginan tuk terus-menerus melakukannya.

Wallahu A'lamu bis Shawab 

Selobanteng, 17 Mei 2019

#Day 12
#OneDayOnePost30HDRC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

Kamis, 16 Mei 2019

Istiqomah Penjemput Berkah


Hasil gambar untuk istiqomah
"Amal yang paling dicintai Allah  adalah yang terus menerus meskipun sedikit"


Assalamualaikum...
Bagaimana keadaan iman hari? sehat? :) Alhamdulillah, kondisi iman kadang tak dapat diprediksi, kadang naik kadang pula turun. Barometernya selalu beda ya... Namun, semoga selalu istiqamah dalam menjaganya. Aamiin yaa Allah.

Ataukah kondisi badan yang kurang sehat?
Jika seperti itu, kita sama. Hehehe. Kondisi badan yang tak fit dan memaksakan diri untuk melakukan segala hal, jadinya Drop dulu sebelum berperang. Niat hati ingin beristiqomah dengan tugas baru, nyatanya, hanya menjadi sebuah wacana. Astaghfirullah, betapa aku hanya berencana, namun sepenuhnya, Allah lah yang menentukan.

Seharusnya, tak perlu memaksakan diri jika memang kondisi diri tak mendukung, agar semua hal tak terbengkalai. Ini sekadar pengingat bagi diriku sendiri dan pembaca agar mengistirahatkan otak di kala lelah. Itu saja.

Saat membaca chat di grup Writing Challenge, Teman-teman sesama peserta begitu semangat menyetor Link postingan, ada beberapa di antara mereka yang istiqomah menyetorkan link postingan lebih awal dari teman-teman yang lainnya. Salut dengan mereka, jika mereka bisa maka aku juga harus bisa tanpa mengorbankan seluruh aktivitas yang ada. Ya... harusnya memang begitu, namun ada saja kendala yang harus dihadapi, salah satunya dengan mengasuh dan mengasihi anak... Allahu Akbar... Jadi lebih tertantang karena ngetiknya menggunakan satu tangan, tangan yang lainnya mengelus kepala bayi agar lekas tidur. Tatkala sudah hampir tidur lelap, dia menggeliat manja lalu menangis. Hahaha... tantangannya luar biasa. Bukan ingin membuktikan diri ini mampu, hanya saja ingin istiqomah menebarkan kebaikan melalui tulisan kendati diri ini belum sepenuhnya baik.

Baiklah, mengenai istiqamah yang sering kusebut di atas, Rasulullah juga menegaskan dalam sabdanya,

"Amal yang paling dicintai Allah adalah terus menerus meskipun sedikit"
(HR. Muslim)

Sama seperti prinsipku mengikuti challenge ini, aku ingin meng-istiqomahkan diri dalam menulis. Kuyakin saat orang akan mencoba konsisten atau istiqomah dengan segala hal baik, pasti ada kendala yang harus dihadapi. Tergantung kita dalam menyikapinya. Istiqomah tak hanya untuk hal menulis saja, pun dalam hal menuntut ilmu. Ilmu apa saja yang ditemui dalam kehidupan. Istiqamah dalam mempelajari suatu ilmu juga merupakan hal mutlak. Kisah Ibnu Hajar dalam menuntut ilmu dapat dijadikan pelajaran agar tidak mudah menyerah dan tetap konsisten melaksanakannya. 

Alkisah, Ibnu Hajar merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena sangatlah susah dalam menghafal dan memahami suatu ilmu. Dari itu, beliau berniat pulang ke rumahnya dan berhenti belajar. Setiba di jalan menuju rumahnya, Ibnu Hajar beristirahat di pinggir sebuah sunga. Saat itulah beliau melihat lubang di sebuah batu. Lubang tersebut muncul karena tetesan air yang jatuh dari atas bebatuan. Air yang jatuh secara terus menerus tetes per tetes. Dari sinilah ia memperoleh hikmah dari apa yang dilihatnya.

Ibnu Hajar menyadari bahwa tetesan air dapat melubangi sebuah batu yang keras karena terjadi secara terus menerus. Begitu pula dengan menuntut ilmu, yang awalnya dirasa sulit dan hampir berputus asa dengan keadaan, ketahuilah bahwa seseorang akan menjadi pandai jika ia istiqamah dalam mengatur waktu dan tekun belajar. 

Bersikap konsisten/Istiqomah seharusnya bisa diterapkan dalam setiap hal baik. Selain bisa mendapatkan manfaat dari apa yang telah dilakukan secara berulang-ulang, ada pahala yang terus mengalir kala keikhlasan menyertai. Jika sudah terlatih, sikap istiqomah tidak hanya menyangkut dalam hal menulis ataupun menuntut ilmu, tetapi juga berefek pada aktivitas lainnya. saat istiqomah mulai berjalan, seiring waktu banyak berkah yang didapat. Istiqomah dalam menulis, kosa kata dan ide baru akan muncul seketika disela-sela menulis, bukankah begitu? 

Kebiasaanku, saat akan melakukan sesuatu hanya semangat di awal saja, semangat memulai namun tersendat di tengah. Jika tidak memacu diri untuk melakukannya secara konsisten, maka keinginan itu hanya sebatas angan tanpa realisasi. 

Demikian dalam menyebar kebaikan melalui tulisan, istiqomah sangat diperlukan untukku pribadi, dengan harapan dapat berimbas untuk aktivitasku yang lainnya. Aamiin yaa Mujiib... 

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 16 Mei 2019

#Day 11
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Image Source 

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum... Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didha...