Rabu, 15 Mei 2019

Maaf yang Terpasung

"Maaf dan Memaafkan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan tuk legakan hatimu"

Assalamualaikum...
Menjelang Ramadhan hari kesepuluh, semoga Allah kuatkan hati tuk melaksanakannya. Sudah bangun tuk laksanakan sahur? Imsak tinggal beberapa menit lagi hihihi... 

Jarum jam menunjukkan angka 03:17 WIB, selain menjadi waktu terbaik untuk mengadu kepada Allah, ini juga merupakan waktu terbaik untuk menuangkan seluruh isi kepala. Bukan apa-apa, jika otak tak dipaksa untuk mengeluarkan apa yang di benaknya, ia akan merasa lelah sendiri dan malas untuk melakukan sesuatu. Bukankah otak adalah central seluruh ide dalam tubuh? Tatkala otak tak bisa diajak kompromi, maka amburadul lah seluruh aktivitas kita.

Pernah kesal dengan seseorang? Atau pernah membuat kesal orang lain? Kurasa setiap individu yang bernafas dan selalu mempraktekkan ilmu sosialnya pasti pernah melakukannya, dalam bentuk interaksi maupun tidak langsung. Dari pembicaraan yang semula ringan lalu berlanjut ke hal-hal yang memberatkan. Jika tak sesuai dengan asumsi si pendengar maka salah satu pihak yang mendengarkan akan merasa sakit hati. 

Aku pernah seperti itu, ada luka di hati karena yang berbicara secara tidak langsung menyakiti, namun ia tak sadar bahwa ia telah melakukannya. Masih dan tetap bersikap biasa saja, hingga akhirnya ia sadar bahwa aku sudah tak begitu respect alias tak menggubrisnya ketika ia berbicara.

Menghindar untuk kasus ini, lebih kuutamakan, agar tak terulang sakit yang dulu pernah ada. Dari itu ia mulai sadar dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukan lisannya. Sungguh, dilema itu muncul menerobos pertahanan hati yang semula tak ingin ada interaksi lagi dengannya. Memaafkan ataukah membiarkan. Memaafkan seolah membuka hati kembali menerimanya sebagai teman, namun potensi untuk menyakiti pasti terulang lagi. Jika membiarkan, maka hidupku takkan tenang, seolah memikul beban berat jika tak bertegur sapa dengannya. Dunia memusuhiku bila aku tak berdamai dengan masalah ini. Dengan berat hati dan pemikiran panjang tentunya, akupun memaafkannya.

Memaafkan teman atau orang lain saat melakukan kesalahan seolah lidah menjadi kelu dan tak bisa digerakkan. Mungkin saja, hati dan otak sejalan untuk memusuhinya hingga lidah juga mengambil alih fungsi untuk diam dan tak bicara sepatah kata pun. Belum lagi mengingat semua yang pernah dilakukannya. tentu saja, maaf menjadi terpasung dan tak siap tuk dilontarkan.

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raaf:199)

"Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Al-Imran:134) 

Seolah gampang saat mengatakan untuk mengeluarkan maaf, tindakan tuk melakukannya sangatlah sulit, ayat di atas menegaskan kembali bahwa yang berstatus hamba tak patut menyembunyikan maaf terlalu lama. Allah Maha Pemaaf, tak wajar bila makhluk ciptaan-Nya berlama-lama memendam sedih dan tak saling memaafkan. 

Memaafkan adalah sikap tidak menghukum karena kesalahan orang lain yang dilakukan. Memaafkan juga berarti menghapus segala luka yang ada di hati agar tak menjadi dendam. Lebih utama lagi jika ada orang lain yang meminta maaf lalu dengan hati legowo untuk memberi maaf. 

Begitu pula sebaliknya jika diri inilah yang bersalah, meminta maaf telah terbingkai dalam kegengsian. Menjadi pribadi pemaaf setidaknya ada hikmah yang bisa diambil saat gelar maaf disematkan. Pertama. Allah akan mengampuni dosa-dosa orang yang memaafkan kesalahan saudaranya, sebagaimana ia memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Kedua, Allah akan lapangkan hatinya sebagaimana ia telah melapangkan hati saudaranya melalui maaf.

Demikianlah jika maaf dibiasakan, maka akan tercipta tatanan sosial yang harmonis di mata manusia dan dipenuhi cinta dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Apa yang kutulis hanyalah sekadar sebagai pengingat dan nasehat diri agar tak biasa memendam dendam ataupun sakit hati berkepanjangan. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan khilaf yang pernah dilakukan disengaja maupun tidak. Aamiin yaa Allah, Yaa Mujibas Saailin.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 15 Mei 2019

#Day 10
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijra

Image Source: Google Image

1 komentar:

Kritik dan saran sangat berarti demi perbaikan isi blog ini...

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum... Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didha...