Selasa, 14 Mei 2019

Sedekah Pemancing Rezeki

"Pancinglah rezekimu dengan sedekah"

Sepagi ini, aku dikagetkan oleh chat suami, beliau katakan bahwa untuk sahur, lauknya tak ada, jadi sahur sedikit dan tak berselera makan. Jarak kami tidak jauh, aku berada di kamar, dan suami di mushalla. Mungkin agar tidak mengganggu tidurku, beliau nge-chat.  Karena semalaman ini aku benar-benar disibukkan dengan kerewelan Baby Hilma... Sesak rasanya saat beliau katakan seperti itu, ada perasaan bersalah karena kurang melayani suami. Nasi yang sedikit itulah yang beliau makan, itulah rezeki yang diterima suami kali ini. Semoga esok hari rezeki untuknya lebih baik dan cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya ini. Aamiin ya Allah...

Puasa hari kesembilan, ingin kujadikan ajang tafakur terhadap diri yang merasa selalu melalaikan perintah Allah dan seringkali malas untuk melakukan sesuatu. Allah ya Ghaffar... Mungkin kah karena ini rezeki juga seret? Allah yang Maha mengetahui, aku yang berstatus hamba harus tetap berkhusnudzan terhadap apa yang telah ditentukan oleh Allah. Namun, pernahkah pembaca merasakan rezeki yang ditakar berkurang? Entah... Aku merasa akulah yang kurang bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah untukku dan keluargaku. 

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memberitahu, jika kamu bersyukur, maka Kami akan menambah (Nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari  (nikmat) maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih" (QS. Ibrahim: 7)

Perihal rezeki yang sudah Allah takar, kita hanya hanya perlu bersyukur dan tidak mengingkarinya. Allah sudah sangat berbaik hati menanggung segala hal mengenai rezeki, hanya saja, sifat dasar manusia yang selalu merasa kurang hingga lupa untuk berterima kasih kepada-Nya. Masya Allah semoga Allah jauhkan dari segala hal yang menyebabkan murka-Nya. 

Aku jadi teringat kisah inspiratif yang pernah kubaca, kurang lebih ceritanya seperti ini. Seorang pedagang yang memiliki hutang sebesar 30 juta. Suatu hari ia dianjurkan temannya untuk bersedekah. Padahal ia tak punya apa-apa lagi. Sang teman malah menganjurkan untuk menjual satu-satunya harta yang masih dimilikinya, yaitu sebuah motor vespa dan uangnya disedekahkan. Si Pedagang menuruti saja nasehat tersebut. Baru saja berniat hendak menjual vespa, teman dekatnya yang berada di luar negeri mengabarkan baru saja menstransfer uang sebesar 30 juta sebagai bekal usaha untuk dirinya. Masya Allah... sesaat keikhlasan saat tak memiliki apa-apa sering kali diuji. Seberapa ikhlas dalam menerima musibah. Dapat disimpulkan bahwa Allah hanya menginginkan keikhlasan yang benar-benar ikhlas dapat diterapkan saat masalah datang, solusi untuk masalah yang datang menghadang dapat diselesaikan belakangan. Bukankah begitu?

Perihal sedekah yang bisa memancing rezeki, sering kali kudengar, pernah pula mempraktekkan, namun, hasil yang didapat kurang memuaskan. Mungkin ada yang salah dengan niat yang sempat terpatri hebat dalam diri, ataukah aku main-main dalam bersedekah, dalam artian aku sebenarnya tak ikhlas dalam bersedekah namun ingin pujian yang terngiang di telinga dengan jelas. Itulah asumsi otakku berbicara. Wallahu A'lamu...

Niat yang ikhlas dalam bersedekah sangatlah diperlukan, agar tak kecewa mendalam saat yang diharapkan tak melulu sesuai. Allah maha Penentu terbaik apa yang dibutuhkan. Apalagi Allah juga berjanji akan mengabulkan permintaan yang keluar dari mulut orang yang suka memberi. Allah selalu memiliki cara terindah untuk membalas rezeki yang disedekahkan atas nama-Nya. Akibat yang baik selalu berawal dari yang baik.

Selain itu, sedekah merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sedekah bisa mengurangi beban orang yang benar-benar membutuhkan. Manfaat yang paling ditunggu saat bersedekah adalah mendatangkan keberkahan harta dan kelapangan rezeki. Sesuai rumusnya, harta yang disedekahkan selalu mendapatkan ganti yang lebih baik dari sebelumnya. Dari itu, Malaikat selalu berdoa untuk orang yang bersedekah "Ya Allah... berilah ganti kepada orang yang berinfaq"

Namun ada petaka dibalik sedekah yang selalu disebut-sebut. Pahala yang didapat saat bersedekah akan lenyap bila si pemberi selalu menyebut apa yang disedekahkan dan menyakiti hati si penerima. Seperti yang ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima" (QS. Al-Baqarah: 264)

Demikianlah, sebagai pengingat diri, bahwa rezeki yang dimiliki sebagiannya milik orang yang membutuhkan. Tak salah jika yang dipunyai berganti hak milik, karena Allah lah yang nantinya akan mengganti. Sedekah takkan membuat miskin, sedekah kan membuat kaya, kaya hati dan kaya harta bila sedekah atas nama-Nya. Semangatku berpacu untuk ini, walau kadang tak ada sesuatu yang dimiliki, senyum sebagai pengganti harta

Selamat berpuasa, semoga Allah senantiasa melimpahkan rezeki yang halal untuk dipergunakan di jalan-Nya. Aamiin ya Razzaq.

Wallahu A'lamu bis Shawab

Selobanteng, 14 Mei 2019

#Day 9
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


6 komentar:

  1. Betul tuh, selain menyehatkan, juga mendatangkan kawannya.

    BalasHapus
  2. Bentuk 'ganti' sedekah tidak selalu dalam bentuk harta, bisa jadi kesehatan, kemudahan, mungkin begtu hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuppsss... betul sekali Ukh.
      Sedekah itu tak hanya menyedekahkan harta
      Namun, senyum juga menjadi sedekah bila kita ikhlas memberikannya pada orang lain :)

      Hapus
  3. justru dikala nggak punya dan akan menyedekahkan itulah banyak muncul hal tak terduga yg ternyata itu rejeki kita.

    BalasHapus
  4. Hemmm seolah mendapat surprise ya Mah...
    hihi

    BalasHapus

Kritik dan saran sangat berarti demi perbaikan isi blog ini...

Perihal Lisan yang Kelu Berucap

Assalamualaikum... Barangkali ada yang sama seperti kisahku. Kutuliskan ini hanya karena lisan yang tak mampu berucap apa-apa padahal didha...