Minggu, 19 Mei 2019

Rezeki Yang Dinanti Part 1





Assalamualaikum...
Sekarang adalah Ramadhan hari keempat belas, Masya Allah... Semoga Allah bukakan pintu maghfirah dan pintu rezeki-Nya kepada kita semua, Aamiin ya Rabbal 'Alaamin...

Seperti biasa, jika sudah weekend, Baby Hilma tidurnya lumayan pagi. Setelah bangun tidur langsung mandi, main sebentar lalu tidur lagi hehehe. Alhasil, menulis sambil mengelus kepalanya agar tak terbangun saat sedang khusyuk mengetik. Beginilah jika memiliki bayi, ingin beraktivitas adalah pada saat bayi benar-benar terlelap. Kuyakin semua ibu pasti akan begitu. Tak terkecuali aku.

Alhamdulillah, ini adalah Ramadhan kedua yang aku dan suami jalani, dan di bulan inilah Allah perkenankanku mendapatkan garis dua di testpack yang sengaja kubeli 1 bulan setelah pernikahan. Itu artinya aku akan menjadi seorang ibu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Allahu Akbar... Allah Maha Baik, Thanks for this. Dan aku tak bisa menyembunyikan kegembiraanku kala itu. Artinya semakin lengkaplah kebahagiaan kami, dua bulan menikah dan akan hadir di tengah-tengah kami bayi mungil yang merupakan salah satu tujuan untuk melestarikan umat Rasulullah. 

Kala itu, tanggal 18 mei 2018, Ramadhan tinggal menghitung jari. Selepas Dhuhur menjelang, Aku melihat testpack yang kupegang. Aku penasaran karena aku telat datang bulan seminggu lamanya. Dan... garis dua berwarna merah terang muncul dengan sangat jelas di depan mataku. Dan itu cukup membungkam mulutku untuk beberapa saat. Kata syukur kuucap dalam hati. Tanganku sibuk mengelus dada sambil tersenyum sumringah melihat testpack yang kupegang itu.

Tanpa menunggu lama, aku berlari menuju mushalla tempat suamiku berada. Sambil berusaha bersikap setenang mungkin, walau senyum ini susah kusembunyikan. Saat itu suami sedang melaksanakan shalat, setelah berucap kedua salam, aku duduk berhambur di belakangnya (Tidak memeluknya, karena suami akan marah jika aku menyentuhnya saat ia dalam keadaan berwudhu'), dia menatapku heran, kubiarkan keheranan dia menyelimuti kepalanya hingga testpack yang kupegang kuletakkan tepat di hadapannya sambil kupasang senyum semanis mungkin. Dan tahukah? Responnya tak sesuai dengan ekspektasiku, kukira dia akan bahagia, memelukku dan menyemangatiku bahwa aku akan menjadi seorang ibu dari anaknya, mirip di film-film itulah pokoknya. Justru ekspresinya berubah lucu dan menghindariku dengan memundurkan badannya beberapa langkah.

"Eh... Kok cepat ya, Dek. Saya belum siap punya anak, tidak tahu bagaimana jadi seorang ayah" Ujarnya sambil tertawa.

Aku hanya tertawa sambil meledeknya bahwa dia yang nantinya akan menggendong bayi kecilnya kalau menangis. Dia mendekat dan meraih benda kecil bergaris dua itu, dia tersenyum dan mengatakan bahwa aku harus menjaga janin ini sebaik-baiknya. Aku ingat betul saat itu, suamiku baru pindah domisili Madura ke kota asal kelahiranku, Situbondo. Sudah pasti dia belum memiliki pekerjaan yang layak untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga kami. Namun, dia percaya bahwa rezeki Allah pasti selalu ada untuk setiap makhluk yang dititipkan di rahim istrinya. Walau proses untuk mendapatkan pekerjaan itu lumayan sulit dan lama hehehe. Buktinya, setelah Baby Hilma lahir, barulah suami dipanggil oleh lembaga sekolah dan menyuruhnya untuk mengajar di sana. Allahu Akbar... Allahul Musta'an

"Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, Maka Allah akan menunjukkannya jalan keluar padanya dari kesusahan, dan diberikan-Nya rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka, dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akn cukupkan keperluannya." 
(QS. At-Talaq: 2-3)

Tak ada yang tidak mungkin bagi Allah, proses tuk dapatkan rezeki yang halal tidaklah mudah. Derai air mata memang sangat diperlukan saat sepertiga malam tiba, pun usaha yang diupayakan juga tak berjalan mulus layaknya jalan beraspal, ada lika-likunya. Perlu kesabaran ekstra untuk setiap kata orang-orang yang hanya ingin menjatuhkan. Kuncinya hanya sabar dan mendekat pada Ilahi Rabbiy, bahwa Allah-lah yang mengatur segalanya. Sebagai hamba, hanya mengikuti alur yang telah direncanakan-Nya.

Begitu pula dengan proses mendapatkan seorang anak yang shaleh, tak serta merta Allah langsung berikan anak yang sesuai harapan setiap orang. Harus disertakan peran orang tua yang ikhlas dalam mendidik dan mengayominya. Perlu waktu yang senantiasa ada untuk digunakan dengan sebaik-baiknya.

Jadi, jangan meyerah tuk dapatkan rezeki Allah yang halal lagi tayyiban nafi'a selama ada kemauan pasti ada jalan. 

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 19 Mei 2019

#Day 14
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

 Image Source: Google Image




1 komentar:

  1. baru dapet satu. maaf anda belum hamil hihihi. tapi di rumah ini udah rame ada anak 3 bawaan dari suami dulu. kalau saya hamil berarti nanti jadi anak ke 4 dong

    BalasHapus

Kritik dan saran sangat berarti demi perbaikan isi blog ini...

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum... Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didha...