Selasa, 07 Mei 2019

Dunia Tadarus yang Serius


Hari kedua Ramadhan, Pagi menjelang terang dengan teriknya,  siang mungkin saja bisa berubah syahdu lebih tepatnya mendung menggantung seperti hari kemarin saat semua orang melaksanakan kewajiban puasanya dan langit memberikan pengaruh sejuk untuk mereka yang sedang beraktifitas melakukan pekerjaan dengan menahan dahaga serta lapar. 

Sepagi ini, Baby Hilma masih tidur, dan aku bisa mengantarkan imajinasi memainkan peran di layar kaca laptopku. Sebagai perempuan yang sudah memiliki anak, aku harus bisa mengatur waktu agar bisa meng-handle segala pekerjaan yang kuanggap penting. Salah satunya adalah menulis. Jadi menulislah, jika kata tak mampu kau lontarkan untuk mewakili apa yang ada di angan. :)

Sebenarnya, tulisan ini lahir saat aku sedang menikmati Hafidz Indonesia 2019 yang ditayangkan oleh TV swasta sebagai tayangan berbobot selama Ramadhan berlangsung. Dan memang benar adanya, sarana untuk me-muhasabah diri dengan melihat para peserta Hafidz dan Hafidzah cilik yang sudah bisa menghafal sebagian ataupun bahkan seluruh isi Al-Qur'an. Masyaa Allah... Decak kagum penonton di studio begitu terlihat saat para Hafidz dan Hafidzah melantunkan Ayatullah dengan lantang dan fasih. Tentu saja dengan suara renyah dan khas mereka yang berbeda-beda. Begitu pula denganku, selain rasa kagum yang mengepung kadar sadarku terhadap kemampuan mereka yang kuanggap di atas rata-rata, batinku benar-benar tertampar dengan daya ingat mereka dalam menghafal ayat-ayat suci Al-Qur'an. Dengan usia yang seharusnya mereka habiskan untuk bersenang-senang ria, namun sudah mereka tangguhkan agar bisa bersahabat karib dengan firman Allah tersebut.


Ditawarkan kepada Penghafal Al-Qur'an, "Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya, baca dengan tartil sebagaimana kamu menartilkannya saat di dunia. Karena kedudukanmu di syurga, setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal"
(HR. Abu Daud  1466, At-Turmudzi  3162, dan dishahihkan oleh Albani)

Selain para Hafidz dan Hafidzah, ada juga para juri yang juga menampilkan rasa kagumku bertambah sedemikian kuadrat. Mereka terlihat begitu tegas dan serius, namun tetap telaten dan mengayomi. Terlihat dari cara berbicara dan menegur para Hafidz dan Hafidzah cilik jika ada kesalahan pada bacaannya. Sungguh, menegur tak serta merta sekenanya saja. Menegur juga membutuhkan ilmu, agar yang ditegur bisa menerima dan ikhlas dalam melakukan perbaikan.

Melihat tayangan ini, aku jadi teringat masa kecilku dulu, saat diri masih tak terkontaminasi dengan hiruk-pikuknya dunia yang sedang terjadi di masa dewasa kini, saat diri masih senang dengan hadirnya Bulan Ramadhan dengan tradisi tadarus di surau-surau kecil yang ditandai dengan suara pengeras suara menyuarakan lantunan Kalamullah di setiap malamnya. Dulu, surau tak semegah Mushalla yang sudah berganti dari dinding kayu ke dinding tembok seperti sekarang, namun kenangan masa kecil selalu indah untuk di kenang walau kadang setting waktu dan tempatnya tak mewah untuk disinggahi.

