"Siapa yang diuji dengan hadirnya anak perempuan, maka anak itu akan menjadi tameng baginya di neraka"
(HR. Bukhari, no. 1418)
Assalamualaikum...
Alhamdulillah, saat terik siang menyengat di saat itu pula aku berupaya sekuat tenaga tuk menidurkan Baby Hilma. Karena tetap rewel saat diletakkan di kasur. Alhasil, aku menggendongnya sambil mengayunkan badan dengan harapan si baby ini tidur. Qadarullah, si baby tidur walau aku harus berdiri menahan ngilu di pangkalan lutut selama 1 jam setengah. Yeyy... semangat mama muda!!!
Ramadhan hari kelima belas, Masya Allah tak terasa, ternyata berpuasa sudah berada di pertengahan, lima belas hari lagi insyaa Allah menuju hari kemenangan. Allahu akbar!
Tuk ibu menyusui seperti aku sebenarnya tak ada anjuran untuk berpuasa penuh jika dikhawatirkan dapat membahayakan ibu atau bayinya, hanya saja jika mampu dan tak ada kendala serius, silahkan berpuasa selama bayi tidak rewel dan tetap dalam kondisi prima.
Ada banyak cerita di pertengahan Ramadhan ini. Aku jadi teringat dulu saat Bulan Ramadhan Tahun 2018, aku berencana melaksanakan puasa, saat itu usia kehamilan memasuki 2 bulan. Aku mengalami morning sickness, mungkin sama dengan yang dialami oleh ibu-ibu hamil pada umumnya. Suami, tentu saja selalu siaga dalam melayaniku. Dia menyediakan plastik hitam kemana dan di mana pun aku berada, ditakutkan aku lepas kontrol dan mengeluarkan seluruh isi perut di tempat yang biasa di tempati orang.
Tak muluk inginku sebagai orang tua. Aku hanya ingin anak ini jauh lebih baik dari diriku dalam hal positif. Tak lupa kekata doa yang sering kupanjatkan menderas seiring bertambahnya usia kehamilan. Begitupun suami, selain doa yang sering dia rapalkan rutin dalam shalatnya, dia sering melantunkan suara adzan di perutku, karena keyakinan dan keinginannya bahwa janin yang ada dalam perutku adalah laki-laki. Dia begitu percaya apa yang dikatakan nenek saat meraba letak janinku yang berada tepat di sebelah kanan. Pertanda bahwa itu bayi laki-laki, apalagi dengan melihat kondisi fisik dan tubuhku yang kian tak terawat selama masa kehamilan, sangatlah dekil dan malas untuk melakukan segala hal. Suami semakin yakin bahwa yang kukandung adalah bayi laki-laki. Aku mengiyakan tuk menenangkan hatinya. Karena bayi laki-laki ataupun perempuan adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dan disayangi.
Aku sudah menebak bahwa suamiku sangat meginginkan bayi laki-laki yang ia sebut sebagai penerusnya, namun jika Allah memberinya bayi perempuan juga akan diterimanya. Dia selalu berdoa semoga aku selalu sehat dan kuat saat melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan nantinya. Walau sejatinya, suamiku sangat menginginkan bayi laki-laki sebagai anak pembuka, begitu dia menyebutnya.
Untuk meredam rasa penasarannya, Aku dan suami pergi ke dokter kandungan yang berjarak lumayan jauh dari kotaku. Kala itu usia kehamilan 31 minggu atau 8 bulan menurut perkiraan Bidan Desa. Kami berangkat setelah Shalat Shubuh dan sampai di lokasi tepat jam 06:50 WIB. Lumayan, perjalanan ini sukses membuat kepalaku pening. Pemandangan ibu-ibu muda dengan perut buncit berjajar rapi menunggu antrian yang datang sebelum kami. Aku harus melakukan antrian panjang hanya demi USG 4D. Masya Allah... bisa dibayangkan betapa suntuknya aku menunggu giliran untuk bertemu dengan dokter spesialis kandungan ini. 07:00 pagi awal registrasi hingga pukul 02:45 sore aku bisa berhallo ria dengan janin ini.
Terbayar sudah rasa suntuk dan letihku, begitu pula dengan suami yang begitu bersemangat merekam setiap gambar di layar yang menampilkan suara detak jantung dan gambar kaki-kaki mungil anakku. Terharu rasanya, walau saat di-USG tadi, tak kulihat wajah anakku karena tertutup oleh tangannya sendiri, seolah dia malu tuk bertatap muka denganku, Ummanya.
Hal itu sudah cukup membuatku senang, karena tak ada hal 'aneh' di dalam kandunganku. Semuanya normal sampai dokter mengatakan bahwa anak kami adalah perempuan. Aku berucap syukur, laki-laki atau perempuan asal dia sehat tanpa kekurangan suatu apapun.
Kulirik wajah suamiku, ada raut wajah kecewa di sana. Melihatnya membuatku sedih, hingga keluar dari ruangan dokter tak kudapati senyum tersungging di bibirnya. Dia hanya diam dan menunduk. Tak ada percakapan di antara kami, membuatku merasa telah gagal menjadi seorang istri karena sikapnya. Kuucap maaf padanya, hanya saja dia tersenyum dan mengatakan, anak laki-laki atau perempuan akan menjadi pembawa orang tuanya ke syurga bila kita berhasil mendidiknya. Seiring waktu, dia bisa menerima bahwa anak dalam kandunganku ini adalah perempuan. Justru dialah yang paling bersemangat untuk membelikan segala pernak-pernik bayi bernuansa pink tuk menyambut hadirnya ke dunia ini.
"Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."
(QS An-Nisa:19)
Seperti halnya Rasulullah yang memiliki anak perempuan bernama Fatimah Al-Zahra, Perempuan mulia yang bergelar "Ummu Abiha" karena kedudukan Fatimah di sisi ayahnya, karena telah berhasil menjadi sosok penyayang yang sangat menyayangi Rasulullah dalam segala hal. Dengan setia mendampingi Rasulullah dalam setiap penderitaan dan mengganti peran ibunya, Khadijah. Suami sangatlah berharap anak perempuannya ini akan sangat membanggakannya kelak.
Memiliki anak perempuan ataupun anak laki-laki adalah ketetapan Allah, tak bisa ditentang pun hanya bisa diupayakan. Selebihnya Allah yang menentukan. Anak adalah amanah, anugerah dan rezeki yang dinanti oleh setiap pasangan. Tugas orang tua adalah mendidik dan mengarahkannya menjadi khalifah fil Ardh' sesuai fitrahnya. Mengajar, mengarahkan dan mendidik anak tak ubahnya usaha tuk dapatkan syurga, mengabaikan semua itu berarti neraka. Dengan demikian tak ada celah tuk mengabaikan tugas ini. Allahul Musta'an, semoga Allah mudahkan dalam mendidik anak-anak kita hingga ia menjadi anak yang shaleh dan shalehah serta bertanggung jawab bagi diri dan agamanya.
Teruntuk anakku, Tashil Naili Izzir Rohman Binti Fathur Rohman. Umma dan Abuya mencintaimu, selalu!
Selobanteng, 20 Mei 2019
#Day 15
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Image Source: Fathur's picture

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kritik dan saran sangat berarti demi perbaikan isi blog ini...