Assalamualaikum...
Semangat sore, semangat melanjutkan puasa bagi yang menjalankannya. Pun bagi yang tak bisa menjalankan ibadah puasa karena ada halangan, bisa juga mencari pahala dengan membantu menyiapkan atau menyediakan menu buka puasa untuk mereka yang sedang berpuasa. :)
Sore ini, adalah sore ke Duapuluh satu Ramadhan. Tradisi sesaat sebelum lebaran menjelang, pernak-pernik idul fitri semakin dirasa kental. Salah satunya yang kulakukan dulu sebelum Hari Raya menjelang adalah membeli baju baru. Maklum, tradisi membeli baju baru menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan bagiku karena dilakukan setiap satu tahun satu kali yaitu pada saat hari raya Idul Fitri, yang nantinya dipakai pada saat Hari Raya Idul Adha tanpa membeli lagi.
Baju baru memang selalu berhasil membuat mood-ku berubah. Yang semula kesal, berangsur membaik setelah mendapatkan baju baru. Apalagi jika baju baru yang kupakai memiliki kembaran, biasanya anak tetanggaku juga memakai baju yang sama seperti yang kubeli. Rasanya memiliki saudara kandung walau hanya terlihat memakai baju yang sama. Atau saling membandingkan baju yang sudah dibeli dengan teman lainnya, walau tak ber-brand merk terkenal, namun adalah hal yang menyenangkan ketika baju baru serentak dipakai.
Itu adalah kenangan masa kecilku dulu, menjadikan baju baru seolah mendapat berlian mahal, senangnya bukan kepalang tanpa memikirkan keadaan orang tua yang sering mengalami masalah keuangan. Namun mereka dengan suka rela membelikan apa yang kumau bahkan mereka tak segan merogoh budget untuk membeli beras saat hari raya berlangsung. Entahlah, aku benar-benar tak memikirkan perasaan mereka. Yang kupikirkan adalah aku harus berbaju baru layaknya teman-temanku yang lainnya.
Setelah menikah dan membina rumah tangga, pikiran untuk membeli baju baru tak menggebu seperti dulu, bukan tak ingin memiliki baju baru hanya saja anggaran untuk membelinya harus benar-benar ditekan demi kebutuhan lainnya. Oh Allah... Inikah yang dipikirkan orang tuaku dulu? pikiran ini terbesit begitu saja saat 10 hari terakhir Ramadhan berlalu tanpa membeli baju baru.
Aku bersyukur karena suami selalu mengingatkan, untuk masalah harta lihatlah mereka yang ada di bawahmu, sedang untuk masalah ilmu lihatlah mereka yang ada di atasmu. Selalu beliau katakan bila aku tak bisa menghentikan keinginanku. Karena memang tabiat perempuan yang selalu ingin membenamkan diri dengan hal-hal berbau mall atau toko. Termasuk aku. Bukan tidak kesal saat hasrat terhadap benda yang diinginkan tak terpenuhi namun berbentur dengan kebutuhan lain yang lebih urgen. Alasan klasik suami yang cukup ampuh tuk meredam amarahku adalah Hilma, anak kami. Kebutuhan Hilma lebih penting dari kebutuhan lainnya, jadi sebagai orang tua sebaiknya mengalah dulu demi anaknya.
Itu artinya, keinginan kadang berbanding terbalik dengan keadaan. Sebagai orang tua seharusnya belajar untuk mengendalikan diri untuk hal-hal yang ingin dibeli. Boleh saja jika menginginkan baju baru tuk sambut hari raya asal keuangan stabil dan kebutuhan lainnya dapat terpenuhi walau hanya melalui prediksi. Pun tak hanya orang tua, yang masih single atau tak berkeluarga harusnya lebih bisa me-manage keuangan sebagai bentuk pembelajaran saat berkeluarga nanti.
Baju baru seharusnya juga bisa membentuk hati yang baru, ketaatan yang baru karena apa yang tampak dari luar kadang tak sesuai dengan apa yang ada di dalam. Baju baru bisa jadi pelengkap atau reward bagi diri untuk selalu memperbaharui taqwa pada-Nya.
Wallahu A'lamu bis Shawab
Selobanteng, 26 Mei 2019
Baju baru memang selalu berhasil membuat mood-ku berubah. Yang semula kesal, berangsur membaik setelah mendapatkan baju baru. Apalagi jika baju baru yang kupakai memiliki kembaran, biasanya anak tetanggaku juga memakai baju yang sama seperti yang kubeli. Rasanya memiliki saudara kandung walau hanya terlihat memakai baju yang sama. Atau saling membandingkan baju yang sudah dibeli dengan teman lainnya, walau tak ber-brand merk terkenal, namun adalah hal yang menyenangkan ketika baju baru serentak dipakai.
Itu adalah kenangan masa kecilku dulu, menjadikan baju baru seolah mendapat berlian mahal, senangnya bukan kepalang tanpa memikirkan keadaan orang tua yang sering mengalami masalah keuangan. Namun mereka dengan suka rela membelikan apa yang kumau bahkan mereka tak segan merogoh budget untuk membeli beras saat hari raya berlangsung. Entahlah, aku benar-benar tak memikirkan perasaan mereka. Yang kupikirkan adalah aku harus berbaju baru layaknya teman-temanku yang lainnya.
Setelah menikah dan membina rumah tangga, pikiran untuk membeli baju baru tak menggebu seperti dulu, bukan tak ingin memiliki baju baru hanya saja anggaran untuk membelinya harus benar-benar ditekan demi kebutuhan lainnya. Oh Allah... Inikah yang dipikirkan orang tuaku dulu? pikiran ini terbesit begitu saja saat 10 hari terakhir Ramadhan berlalu tanpa membeli baju baru.
Aku bersyukur karena suami selalu mengingatkan, untuk masalah harta lihatlah mereka yang ada di bawahmu, sedang untuk masalah ilmu lihatlah mereka yang ada di atasmu. Selalu beliau katakan bila aku tak bisa menghentikan keinginanku. Karena memang tabiat perempuan yang selalu ingin membenamkan diri dengan hal-hal berbau mall atau toko. Termasuk aku. Bukan tidak kesal saat hasrat terhadap benda yang diinginkan tak terpenuhi namun berbentur dengan kebutuhan lain yang lebih urgen. Alasan klasik suami yang cukup ampuh tuk meredam amarahku adalah Hilma, anak kami. Kebutuhan Hilma lebih penting dari kebutuhan lainnya, jadi sebagai orang tua sebaiknya mengalah dulu demi anaknya.
Itu artinya, keinginan kadang berbanding terbalik dengan keadaan. Sebagai orang tua seharusnya belajar untuk mengendalikan diri untuk hal-hal yang ingin dibeli. Boleh saja jika menginginkan baju baru tuk sambut hari raya asal keuangan stabil dan kebutuhan lainnya dapat terpenuhi walau hanya melalui prediksi. Pun tak hanya orang tua, yang masih single atau tak berkeluarga harusnya lebih bisa me-manage keuangan sebagai bentuk pembelajaran saat berkeluarga nanti.
Baju baru seharusnya juga bisa membentuk hati yang baru, ketaatan yang baru karena apa yang tampak dari luar kadang tak sesuai dengan apa yang ada di dalam. Baju baru bisa jadi pelengkap atau reward bagi diri untuk selalu memperbaharui taqwa pada-Nya.
Wallahu A'lamu bis Shawab
Selobanteng, 26 Mei 2019
#Day 21
#OneDayonePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Image Source: Google image

Keren mbak
BalasHapusALhamdulillah...
BalasHapusApanya yang keren?
Thanks sudah mampir :)