Aku dan ketiga temanku, kusebut mereka: Hani, Sugeng, dan Muhammad. Adalah santri binaan kedua orang tuaku, namun yang mengajar kami adalah pamanku. Kami memanggilnya Le' Si'at. Setiap malam kami harus pergi ke surau yang berada tepat di depan rumahku. Suka duka mengaji sungguh kami rasakan kala itu. Mulai dari kondisi kayu surau yang sudah digerogoti rayap di setiap sudutnya, lantai retak yang menyebabkan pasir berhamburan mengotori pakaian-pakaian yang kami kenakan saat kami duduk melingkar, hingga penerangan di surau yang hanya menggunakan lampu berwarna kuning yang tak kuketahui satuan watt-nya. Pernah juga untuk menambah penerangan saat tadarus, kami menggunakan kaleng susu yang sudah diberi sumbu dan minyak tanah lalu disulut api dibagian sumbunya, orang-orang di desa kami menyebutnya  'Talempek'


Tadarus yang biasa kulakukan saat malam hari di Bulan Ramadhan adalah baca simak. Satu di antara kami berempat membaca dan yang lain mendengarkan, ada kalanya menegur jika salah dalam perapalan Makhraj dan juga Tajwid-nya. Bila masih ada kesalahan yang sama, tak segan, tasbih yang semula berada di tangan Le' Si'at mendarat mengenai tubuh kami. Tak ayal, kadang kami menangis sambil menunduk karena rasa sakit sisa pukulan itu. Pun ketika wajah kami tak serius dalam meneliti Al-Qur'an yang dibaca, sebagai hukumannya kami harus berdiri sambil memegang Al-Qur'an sampai Tadarus selesai. Itu dulu saat undang-undang tentang guru memukul murid tak setenar sekarang. Makna pukulan tak semua berarti negatif, Ada kalanya pukulan sebagai pengingat bila kesalahan sering diulang.

Akibat pukulan saat tadarus itu, Aku dan ketiga temanku mengetahui tata cara membaca Al-Qur'an dengan Tajwid yang benar. Satu yang selalu kuingat, Tadarus memerlukan keseriusan dalam meneliti bacaan Al-Qur'an. Sesuai dengan arti bahasanya, Tadarus berasal dari kata Darosa-Yadrusu, yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah dan mengambil pelajaran. Lalu diberi tambahan Ta' sehingga menjadi Tadaarosa-Yatadaarosu, maknanya pun bertambah menjadi saling belajar atau mempelajari secara mendalam.

Kegiatan tadarus yang dilakukan secara bergantian oleh Ustadz dan santri di Mushalla


Sampai sekarang pun, Tradisi tadarus tetap rutin dilakukan di Surau (kini menjadi Mushalla) yang diambil alih oleh suamiku. Alhamdulillah, santrinya pun bertambah dari generasi ke generasi. Bedanya, Tadarus di Bulan Ramadhan dilakukan dengan menggunakan pengeras suara agar terdengar oleh penduduk desa setempat, tentu saja dengan batas wajar agar tidak mengganggu mereka yang sedang beristirahat. Sedang bila berlalunya Bulan Ramadhan, Tadarus tetap dilakukan tanpa pengeras suara.

Tadarus lebih menyenangkan bila dilakukan bersama-sama. Kesalahan dalam membaca Al-Qur'an akan ada pembenaran dari yang lainnya. Seketika, pembenaran tersebut akan menjadi ingatan kuat agar tak mengulangi kesalahan yang sama. 

Tadarus tak hanya memerlukan suara indah yang mampir di setiap telinga yang menikmatinya. Tadarus harusnya bisa memperbaiki bacaan, Mahraj serta Tajwid bagi para pengkajinya agar tadarus tak serta merta diadakan namun nihil hasilnya. Sampai di sini, Bertadaruslah dan Tadabburilah Al-Qur'an karena syafaat juga akan datang bagi mereka yang dekat dengan Al-Qur'an.

"Khairukum man ta'allamal Qur'an, Wa 'Allamahu"



Selobanteng, 07 Mei 2019
#Day 2
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik dan saran sangat berarti demi perbaikan isi blog ini...

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum... Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didha...