Sabtu, 18 Mei 2019

Hidup Untuk Mati





Selepas berbuka puasa, aku dikejutkan oleh berita kematian salah satu santri, dia adalah alumni di tempatku mondokku dulu. Rasa penasaranku membuncah saat nama almarhum disebut. Setelah kuketahui wajahnya dari foto yang ditampilkan, Innalillahi, ternyata aku mengenalnya hanya saja tak kuketahui namanya. Masya Allah... hanya mampu mengelus dada dan merapalkan sebait doa untuknya. Pertemuan yang singkat itu terjadi sekitar setengah bulan yang lalu.

Berita kematian memang selalu membuatku bergetar, merinding dan merasa takut. Betapa hidup ini singkat bagi orang yang mendominankan diri untuk urusan akhirat. Perihal keinginan yang senantiasa terus ada untuk dunia maka ingatan tentang kehidupan setelah mati rasanya menjadi abai. Betapa tidak? Dengan dunia dan seisinya yang melenakan terkadang dan sudah pasti membuat lupa segalanya. Lupa untuk melakukan persiapan apa yang harus dipersiapkan sebagai bekal nanti. Allahu Akbar... Mengingat tentang kematian memang selalu berhasil membuat diri ini kerdil dan patah daya. Bahwa amal baiklah yang nantinya mendampingi sebagai teman pengganti sanak keluarga dan sanak saudara.

"Kullu nafsin dzaaiqatul maut"

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, hanya saja waktu dan tempatnya yang tak bisa diprediksi. Manusia hanya menunggu kapan akan dipanggil untuk menghadap-Nya. Kendati siap atau tidak menghadapi ajal yang hanya satu tarikan nafas dan semua tak berarti apa-apa. Astaghfirullahal adzim min kulli dzambin adzim. Bila sudah seperti ini, apa yang kan dilakukan? amal yang tak sebanyak yang diharapkan, namun Allah sudah berkehendak dan terjadi.

Seketika aku menolehkan wajahku ke arah suami dan anak yang sedang tertidur pulas tak jauh dari tempatku mengetik. Nafas mereka berhembus pelan dan teratur. Allah yang menciptakan, dan akan diambil-Nya sewaktu-waktu bila Allah meginginkan. Hatiku mulai bergemuruh, menahan ketakutan dan penyesalan. Mengingat banyak sekali kedzaliman yang kulakukan pada mereka, banyak sekali khilaf yang sering aku lakukan disengaja maupun tidak yang sering aku selipkan dalam perbuatan. Timbul pikiran yang bisa saja merusak mood aktivitas harian, bagaimana jika Allah mencabut nyawaku sedang aku berada dalam kemaksiatan? Bagaimana jika Allah mencabut nyawaku sedang aku tidak sedang dalam ketaatan pada-Nya. Duh Gusti... Faghfirliy... Faghfirliy laa yaghfirud Dzunuba illa Allah. 

Tentang Malaikat pencabut nyawa yang menggambarkan saat nyawa akan ditarik dari tubuh ibarat domba yang dikuliti hidup-hidup. Tiada terkira sakitnya. Rasulullah saja tak mampu menahan sakit, apalagi umatnya yang sering bermaksiat ini?. Kematian adalah bukti nyata kekuasaan Allah, dan tak ada seorang pun yang dapat menantangnya. 

"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu. Sekalipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh."
(QS. An-Nisa: 78)

Sekadar mengingatkan, bahwa sejatinya kita hidup untuk persiapan mati, Tak ada yang bisa meghindar dari kematian. Amal yang sering kita lakukan, terkadang tak menjadi jaminan hidup enak di akhirat. Tak ada pangkat, tak ada harta, tak ada penolong ketika semua sudah berada di peradilan Allah, hanya amal baik dan amal buruk kita yang menjadi penentu. Pilihan tempat pun hanya ada dua, Syurga-Nya ataukah neraka-Nya. 

Selama tubuh masih bisa digerakkan dengan maksimal, maka saat itulah kesempatan tuk bertaubat dan berbuat baik pada-Nya terbuka lebar, mulailah benahi segala kekurangan diri, niatkan segalanya demi Ilahi Rabbiy, kita lemah hanya saja Allah-lah yang kan mampukan. Semoga Allah panjangkan umur kita tuk selalu memohon ampun pada-Nya. Aamiin ya Rabbal 'Alaamin. Waa amitnaa bi khusnil khatimah.

Wallahu A'lamu bis Shawab

NB: Yang kutulis ini adalah pesan pribadi agar terus berusaha berbenah diri. 

Selobanteng, 18 Mei 2019

#Day 13
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Image Source: Google Image

1 komentar:

  1. kan menjadi pengingat bahwa kita harus siap kapanpun ketika dipanggil menghadapNya. Tak peduli umur dan sedang dalam keadaan apa kita.

    BalasHapus

Kritik dan saran sangat berarti demi perbaikan isi blog ini...

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum... Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didha...