Assalamualaikum... masih tetap dalam nuansa Ramadhan Kareem..
Semoga iman selalu teguh dan tahan terhadap setiap godaan yang datang. Aamiin.
Ingin rasanya melepas penat dengan merehatkan badan sejenak. Menjadi seseorang yang diamanahi buah hati, haruslah siap menahan dan menangguhkan segala lelah, bukan karena merasa sempurna sebagai perempuan, hanya saja mencoba memaksimalkan diri dari segala hal rumah tangga sangatlah diperlukan.
Jarum jam sudah menunjukkan angka 03:00 WIB, aku masih terpekur kaku di depan laptop. Ada banyak hal yang ingin kutulis, namun terbatas waktu dan keadaan. Sesaat memang ada waktu santai saat Baby Hilma dalam pangkuan neneknya atau pada saat dia terlelap dalam tidurnya. Hanya beberapa menit dan dia sudah ada dalam rengkuhanku. Tidak dengan terpaksa kutangguhkan segala hal tuk membuatnya terlelap kembali.
Aku sudah berkeluarga, pun aku juga sudah bekerja. Aku perempuan yang diharuskan bekerja di dalam rumah dan mengurusi segala tetek-bengek rumah tangga, ini adalah anjuran, mau menggugat pun sudah ada dalil Al-Qur'an yang menguatkan bahwa sebaik-baik tempat bagi perempuan adalah rumah.
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyah yang dahulu."
(QS. Al-Ahzab:33)
Aku perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah, tentang perempuan yang bekerja di luar rumah selalu menampilkan spekulasi negatif di kalangan masyarakat sekitar. Seolah, perempuan yang bekerja di luar rumah hanya akan menampilkan rusaknya tampilan indah dalam dirinya. Mereka beranggapan bahwa perempuan yang bekerja di luar rumah sudah tidak puas dengan hasil kerja suami yang tak seberapa atau lebih mengedepankan ego dari pada hati nurani untuk meluangkan waktu bersama buah hati.
Baiklah, kukatakan bahwa itu tidaklah benar, perempuan yang bekerja adalah perempuan abdi suami, bukan berprinsip emansipasi. Perempuan yang mau membantu ekonomi keluarga. Oh tidak, bukan karena aku tak puas dengan nafkah dari suami atau tak memiliki hati nurani tuk menjaga si buah hati. Hanya saja, aku menyadari adanya potensi diri yang sangat sayang jika dibekukan begitu saja tentu atas izin dan restu suami. Masalah mengurus anak, jujur saja kubawa anakku kerja setiap hari, karena jarak rumah dengan tempat kerja lumayan dekat. Jangan tanyakan seberapa banyak cibiran dan ucapan tak pantas mendarat di telingaku, sudah banyak dan sudah biasa, tentu saja kupasang wajah seolah tak peduli demi menahan perihnya hati. Sudah bukan hal baru lagi jika manusia hanya mampu berkomentar tanpa mengetahui konsekuensi hati yang tersakiti.
Di desaku, banyak ibu-ibu muda maupun tua bekerja membantu suami. Mereka bahu-membahu merawat dan mengopeni hasil pertanian demi anak yang menuntut ilmu hakiki. Maklum, masyarakat pedesaan notabene-nya adalah petani, wajar saja bila 70% ibu-ibu sering berada di sawah atau di ladang, selebihnya ada di rumah bila petang menjelang.
Bukan tak ingin kehidupan mapan dan serba berkecukupan bak di film-film yang tampil di layar TV, suami bekerja di kantor, dan istri hanya menunggu di rumah sambil merawat dan mendidik anak selebihnya, ekonomi keluarga stabil dan terjamin. Berbanding terbalik dengan kehidupan nyata, ekonomi menghimpit, sedang lahan pekerjaan pun tak ada. Jadilah bertani menjadi pilihannya, yang melibatkan seluruh bendahara rumah tangga yang seharusnya duduk manis di rumah, harus turut serta membantu kepala keluarga demi keberlangsungan hidup yang sejahtera.
Perempuan bekerja memang terdengar sangatlah tabu, bertebaran fitnah di mana-mana. Bekerja di luar ataupun di dalam rumah haruslah mengantongi izin suami jika sudah berkeluarga, berpakaian syar'i dan niat karena Ilahi Rabbiy. Perempuan bekerja di luar rumah tentu ada alasannya.
Sekadar sharing dariku, semoga lebih membukakan mata hati kita agar tak selalu beranggapan buruk terhadap perempuan yang bekerja di luar rumah, mereka bekerja karena ada tuntutan yang mengharuskan diri mereka bekerja, kadang itulah alasan utamanya.
Wallahu A'lamu bis Shawab
Selobanteng, 23 Mei 2019
#Day 18
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Ekspektasinya bisa tenang di rumah urus anak sama rumah. Kenyataannya juga harus ikutan berjibaku baik berwirausaha maupun bekerja kantoran.
BalasHapus