Senin, 13 Mei 2019

Menjadi Ibu Terbaik

"My Mother is my hero"


Ini adalah hari kedelapan Ramadhan dan tentu saja menjadi hari kedelapan pula untuk satu hari satu postingan. Tantangan memang harus begitu, harus sejalan dengan komitmen awal untuk terus berusaha agar ide tak jatuh. Selain itu, untuk mengejar waktu untuk tetap eksis dengan segudang pekerjaan yang menuntut untuk segera diselesaikan. 

Tetiba terbangun saat jam menunjukkan angka 01:15 A.M. karena Baby Hilma terbangun dan tak ingin lepas dari 'Gentong'-nya. Dengan raut wajah sedikit kusut sambil menahan kantuk, aku pun meraih dan menenangkannya. Perjuangan memang, menjadi seorang madrasatul ulaa diharap kesabarannya untuk tetap semangat setiap waktu, karena jam kerja menjadi seorang ibu tidaklah terjadwal melainkan setiap saat harus siap stand by.  Allahu Akbar... Semoga jerih payah dan keikhlasan para ibu di seluruh dunia Allah balas dengan keindahan syurga-Nya. Aamin Ya Allah...

Nikmat menjadi seorang ibu memang tak pernah punah untuk menjadi pembahasan. Suka duka seakan beroleh pahala. Ibu memiliki peran sangat besar dalam pendidikan anaknya. Dengan lemah lembut ajarkan anak untuk berakhlaq mulia. Terkadang saat anak berbuat salah, yang jelas disalahkan bukanlah si anak melainkan didikan ibunya yang kan menjadi sasaran.

Seorang ibu adalah pintu pembuka bagi pendidikan anaknya. Sejak masih di dalam kandungan hingga terlahir ke dunia, seorang anak sudah pasti akan mendapatkan didikan dari orang tuanya, tak terkecuali ibunya. Begitu pun aku, belajar dan berproses menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Perlu latihan untuk menerima bahwa diri tak lagi bisa berbuat seenak hati seperti dulu, ada nasib manusia lain yang Allah titipkan untuk dijaga dan dididik dengan penuh kasih sayang, amanah yang nantinya menjadi khalifah Allah untuk urusan kehidupannya.

Aku jadi teringat kisah Imam Asy-Syafi'i. Seorang ulama madzhab yang sudah terbukti dan tersohor keilmuannya. Bahkan masyarakat Indonesia banyak memilih pendapat ulama ini sebagai madzhab utamanya. Beliau adalah pendiri madzhab As-Syafi'i yang terkenal mendunia. Karya-karyanya menjadi rujukan dan diakui kebenarannya. Imam As-Syafi'i memiliki keluasan ilmu dan kecerdasan luar biasa. Allah juga anugerahkan kepadanya kefasihan dalam berbahasa Arab. Jika ditanya apa rahasia sukses dari seorang Imam Asy-Syafi'i, ternyata semua tak lepas dari peran seorang perempuan berada di belakangnya. Selalu rela berkorban demi kebaikan anaknya, memfasilitasi pendidikan terbaik untuknya. Perempuan itu adalah Ibunda Imam Asy-Syafi'i, Fatimah Binti Ubaidillah. Masyaa Allah, terharu rasanya bila ada seorang ibu yang mampu membuat anaknya terpandang walau banyak keterbatasan yang dimilikinya. 

Catatan bagi diri untuk selalu sabar dalam mendidik Ananda, kendati emosi dan kekesalan sering melanda saat mengasuhnya, namun, ada kebahagiaan tersendiri saat senyum indah tersungging di bibirnya. Semoga Allah senantiasa berikan umur berkah untuk selalu memohon ampun atas kelalaian dalam menjaga amanah-Nya.

Jahimah pernah datang kepada Rasulullah, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku ingin berjihad, dan sungguh aku datang padamu untuk meminta pendapatmu." Beliau berkata. "Apakah engkau masih memiliki ibu?" ia menjawab. "Iya, masih." Beliau bersabda."Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya karena sesungguhnya syurga itu di bawah telapak kakinya." (HR. An-Nasa'i no. 3053)

Jelaslah di sini, menjadi seorang ibu bukanlah hal mudah. Tugas menjadi menjadi seorang ibu bukan hanya mengenai hal mereproduksi, namun juga bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup dan pendidikan Ananda. Seorang ibu menjadi tonggak paling penting dalam menanamkan moral sejak dini. Pantas saja jika Allah meletakkan ridha-Nya pada ridha ibu (orang tua) serta murka Allah juga terletak pada murka ibu (orang tua).

Sungguh, Ibu menjadi bidadari dalam kehidupan rumah tangga. Banyak tugas yang dilakoni tanpa keluhan dan tuntas secara bersamaan. Dan kesempurnaan hidup Allah hadirkan pada eksistensi seorang ibu. 

Apa yang kutulis, sedikit bisa menjadi bahan renungan untukku sendiri yang masih belajar menjadi seorang ibu. Ikhlas dan sabar senantiasa harus selalu ada dalam kehidupan sehari-hari. Lelah, letih tentu saja selalu menyertai namun menjadi ibu shalehah menjadi prioritas dalam diri. Diperlukan hati seluas telaga untuk menampung segala rasa, karena seorang ibu kadang menerima air tuba.

Wallahu A'lamu bis Shawab

 Selobanteng, 13 Mei 2019

#Day 8
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


Image Source: Google Image

4 komentar:

  1. Masya Allah luar biasa.. bacanya sembari menahan haru.. semoga Allah senantiasa berikan kesehatan agar selalu semangat menjaga apa yang Allah SWT amanahkan kepada anti saudaraku..

    BalasHapus
  2. wah... Syukran sudah mampir di blog saya
    Aamiin semoga Allah juga berikan kesehatan untuk kita semua.

    ;0

    BalasHapus
  3. masya allah tetep semanggat untuk mrnjadi seorang ibu

    BalasHapus
  4. Semangat selalu :)
    Untuk menjadi ibu terbaik dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan super
    Siapkan hati dan mental sekuat baja agar tahan banting terhadao ujian dikala mendidik hehe

    BalasHapus

Kritik dan saran sangat berarti demi perbaikan isi blog ini...

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum... Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didha...